MBG Ada Arsenik dan Racuni Siswa SLB, SPPG di Kota Blitar Di-suspend

MBG Ada Arsenik dan Racuni Siswa SLB, SPPG di Kota Blitar Di-suspend

Fima Purwanti - detikJatim
Jumat, 25 Sep 2026 14:30 WIB
Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin
Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin (Foto: Fima Purwanti/detikJatim)
Blitar -

Salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar disanksi. Hal itu sebagai tindak lanjut usai puluhan siswa SLB dan SMP Swasta mengalami mual hingga muntah, setalah mengkonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG), pada Rabu (16/9).

"Kami kemarin sudah mengecek lebih dalam apa yang menyebabkan itu, dan apa yang kurang bagus. Dan kami udah mitigasi, saya kira dari BGN juga sudah memberikan sanksi ya Sanksinya suspend (pemberhentian operasional sementara) selama 20 hari," kata Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin saat ditemui detikJatim, Jumat (25/9/2026).

Ibbin menyebut peristiwa dugaan keracunan MBG itu akibat kurang ketelitian dan kehati-hatian dalam memproses atau menyajikan makanan tersebut. Katanya, SPPG itu sudah melakukan tugasnya sesuai dengan SOP.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau SOP-nya sih sudah bagus, cuma memang kurang teliti ya mungkin di tingkat proses bahannya. Saya kira ini tidak menjadikan kemudian semua MBG tidak baik. Memang dari ribuan makanan ya yang diproduksi setiap hari, mungkin yang dibagikan ada yang potensial (basi)," terangnya.

ADVERTISEMENT

SPPG di Kota Blitar melayani sebanyak 60 ribu penerima manfaat. Menurutnya, dugaan keracunan kepada puluhan siswa itu masih diambang normal. Namun, pihaknya tetap akan melakukan pengawasan yang menyangkut gizi anak di Kota Blitar.

"Saya kira setiap hari itu kan jumlahnya 60.000, kalau ada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kayak kemarin sekitar puluhan anak itu saya kira masih batas normal ya. Tapi tentunya kami selalu mengawasi, mengevaluasi, dan menekankan hal-hal yang baik masa depan gizi anak-anak di Kota Blitar," katanya.

Ditanya soal SPPG khusus untuk siswa SLB, Ibbin menegaskan SPPG yang tersedia di Kota Blitar sudah berjalan dengan menerapkan SOP yang bagus. Namun, perlu adanya penekanan terkait pemilihan bahan baku hingga penyajian yang lebih berhati - hati. Selain itu, konsistensi SPPG dalam menjaga pelayanan sesuai SOP perlu ditingkatkan.

"Saya kira ini juga salah satu bentuk komitmen tanggung jawab SPPG, mereka harus cermat ya untuk mengantisipasi agar hal-hal yang tidak diinginkan atau tidak meluas ya ke banyak siswa. Saya kira it's okay-lah (tidak perlu SPPG khusus), cuma kami perlu memperketat lagi dan lebih hati-hati lagi agar tidak terjadi seperti itu lagi," tandasnya.

Korwil BGN Kota Blitar, Titik Nur Azizah mengatakan menu makanan yang disiapakan SPPG saat itu yakni nasi putih, kacang kapri, tahu kuning, rolade telur sebagai protein, serta buah melon. Ia mengaku belum dapat memastikan kandungan zat berbahaya dalam makanan itu.

"Kalau kemarin kan ada indikasi adanya zat arsenik yang di dalam makanan. kemungkinan itu dari pestisida yang dari bahan baku. Tapi kami juga belum bisa memastikan karena menunggu hasil laboratorium. (Sampel) dikirim ke Surabaya," jelas Titik.

Apabila ditemukan zat tersebut, Titik menegaskan SPPG tersebut harus melakukan evaluasi secara menyeluruh. Salah satunya yakni dengan memperhatikan kembali terkait SOP dalam mempersiapkan bahan baku. Mulai dari pencucian bahan baku, kebersihan makanan, dan sebagainya.

"Kalau memang itu (zat arsenik) ada di bahan baku karena pestisida, dari SPBG harus memperhatikan SOP untuk persiapan bahan baku. Muntuk pencucian, dan harus ditekankan lagi untuk menjaga kebersihan makanan. Harus dievaluasi," tegas Titik.

Sebelumnya, sembilan siswa SLB Negeri 1 Kota Blitar mengalami mual hingga muntah usai mengkonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Beruntung, para siswa tidak mengalami kondisi serius dan telah dipulangkan dari layanan kesehatan.

Dugaan siswa keracunan MBG itu ramai dibahas di media sosial, seperti di Facebook dan Threads. Dalam video yang beredar, tampak para siswa dibawa ke dalam mobil. Peristiwa itu diduga terjadi pada Rabu (16/9).

Waka Sarpas SLBN 1 Kota Blitar, Yulia saat dikonfirmasi membenarkan adanya siswa yang dilarikan ke Puskesmas Kepanjenkidul tersebut. Ia lantas meluruskan video yang beredar di media sosial.

"Kami meluruskan kejadian yang beredar di medsos itu tidak sepenuhnya benar. Karena memang dari pihak SPPG juga sudah proaktif mengawal kami dari awal, meminta sampel, lalu mendampingi di puskesmas dan di rumah sakit. Dari pihak Polres Blitar Kota juga sudah mendampingi, anak-anak alhamdulillah mendapatkan penanganan yang semestinya," kata Yulia Jumat (18/9/2026).



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads