Arsenik di Dalam Makanan, Bagaimana Bahayanya?

Arsenik di Dalam Makanan, Bagaimana Bahayanya?

Myesha Fatina - detikJatim
Rabu, 23 Sep 2026 17:45 WIB
Ilustrasi MBG.
Ilustrasi MBG. Foto: iStock
Surabaya -

Sebanyak 22 siswa SLB dan SMP swasta di Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, mengalami mual dan muntah setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (17/9/2026). Pemeriksaan terhadap sampel makanan masih dilakukan untuk mengetahui penyebab munculnya gangguan pencernaan tersebut, termasuk dugaan adanya kandungan arsenik.

Puluhan siswa tersebut telah mendapat penanganan medis di puskesmas dan rumah sakit. Seluruh siswa diperbolehkan pulang karena tidak ada yang harus menjalani rawat inap.

Sementara itu, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan makanan tersebut dihentikan sementara operasionalnya hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar dan mendapat rekomendasi dari Dinas Kesehatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dugaan kandungan arsenik dalam makanan pun menjadi perhatian karena zat tersebut dapat berdampak pada kesehatan apabila masuk ke tubuh dalam jumlah tertentu. Lantas, apa itu arsenik dan seberapa berbahaya zat tersebut bagi tubuh?

Apa Itu Arsenik?

Arsenik adalah unsur kimia yang secara alami dapat ditemukan di lingkungan, seperti tanah, air, dan udara. Namun, dalam bentuk tertentu, terutama arsenik anorganik, zat ini dapat bersifat sangat beracun bagi tubuh.

ADVERTISEMENT

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan arsenik sebagai salah satu dari 10 bahan kimia yang menjadi perhatian utama kesehatan masyarakat. Paparan arsenik dalam jangka panjang juga diketahui berkaitan dengan sejumlah gangguan kesehatan, termasuk kanker.

Arsenik berasal dari kerak bumi, yang keberadaannya dikarenakan proses alam maupun aktivitas manusia, seperti kegiatan industri dan penggunaan bahan tertentu dalam pertanian.

Arsenik dapat ditemukan dalam bentuk organik dan anorganik. Keduanya memiliki tingkat toksisitas yang berbeda. Arsenik anorganik, yang dapat ditemukan dalam air dan tanah yang terkontaminasi, memiliki tingkat bahaya lebih tinggi dibandingkan arsenik organik yang umumnya ditemukan pada makanan laut.

Paparan arsenik pada manusia dapat terjadi melalui konsumsi air dan makanan yang terkontaminasi. Selain itu, arsenik juga dapat masuk ke tubuh melalui udara dan asap tembakau.

Bagaimana Arsenik Bisa Masuk ke Makanan?

Salah satu sumber paparan arsenik yang perlu diperhatikan adalah air. Air yang mengandung arsenik dapat digunakan untuk memasak atau mengolah makanan sehingga zat tersebut ikut masuk ke dalam makanan.

Tanaman pangan juga dapat menyerap arsenik dari tanah atau air yang terkontaminasi. WHO menyebut beras sebagai salah satu contoh tanaman yang dapat menyerap arsenik dari air irigasi.

Selain itu, arsenik juga dapat ditemukan secara alami dalam sejumlah makanan, termasuk ikan, kerang, daging, unggas, produk susu, dan sereal. Namun, arsenik pada makanan laut umumnya berada dalam bentuk organik yang lebih rendah toksisitasnya dibandingkan arsenik anorganik.

Karena itu, keberadaan arsenik dalam suatu bahan pangan tidak serta-merta berarti makanan tersebut berbahaya. Tingkat bahayanya bergantung pada jenis arsenik, konsentrasi, serta jumlah dan lamanya paparan.

Apa Dampak Arsen bagi Kesehatan?

Dampak paparan arsenik bergantung pada jumlah yang masuk ke tubuh dan lamanya paparan. Pada paparan arsenik anorganik dalam jumlah tinggi dalam waktu singkat, gejala yang dapat muncul antara lain muntah, sakit perut, dan diare. Dalam kondisi yang lebih berat, keracunan dapat menyebabkan mati rasa dan kesemutan pada anggota tubuh, kram otot, hingga kematian.

Sementara itu, paparan dalam jangka panjang dapat menyebabkan perubahan pigmentasi kulit, lesi kulit, serta penebalan kulit pada telapak tangan dan kaki. Kondisi tersebut dapat muncul setelah paparan selama bertahun-tahun.

Paparan arsenik anorganik dalam jangka panjang juga telah dikaitkan dengan kanker kulit, paru-paru, dan kandung kemih. WHO menyebut arsen dan senyawanya sebagai karsinogen bagi manusia.

Selain itu, paparan arsenik juga dikaitkan dengan gangguan pada sistem kardiovaskular dan paru-paru, serta sejumlah dampak terhadap perkembangan dan kesehatan anak.

Berapa Batas Arsenik yang Aman?

WHO menetapkan nilai pedoman sementara untuk arsenik dalam air minum sebesar 10 mikrogram per liter. Nilai tersebut digunakan sebagai acuan karena arsenik sulit dihilangkan dari air secara praktis.

WHO juga menekankan bahwa konsentrasi arsenik sebaiknya dijaga serendah mungkin. Namun, batas arsenik dalam air minum tidak dapat secara langsung digunakan untuk menentukan apakah suatu makanan aman atau tidak.

Dalam kasus dugaan kandungan arsenik pada makanan, keamanan pangan perlu ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, termasuk jenis arsenik yang ditemukan dan konsentrasinya.

Karena itu, dugaan adanya arsenik dalam menu MBG di Blitar perlu dibedakan dari hasil pemeriksaan yang telah memastikan kadar arsenik dalam makanan tersebut.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads