Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar konferensi pers merespons simpang siur isu kepemimpinan serta kelanjutan aksi penyegelan di lingkungan kampus, Rabu (23/9/2026).
Dalam konferensi pers tersebut, DEMA UINSA menyinggung kabar dari jajaran Guru Besar yang menyebut Rektor Prof. Akhmad Muzakki telah menyatakan pengunduran diri di hadapan Sekjen Kemenag RI. Mahasiswa secara tegas menolak mempercayai klaim lisan tersebut.
Baca juga: Rektor UINSA Muzakki Mengundurkan Diri |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama belum ada bukti hitam di atas putih berupa SK atau pernyataan tertulis resmi dari Kementerian Agama, kami menganggap kabar mundurnya Rektor itu belum sah," tegas Wakil Presiden BEM Universitas, Fadlurrakhman Fazle Purwardana alias Ale saat menyampaikan hasil konpres.
Terkait aksi penyegelan kampus, Ale memperjelas bahwa penutupan hanya berlaku khusus untuk kegiatan pembelajaran dan perkuliahan offline (tatap muka). Sementara untuk kegiatan organisasi mahasiswa (ORMAWA) serta pelayanan staf dan petugas kampus dipastikan tetap dibuka dan berjalan normal.
Penyegelan perkuliahan offline ini baru akan dibuka secara bersyarat apabila Kemenag RI memberikan jawaban dan jaminan tertulis atas tuntutan mahasiswa dalam tenggat waktu tiga hari. Jika diabaikan, DEMA UINSA mengancam siap menggelar aksi susulan .
Sebagai langkah pergerakan resmi, DEMA UINSA telah melayangkan surat permohonan audiensi dan dokumen bertajuk 'Tuntutan Mahasiswa 1+7' kepada Menteri Agama RI di Jakarta. Tuntutan utama mereka adalah pengunduran diri atau pemberhentian Rektor secara sah, diiringi perbaikan sistem UKT, transparansi kampus, hingga pencabutan kebijakan jam malam.
