Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pegunungan Kawi terus ditangani tim gabungan melalui jalur darat maupun udara. Luas area yang terbakar disebut telah mencapai sekitar 1.500 hektare.
Administratur Perum Perhutani KPH Malang Kelik Djatmiko mengatakan penanganan karhutla terkendala kondisi medan pegunungan yang terjal serta angin kencang. Kondisi tersebut membuat petugas kesulitan mendekati titik api.
"Kendala utamanya kondisi medan yang sulit dijangkau sama angin yang bertiup kencang," jelas Kelik kepada detikJatim, Senin (21/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kelik, angin kencang membuat kobaran api dapat melompat dan menyebar dengan cepat. Kondisi itu juga meningkatkan risiko keselamatan bagi petugas yang melakukan pemadaman melalui jalur darat.
Tak hanya pemadaman darat, kondisi angin juga menghambat upaya pemadaman melalui udara menggunakan helikopter water bombing. Penerbangan bahkan harus dihentikan apabila kecepatan angin melebihi batas aman.
"Kalau angin kencang, pemadaman udara juga terhambat dan tidak optimal. Bahkan penerbangan dilarang jika angin terlalu kencang karena sangat membahayakan keselamatan," paparnya.
Meski menghadapi kendala tersebut, tim gabungan tetap melakukan pemantauan dan penyisiran untuk memastikan api tidak meluas. Puluhan personel disiagakan di sejumlah titik strategis untuk memantau pergerakan api dan sisa bara.
Kelik memastikan titik-titik api yang masih terdeteksi berada di kawasan hutan puncak dan lereng terjal. Lokasinya disebut masih jauh dari permukiman warga.
"Untuk lokasi kebakaran sampai saat ini dapat kami pastikan masih jauh dari pemukiman warga," tegas Kelik.
Ia mengimbau warga yang tinggal di sekitar lereng Pegunungan Kawi tetap tenang namun waspada. Posko-posko pemantauan juga disebar di sejumlah wilayah untuk memastikan kobaran api tidak melewati batas aman kawasan hutan.
"Kami terus siaga di lapangan dan memastikan seluruh langkah pencegahan dilakukan agar kobaran api tidak sampai mengancam kawasan permukiman," tandasnya.
Hingga Senin (21/9/2026) siang, titik api masih terpantau di kawasan Pitrang, Kabupaten Blitar, dan Batu Tulis, Kabupaten Malang. Sementara itu, kawasan Gunung Buthak dan Kawinajang dipastikan sudah tidak terdapat titik api.
