Perbincangan soal sejumlah kucing berkostum yang open donasi di Jalan Tunjungan, Surabaya, ramai di media sosial. Isu ini bermula dari unggahan pengguna Threads @ekarahmafh yang membagikan pengalamannya melihat beberapa kucing tertidur bersama dan tampak lemas di kawasan tersebut.
Unggahan itu kemudian mendapat beragam tanggapan dari warganet. Sejumlah pengguna mempertanyakan kondisi kucing yang terlihat pasif di tengah kawasan yang ramai, sementara ada yang mengaku telah melaporkan persoalan tersebut kepada pihak berwenang dan komunitas peduli hewan.
Salah satunya pengguna Threads @rain_without_air. Dalam kolom komentar unggahan tersebut, ia menyebut telah melaporkan persoalan itu ke Polrestabes Surabaya. Ia juga mengaku telah menyampaikan informasi dan bukti kepada Animal Lawyer Indonesia, namun belum mendapat tanggapan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, pemilik kucing melalui akun @bosbibi__ memberikan klarifikasi. Ia membantah kucing-kucing tersebut diberikan obat tidur.
Menurutnya, kucing-kucing yang terlihat tidur bersama memang sedang berada pada waktu istirahat. Ia juga menyebut kucing-kucing tersebut telah terbiasa berada di Jalan Tunjungan sejak kecil sehingga merasa aman di lingkungan tersebut.
"Halo kak @ekarahmahf makasih udah khawatir sama anak-anak. Aku bapaknya bibi dkk yang di foto itu. Yang tidur bareng itu emang jam off mereka kak jam 8-an, kalau jam aktif mereka malah resek lompat sana sini. Bukan obat tidur kak, mereka emang udah terbiasa di Tunjungan dari kecil jadi ngerasa aman makanya bisa tidur pules bareng. Maaf kalau bikin khawatir, besok kalau ke Tunjungan lagi mampir ya kak lihat mereka pas mode aktif," ucap Bimo dalam komentarnya.
Terlepas dari perdebatan mengenai penyebab kucing terlihat pasif, cat lovers dari My Cats Malang, Fita menilai, kondisi dan kesejahteraan hewan tetap perlu menjadi perhatian.
"Kita juga tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa kucing-kucing tersebut diberi obat tidur atau obat penenang. Untuk memastikan hal tersebut, tentunya dibutuhkan pemeriksaan langsung oleh dokter hewan," kata Fita.
Menurut Fita, kucing memang termasuk hewan yang dapat tidur dalam waktu cukup lama. Namun, kondisi kucing yang terlihat sangat pasif di tengah kawasan ramai tidak bisa langsung digunakan untuk menyimpulkan penyebab tertentu.
Ia mengatakan, kondisi kucing yang tampak tenang atau lemas dapat dipengaruhi berbagai faktor. Mulai dari kelelahan, stres, kondisi kesehatan tertentu, lingkungan, hingga kemungkinan adanya zat atau obat tertentu.
Karena itu, pemeriksaan dokter hewan dinilai menjadi cara yang lebih objektif untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
"Yang paling penting bagi saya bukan sekadar mencari siapa yang salah, tetapi memastikan kondisi dan kesejahteraan kucing-kucing tersebut," ujarnya.
Fita juga menyoroti aktivitas membawa hewan ke ruang publik, terlebih apabila hewan tersebut berinteraksi dengan pengunjung atau menjadi bagian dari aktivitas yang menghasilkan donasi.
Menurutnya, pemilik atau pengelola tetap memiliki tanggung jawab untuk memastikan hewan tidak mengalami stres, kelelahan, sakit, maupun perlakuan yang membahayakan kesehatannya.
"Bagi saya kucing bukan sekadar objek hiburan atau objek foto. Mereka adalah makhluk hidup yang memiliki kebutuhan untuk beristirahat, merasa aman, bebas dari rasa sakit dan ketidaknyamanan, serta mendapatkan perlakuan yang layak," tuturnya.
Ia berharap persoalan tersebut tidak berhenti sebagai perdebatan di media sosial. Menurutnya, pemeriksaan langsung terhadap kondisi kucing dapat membantu memastikan apakah hewan-hewan tersebut dalam kondisi sehat atau membutuhkan penanganan.
"Justru viralnya kasus ini bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap animal welfare dan memastikan kondisi kucing-kucing tersebut benar-benar baik," pungkasnya.
