- Apa Itu Sholat Istisqa?
- Niat Sholat Istisqa Niat Sholat Istisqa untuk Makmum Niat Sholat Istisqa untuk Imam
- Tata Cara Sholat istisqa 1. Sholat Dua Rakaat 2. Takbir Tujuh Kali pada Rakaat Pertama 3. Takbir Lima Kali pada Rakaat Kedua 4. Dilanjutkan dengan Khutbah 5. Membaca Istighfar Sebelum Khutbah 6. Memperbanyak Doa Memohon Hujan 7. Membalik Selendang
- Hadis tentang Sholat istisqa
- Kapan Sholat Istisqa Dilaksanakan?
Sholat istisqa merupakan sholat sunah yang dikerjakan ketika masyarakat mengalami kekeringan dan membutuhkan turunnya hujan. Ibadah ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar umat Islam untuk memohon pertolongan Allah SWT, sekaligus memperbanyak istighfar dan doa.
Lantas, bagaimana tata cara sholat istisqa, bacaan niat, hingga doa yang dianjurkan? Berikut panduan sholat istisqa yang dirangkum dari penjelasan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Agama (Kemenag), dan Nahdlatul Ulama (NU) Online.
Apa Itu Sholat Istisqa?
Secara bahasa, istisqa berarti meminta atau memohon air. Sholat istisqa merupakan sholat sunah yang dilakukan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan ketika manusia membutuhkannya. MUI menjelaskan sholat istisqa hukumnya sunah muakkadah, yakni sholat sunah yang sangat dianjurkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibadah ini tidak hanya menjadi sarana memohon hujan, tetapi untuk memperbanyak istighfar, bertaubat, dan menyadari ketergantungan manusia terhadap rahmat Allah SWT. Kemenag menjelaskan sholat istisqa sebagai sholat sunah muakkadah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan.
Niat Sholat Istisqa
Sebelum melaksanakan sholat istisqa, umat Islam dianjurkan membaca niat. Berikut salah satu lafal niat sholat istisqa yang dapat dibaca makmum maupun imam dirangkum dari NU Online dan MUI.
Niat Sholat Istisqa untuk Makmum
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الاِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى
Arab Latin: Ushallī sunnatal istisqā'i rak'ataini ma'mūman lillāhi ta'ālā.
Artinya: Aku menyengaja shalat sunah minta hujan dua rakaat sebagai makmum karena Allah SWT.
Niat Sholat Istisqa untuk Imam
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا/إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Arab Latin: Ushalli sunnatal istisqai rak'ataini imaman lillahi taala.
Artinya: Aku berniat shalat sunah minta hujan dua rakaat sebagai imam karena Allah ta'ala.
Tata Cara Sholat istisqa
Secara umum, sholat istisqa dikerjakan sebanyak dua rakaat. Tata caranya menyerupai sholat Id, terutama dalam jumlah takbir tambahan pada masing-masing rakaat. Berikut tata cara sholat istisqa.
1. Sholat Dua Rakaat
Sholat istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat dan dianjurkan dilakukan secara berjemaah. Sholat ini dilaksanakan tanpa didahului azan dan iqamat. Bacaan Al-Fatihah dan surat setelahnya dianjurkan dibaca secara jahr atau dengan suara yang dikeraskan sebagaimana sholat Id.
2. Takbir Tujuh Kali pada Rakaat Pertama
Setelah takbiratul ihram dan membaca doa iftitah, dilakukan tujuh kali takbir tambahan sebelum membaca surat Al-Fatihah. Kemudian dianjurkan membaca surat Qaf atau Al-A'la.
3. Takbir Lima Kali pada Rakaat Kedua
Pada rakaat kedua, setelah bangkit dari sujud, dilakukan lima kali takbir tambahan sebelum membaca surat Al-Fatihah. Lalu, membaca surat Al-Qamar atau Al-Ghasyiyah. Setelah itu, rangkaian sholat dilanjutkan sebagaimana sholat sunah dua rakaat hingga salam.
4. Dilanjutkan dengan Khutbah
Setelah sholat selesai, imam atau khatib menyampaikan khutbah istisqa. Khutbah dapat dilakukan sebelum atau sesudah sholat, tetapi khutbah setelah sholat dinilai lebih utama. Khutbah dilakukan dua kali dengan satu kali duduk di antara keduanya.
5. Membaca Istighfar Sebelum Khutbah
Salah satu perbedaan khutbah istisqa dengan sholat Id adalah pembukanya. Khutbah istisqa diawali istighfar sebagai pengganti takbir. Sebelum khutbah pertama, khatib dianjurkan membaca istighfar sebanyak sembilan kali. Kemudian sebelum khutbah kedua, istighfar dibaca sebanyak tujuh kali. Lafal istighfar sebagai berikut.
أَسْتَغفِرُ اللهَ العَظِيْمِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Arab Latin: Astaghfirullahal 'azhim, la ilaha illa huwal hayyul qayyum, wa atubu ilaih.
Artinya: Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung. Tiada Tuhan selain Dia Yang Mahahidup dan Maha Berdiri Sendiri. Aku bertobat kepada-Nya.
6. Memperbanyak Doa Memohon Hujan
Dalam khutbah istisqa, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa agar Allah SWT menurunkan hujan dan mengangkat kesulitan akibat kekeringan. Salah satu doa memohon hujan yang bisa dibaca sebagai berikut.
اللَّهُمَّ سُقْيَا رَحْمَةٍ وَلَا سُقْيَا عَذَابٍ وَلَا مَحْقٍ وَلَا بَلَاءٍ وَلَا هَدْمٍ. اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا هَنِيئًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا غَدَقًا مُجَلِّلًا سَحًّا طَبَقًا دَائِمًا. اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ مِنَ الْجُهْدِ وَالْجُوْعِ وَالضَّنْكِ مَا لَا نَشْكُوْ إِلَّا إِلَيْكَ. اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا
Arab Latin: Allahumma suqya rahmatin wa la suqya 'adzabin wa la mahqin wa la bala'in wa la hadmin. Allahumma asqina ghaitsan hani'an mari'an mari'an ghadaqan mujallalan sahhan thabaqan da'iman. Allahumma asqinal ghaitsa wa la taj'alna minal qanithin. Allahumma inna bil 'ibadi wal biladi minal jahdi wal ju'i wadh-dhanki ma la nasyku illa ilaika. Allahumma anbit lanaz-zar'a wa adir lanadh-dhar'a wa anzil 'alaina min barakatis-sama'i wa anbit lana min barakatil ardhi, waksyif 'anna minal bala'i ma la yaksyifuhu ghairuka. Allahumma inna nastaghfiruka innaka kunta ghaffaran, fa arsilis-sama'a 'alaina midraran.
Artinya: Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan sebagai rahmat, bukan hujan yang mendatangkan azab, kehancuran, bencana, ataupun kerusakan. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang baik, menyegarkan, menyuburkan, lebat, merata, deras, melimpah, dan terus-menerus. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.
Ya Allah, sungguh para hamba dan negeri-negeri sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kesempitan yang tidak kami adukan kecuali hanya kepada-Mu. Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman bagi kami, limpahkanlah susu dari hewan ternak kami, turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit, tumbuhkanlah untuk kami keberkahan dari bumi, dan singkirkanlah dari kami berbagai bencana yang tidak dapat disingkirkan oleh siapa pun selain Engkau. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sungguh, Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah kepada kami hujan dari langit dengan deras.
7. Membalik Selendang
Dalam pelaksanaan sholat istisqa terdapat amalan membalik posisi selendang atau kain yang dikenakan. Amalan ini dilakukan terutama sekitar sepertiga bagian khutbah kedua ketika khatib menghadap kiblat. Jemaah laki-laki yang hadir juga dapat melakukannya.
Amalan tersebut merupakan bentuk tafa'ul, yakni harapan agar keadaan berubah dari kesulitan menuju kelapangan. Perubahan posisi selendang menjadi simbol perubahan keadaan dari kekeringan menuju turunnya hujan.
Hadis tentang Sholat istisqa
Pelaksanaan sholat Istisqa memiliki dasar dari praktik Rasulullah SAW. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW disebut pernah keluar untuk memohon hujan, kemudian melaksanakan sholat dua rakaat tanpa azan dan iqamat.
Setelah itu, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah, berdoa kepada Allah SWT, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan membalik selendangnya. Hadis tersebut berbunyi:
خرج النبي صلى الله عليه وسلم يوماً يستسقي فصلى بنا ركعتين بلا أذان ولا إقامة ثم خطبنا ودعا الله عز وجل وحول وجهه نحو القبلة رافعاً يديه ثم قلب ردائه فجعل الأيمن الأيسر والأيسر الأيمن
Artinya: Nabi Muhammad Saw keluar rumah pada suatu hari untuk memohon diturunkan hujan, lalu beliau salat dua rekaat bersama kita tanpa azdan dan iqamat, kemudian beliau berdiri untuk khutbah dan memanjatkan doa kepada Allah Swt dan seketika itu beliau mengalihkan wajahnya (dari semula menghadap ke arah hadirin) menghadap ke kiblat serta mengangkat kedua tangannya, serta membalikkan selendang sorbannya, dari pundak kanan ke pundak kiri, begitupun ujung sorbannya (HR Imam Ahmad)
Kapan Sholat Istisqa Dilaksanakan?
Salat istisqa dilaksanakan pada siang hari. Hal ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan dari Aisyah RA yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mengerjakan sholat istisqa setelah matahari mulai terbit.
خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بدا حاجب الشمس
Waktu pelaksanaannya menyerupai waktu dimulainya sholat Idul Fitri atau Idul Adha. Para ulama berpendapat sholat istisqa dapat dikerjakan hingga sore hari, selama tidak bertepatan dengan waktu yang dilarang untuk melaksanakan sholat, yakni saat matahari tepat berada di atas kepala dan ketika matahari akan terbenam.
Sementara itu, MUI menjelaskan sholat istisqa termasuk sholat yang memiliki sebab tertentu (dzatu sabab). Mengutip keterangan Syekh Nawawi al-Bantani, MUI menyebut sholat ini dapat dilaksanakan kapan saja, baik siang maupun malam, selama ada sebab berupa kebutuhan terhadap hujan.
Dengan demikian, terdapat perbedaan penjelasan mengenai waktu pelaksanaan sholat istisqa. Pelaksanaannya dapat mengikuti pendapat yang dijadikan rujukan oleh jamaah atau lembaga yang menyelenggarakannya.
