Khofifah Optimalkan OMC untuk Atasi Kekeringan di Lamongan

Khofifah Optimalkan OMC untuk Atasi Kekeringan di Lamongan

Eko Sudjarwo - detikJatim
Jumat, 18 Sep 2026 18:45 WIB
Gubernur Khofifah salurkan air bersih ke warga Lamongan yang mengalami kekeringan
Gubernur Khofifah salurkan air bersih ke warga Lamongan yang mengalami kekeringan. (Foto: Istimewa)
Lamongan -

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Lamongan. OMC dilakukan sejak awal September 2026 dengan menyasar wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan.

Khofifah mengatakan, hingga saat ini terdapat 24 kabupaten/kota di Jawa Timur yang telah menetapkan status kedaruratan akibat kekeringan. Menurutnya, Pemprov Jatim hadir untuk memperkuat penanganan yang telah dilakukan pemerintah kabupaten dan kota.

"Sebetulnya kehadiran Pemprov mensubstitusi, melapisi yang dilakukan para bupati dan wali kota. Yang sudah dilakukan Pak Bupati Lamongan, kita memberikan pelapisan," kata Khofifah saat menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Dusun Bulu, Desa/Kecamatan Mantup, Jumat (18/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khofifah menyebut, pelaksanaan OMC telah menghasilkan hujan ringan hingga sedang di sejumlah titik. Namun, menurutnya, upaya tersebut tidak dapat menjadi satu-satunya solusi untuk mengatasi kekeringan.

"Prinsipnya kita harus berikhtiar bagaimana solusi strategis. Apakah sumur-sumur bor yang bisa kita lakukan, kita akan maksimalkan ikhtiar itu," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Pemprov Jatim, lanjut Khofifah, juga melakukan identifikasi terhadap sumber-sumber air yang berada di sekitar wilayah terdampak. Sumber air yang ditemukan nantinya berpotensi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.

Namun, pencarian sumber air baru tidak selalu mudah. Khofifah mencontohkan terdapat lokasi pengeboran yang telah mencapai kedalaman sekitar 200 meter, tetapi belum menemukan sumber air karena kondisi batuan. Sementara di lokasi lainnya, sumber air dapat ditemukan pada kedalaman sekitar 90 meter.

"Kita harus mencari sumber-sumber air terdekat, kemudian bagaimana sumber itu bisa dialirkan ke titik-titik yang membutuhkan," jelasnya.

Bantuan air bersih oleh Pemprov menjadi bagian dari upaya Pemprov Jawa Timur memperkuat penanganan kekeringan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Lamongan. Bantuan yang disalurkan antara lain 70 jerigen berkapasitas 15 liter, 150 tandon berkapasitas 1.200 liter, serta bantuan air bersih senilai Rp 61.419.700.

Selain mendistribusikan air bersih dan bantuan kebutuhan masyarakat, Pemprov Jatim juga menjalankan OMC sejak 3 September 2026. Operasi dilakukan ketika terdapat potensi awan yang memungkinkan untuk dilakukan intervensi.

Sementara itu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan, dampak kekeringan saat ini dirasakan masyarakat di 12 kecamatan. Terdapat sekitar 42 dusun yang membutuhkan pasokan air bersih.

"Di 12 kecamatan, ada sekitar 42 dusun. Hari ini kita sudah banyak menyalurkan, hampir tiap hari, baik dari pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi," kata Yuhronur.

Bupati yang akrab disapa Pak Yes itu mengapresiasi dukungan Pemprov Jatim, termasuk kehadiran langsung Gubernur Khofifah untuk menyerahkan bantuan kepada masyarakat terdampak. Menurut Yuhronur, penanganan kekeringan tidak cukup hanya dilakukan melalui distribusi air bersih. Pemerintah daerah juga akan menindaklanjuti upaya pencarian sumber air baru sebagaimana disampaikan Gubernur Jatim.

"Ibu juga memberikan beberapa solusi, termasuk mencari sumber-sumber baru. Sehingga nanti wilayah yang ada di sini bisa memiliki sumber baru lagi dan di musim kemarau seperti ini masih ada air di dalamnya," ujarnya.

Pemkab Lamongan selanjutnya akan berkoordinasi dengan Pemprov Jatim untuk memperkuat distribusi air bersih sekaligus mengembangkan sumber air baru di wilayah terdampak. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang sehingga masyarakat di wilayah rawan kekeringan tidak sepenuhnya bergantung pada distribusi air bersih setiap kali musim kemarau.



(auh/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads