5 Biang Kerok Kemacetan Pelabuhan Ketapang Menurut Pengamat

5 Biang Kerok Kemacetan Pelabuhan Ketapang Menurut Pengamat

Mira Rachmalia - detikJatim
Kamis, 17 Sep 2026 18:30 WIB
Gambar udara dermaga LCM di Pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi yang tengah alami kerusakan.
Gambar udara dermaga LCM di Pelabuhan ASDP Ketapang Banyuwangi yang tengah alami kerusakan. (Foto: Eka Rimawati/detikJatim)
Surabaya -

Kemacetan panjang menuju Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Banyuwangi, kerap terjadi. Persoalan tersebut tak hanya disebabkan lonjakan kendaraan, tetapi juga kapasitas dermaga, cuaca, proses bongkar muat, hingga antrean truk yang meluber ke jalan nasional.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, kemacetan di Ketapang merupakan akumulasi berbagai persoalan teknis, operasional, dan kondisi alam.

"Kemacetan panjang di Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Banyuwangi, merupakan dampak dari akumulasi masalah teknis, operasional, hingga kendala alam yang saling terkait," kata Djoko kepada detikJatim, Kamis (17/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Djoko, salah satu persoalan utama adalah kapasitas dermaga yang terbatas. Jumlah dan kapasitas dermaga yang beroperasi tidak selalu seimbang dengan volume kendaraan yang mengantre.

Gangguan teknis atau perawatan salah satu dermaga juga dapat membuat kapasitas pelayanan turun tajam.

ADVERTISEMENT

"Masalah utama di Ketapang sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya armada armada armada penyeberangan, melainkan kapasitas dan daya tampung dermaga yang terbatas," ujarnya.

Kondisi cuaca di Selat Bali turut memengaruhi kelancaran penyeberangan. Gelombang tinggi, angin kencang, dan arus kuat dapat memperlambat proses kapal bersandar, bahkan menyebabkan penutupan sementara.

"Penutupan beberapa jam saja berimbas pada penumpukan kendaraan yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk kembali pulih normal," imbuh Djoko.

Kemacetan juga semakin parah ketika volume kendaraan melonjak saat libur panjang, akhir pekan, atau musim mudik. Truk logistik menjadi salah satu kendaraan yang mendominasi antrean menuju pelabuhan.

Menurut Djoko, persoalan semakin kompleks karena belum optimalnya buffer zone atau area penampungan kendaraan sebelum masuk pelabuhan.

"Jalur arteri utama Pantura Banyuwangi yang mengarah ke pelabuhan belum memiliki buffer zone (kantong parkir darurat) atau sistem kantong penampungan (holding area) yang ideal," jelasnya.

Akibatnya, antrean kendaraan dapat meluber ke jalan nasional dan mengganggu lalu lintas masyarakat yang tidak menuju pelabuhan. Dampaknya bahkan dapat memicu kemacetan ekor di jalur Pantura Situbondo-Banyuwangi.

Djoko menilai persoalan Ketapang juga harus dilihat bersama dengan kondisi Pelabuhan Gilimanuk di Bali. Gangguan di salah satu sisi dapat berdampak pada sisi lainnya sehingga diperlukan koordinasi pengelolaan penyeberangan secara berimbang.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads