Dosen UINSA Tolak Muzakki Jadi Rektor Lagi: Mundur!

Dosen UINSA Tolak Muzakki Jadi Rektor Lagi: Mundur!

Esti Widiyana - detikJatim
Kamis, 17 Sep 2026 15:45 WIB
Dosen hukum UINSA, Miftakhur Rokhman Habibi
Dosen hukum UINSA, Miftakhur Rokhman Habibi. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Gelombang penolakan terhadap Prof. Akh. Muzakki untuk kembali menjadi Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya terus bergulir. Tak hanya mahasiswa, sejumlah dosen juga menyuarakan penolakan dan meminta Muzakki mundur.

Salah satu dosen hukum UINSA, Miftakhur Rokhman Habibi dengan tegas meminta Muzakki mundur dari rektor periode kedua. Bukan tanpa alasan, banyak catatan yang membuat Muzakki harus melepaskan jabatannya.

"Aspirasi dari rekan-rekan hampir semua fakultas menolak (Muzakki kembali menjadi rektor)," kata Mifta kepada wartawan di depan Gedung Rektorat UINSA, Kamis (17/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan catatannya dan dosen lain, selama kepemimpinan Muzakki, banyak ketidakharmonisan yang diciptakan. Seperti dekan yang diberhentikan mendadak dan menimbulkan kegaduhan, hingga banyak tekanan dialami tenaga pendidik.

Selain itu, selama periode sebelumnya, Mifta menyebut Muzakki banyak dilaporkan LSM, laporan pungli, penyalahgunaan wewenang, hingga ada kasus yang sudah dilimpahkan ke Kejari. Hal ini membuat keresahan, baik dosen maupun mahasiswa.

ADVERTISEMENT

"Dan bahkan ada yang sudah melaporkan ke KPK. Kalau tetap dilantik dan dipertahankan, maka UINSA akan mengalami kerusakan moral karena satu oknum yang dipertahankan oleh Menag," ujarnya.

Selama dua hari terakhir, ribuan mahasiswa menggelar aksi di lingkungan kampus UINSA. Bagi Mifta, aksi tersebut merupakan permulaan. Jika terus berlanjut, menurutnya, aksi dapat berdampak pada aktivitas kampus secara keseluruhan.

"Jangan sampai malah dimundurkan karena tersangka. Jadi harus mundur. Kenapa harus mundur? Emang tidak ada calon yang lain yang lebih layak daripada Prof Akhmad Muzakki ini. Harusnya objektif dan transparan," tegasnya.

"Yang dirugikan mahasiswa dan dosen. Jangan sampai kepentingan satu individu mengorbankan banyak orang. Jadi, mundurlah legowo untuk mundur daripada dimundurkan. Daripada disegel sama mahasiswa kan memalukan itu. Disegel mahasiswa diduduki selama berbulan-bulan nanti bisa gelombang lebih besar nanti," pungkasnya.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads