Lamongan Optimis Bisa Kejar Target Produksi Garam 20 Ribu Ton

Lamongan Optimis Bisa Kejar Target Produksi Garam 20 Ribu Ton

Eko Sudjarwo - detikJatim
Rabu, 16 Sep 2026 17:15 WIB
Petambak garam di Lamongan
Petambak garam di Lamongan/Foto: Eko Sudjarwo/detikJatim
Lamongan -

Produksi garam di Lamongan hingga Agustus 2026 tercatat mencapai 1.317,18 ton. Pemkab Lamongan optimis, produksi akan terus meningkat karena memasuki periode puncak produksi pada triwulan IV, terutama Oktober dan November.

Tahun ini, produksi garam Lamongan ditargetkan mencapai 20.000 ton. Musim produksi garam di wilayah tersebut berlangsung relatif singkat, sekitar lima bulan, dengan periode produksi utama berlangsung mulai Agustus hingga Desember. Sementara, Juli biasanya dimanfaatkan para petambak untuk mempersiapkan lahan tambak sebelum memasuki musim produksi.

Kepala Dinas Perikanan Lamongan, Joko Nursiyanto mengatakan, Oktober dan November menjadi periode penting untuk mendongkrak produksi garam. Pada dua bulan tersebut, kondisi produksi biasanya lebih optimal sehingga capaian produksi diharapkan meningkat signifikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Produksi garam memang memiliki musim yang relatif singkat. Mulai Agustus hingga Desember, dengan puncak produksi biasanya terjadi pada triwulan IV, terutama Oktober dan November. Karena itu, kami optimistis produksi akan terus meningkat seiring kondisi produksi yang semakin optimal," kata Joko saat ditemui di Kantor Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan, Rabu (16/9/2026).

ADVERTISEMENT

Sentra produksi garam Lamongan pada 2026 berada di Kecamatan Brondong. Sejumlah desa yang menjadi sentra produksi yakni Sedayulawas, Lohgung, Labuhan, Brengkok, dan Sidomukti.

Total terdapat 293 petambak yang tergabung dalam 26 Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR). Mereka mengelola lahan tambak garam dengan luas keseluruhan mencapai 217,33 hektare.

Selain produksi, harga garam juga mengalami peningkatan. Pada September 2026, harga garam tercatat sekitar Rp 1.500 per kilogram, naik dibandingkan Agustus yang berada di kisaran Rp 1.000 per kilogram.

Joko mengatakan, fluktuasi harga masih menjadi salah satu dinamika yang dihadapi petambak. Di sisi lain, produksi garam juga menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kerusakan sarana dan prasarana produksi, anomali cuaca, hingga keterbatasan regenerasi petambak.

"Karena itu, kami terus melakukan pembinaan dan pelatihan sekaligus memberikan dukungan sarana dan prasarana produksi kepada petambak," ujarnya.

Dinas Perikanan Lamongan juga melakukan sejumlah upaya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas garam rakyat. Di antaranya melalui sosialisasi perizinan pemanfaatan ekstraksi garam, pembinaan peningkatan kualitas produksi, serta fasilitasi sarana dan prasarana produksi.

Pada 2026, Pemkab Lamongan memberikan bantuan 40 gerobak sorong dan 40 pasang sepatu boots kepada petambak garam. Selain itu, sebanyak 28 roll geomembran difasilitasi untuk Desa Brengkok, Kecamatan Brondong. Bantuan geomembran tersebut merupakan dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang berasal dari program tahun 2025.

Joko menegaskan, pembinaan serta dukungan sarana produksi akan terus dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan usaha garam rakyat di Lamongan.

"Kami terus memberikan pembinaan, pelatihan, serta dukungan sarana dan prasarana produksi kepada petambak. Harapannya, produktivitas dan kualitas garam Lamongan semakin baik, sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan petambak," pungkasnya.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads