Kebakaran Gunung di Ponorogo Nyaris Menyambar Permukiman Warga

Kebakaran Gunung di Ponorogo Nyaris Menyambar Permukiman Warga

Charolin Pebrianti - detikJatim
Rabu, 16 Sep 2026 16:45 WIB
Kebakaran hutan di Slahung Ponorogo
Karhutla di Ponorogo. (Foto: dok. Charolin Pebrianti/detikJatim)
Ponorogo -

Kebakaran hutan melanda kawasan Gunung Pringgitan, Desa Kambeng, Kecamatan Slahung, Ponorogo. Kobaran api sempat mendekati permukiman warga hingga berjarak hanya sekitar 10 meter.

Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo Masun mengatakan kebakaran di Gunung Pringgitan mulai terdeteksi pada Senin (14/9/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, laporan resmi mengenai kejadian tersebut baru diterima BPBD pada Selasa (15/9/2026).

"Kalau untuk Pringgitan, Kambeng itu memang laporan ke kami di tanggal 15, tapi kejadian kebakaran mulai sejak tanggal 14 hari Senin sekitar jam 10.00 pagi itu terdeteksi mulai kebakaran," kata Masun, Rabu (16/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, kobaran api yang berada di lereng bawah dan mendekati rumah penduduk telah berhasil dipadamkan. Jarak titik api dengan permukiman warga saat itu diperkirakan hanya sekitar 10 meter.

"Yang mendekati rumah penduduk kurang lebih 10 meter itu sudah padam. Tetapi yang di atas masih ada kepulan asap. Jadi dimungkinkan mungkin masih ada kebakaran di puncak," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Masun menyebut total lahan yang terbakar di kawasan Kambeng mencapai sekitar 5,8 hektare. Luasan tersebut terdiri dari lahan milik warga dan kawasan Perhutani.

"Di total yang lahan di Kambeng itu ada kurang lebih 4 hektare yang terbakar. Kemudian yang luasan kawasan itu kurang lebih 1,8 hektare," ujarnya.

Meski api di area bawah telah dipastikan padam, BPBD masih memantau kepulan asap yang terlihat dari bagian puncak Gunung Pringgitan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran berpotensi kembali meluas apabila dipengaruhi angin dan kondisi vegetasi kering.

Selain Gunung Pringgitan, kebakaran juga terdeteksi di kawasan Gunung Wilis, Desa Krisik, Kecamatan Pudak. Masun mengatakan terpantau masih ada 14 titik api hingga Rabu siang.

"Untuk Gunung Wilis di Desa Krisik, itu memang terdeteksi ada 14 spot, titik api di Desa Krisik. Dan hingga saat ini siang ini masih ada spot kebakaran itu," ungkap Masun.

BPBD belum bisa menjangkau langsung seluruh titik api di Gunung Wilis karena lokasinya berada di ketinggian. Pemantauan dilakukan melalui aplikasi serta informasi dari BMKG.

Masun menambahkan arah angin menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai dalam penanganan kebakaran hutan. Berdasarkan informasi yang diterima BPBD, angin bergerak ke arah tenggara dengan kecepatan sekitar 6 kilometer per jam.

"Angin kan membantu rembetan. Semakin kencang angin mungkin rembetannya semakin cepat, apalagi kemudian serasah keringnya banyak," tuturnya.

Ia menyebut arah pergerakan angin berpotensi membawa dampak ke wilayah Nganjuk. Pemantauan terhadap titik api di kawasan pegunungan Ponorogo pun terus dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran.

"Kalau lihat data dari BMKG, memang yang paling banyak spot-spotnya di Nganjuk. Jadi mungkin arah angin juga menentukan pergeseran ke arah sana," pungkasnya.



(abq/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads