BMKG Juanda mencatat 329 titik panas terdeteksi di sejumlah wilayah Jawa Timur. Dari pemantauan tersebut, tingkat kewaspadaan tinggi terutama diprakirakan di Blitar, Ponorogo, dan Malang.
Prakirawan BMKG Juanda Bhilda Maulida mengungkapkan, data tersebut berdasarkan hasil analisis per 14 September 2026. Menurutnya, titik panas yang terdeteksi satelit menunjukkan anomali suhu tinggi di permukaan.
"Titik panas yang dideteksi satelit tersebut mengindikasikan adanya area di permukaan dengan anomali suhu tinggi. Titik panas ini akan muncul dalam pantauan satelit setelah adanya kejadian yang memicu kenaikan suhu di permukaan," kata Bhilda saat dikonfirmasi detikJatim, Rabu (16/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bhilda menyebut, kenaikan suhu permukaan yang terdeteksi satelit dapat dipicu sejumlah kondisi. Oleh karena itu, diperlukan pengecekan langsung untuk memastikan penyebab titik panas tersebut.
"Bisa jadi karena kebakaran hutan/lahan, aktivitas vulkanik ataupun aktivitas industri, jadi, tetap perlu dilakukan pemantauan ke lokasi langsung untuk memastikan penyebab munculnya titik panas di suatu lokasi," lanjutnya.
Ia pun mengimbau masyarakat lebih bertanggung jawab terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
"BMKG mengimbau kepada masyarakat untuk lebih bertanggung jawab agar tidak melakukan aktivitas pembakaran, dan tidak membuang puntung rokok sembarangan," tuturnya.
Ia menegaskan, kondisi permukaan yang kering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar. Terlebih saat kondisi angin cukup kencang.
"Karena kondisi permukaan yang kering di musim kemarau ini membuat lahan mudah terbakar walaupun dipicu api kecil saja, dan apabila sudah terbakar penyebaran api sangat cepat karena kondisi angin yang cukup kencang sehingga sulit untuk dipadamkan," pungkasnya.
