Pemkot Surabaya dan BMKG mempersiapkan kesiagaan masyarakat menghadapi dampak fenomena El Nino. Fenomena tersebut diprakirakan berlangsung hingga Februari 2027 dan berpotensi membuat cuaca Surabaya lebih kering serta menyebabkan awal musim hujan mundur.
Warga diimbau tidak perlu khawatir berlebihan dan tetap dapat beraktivitas seperti biasa. Namun, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap paparan panas, ketersediaan air bersih, serta potensi kebakaran.
Kepala BPBD Surabaya Irvan Widyanto mengatakan dampak El Nino yang paling perlu diwaspadai adalah kondisi lingkungan yang semakin kering hingga memicu peningkatan risiko kebakaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita harus selalu waspada karena ketika paparan sinar matahari berlangsung terus-menerus kekeringan dapat meningkat. Kondisi tersebut membuat bahan-bahan di sekitar menjadi lebih mudah terbakar," kata Irvan, Sabtu (12/9/2026).
Irvan mewanti-wanti warga agar tidak membakar sampah di lahan terbuka. Sebab, dalam kondisi kering, percikan api mudah menjalar dan memicu kebakaran hebat hingga ke kawasan permukiman.
"Karena kondisi El Nino dapat berlangsung cukup panjang, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Hindari membakar sampah di lahan terbuka, kurangi aktivitas di luar ruangan saat siang hari, dan bijak menggunakan air bersih," jelasnya.
Warga juga diminta memperhatikan kondisi fisik saat beraktivitas di luar rumah pada siang hari ketika cuaca terik. Penggunaan pelindung seperti topi atau payung serta mencukupi konsumsi air putih sangat disarankan agar terhindar dari dehidrasi.
Di sisi lain, penghematan air bersih juga dinilai krusial untuk menjaga ketersediaan pasokan selama kemarau panjang.
Irvan menekankan bahwa antisipasi secara mandiri sangat penting, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan padat penduduk. Kesadaran setiap individu menjadi kunci utama keselamatan bersama.
"Terutama di rumah-rumah padat penduduk, kerawanannya cukup tinggi. Karena itu, antisipasi harus dimulai dari kesadaran masing-masing individu," ujarnya.
Guna mencegah dampak buruk El Nino, BPBD Surabaya terus mengencangkan langkah mitigasi dan edukasi tanpa menunggu terjadinya bencana. Sosialisasi gencar dilakukan dengan menyasar sekolah, pondok pesantren, lingkungan RT/RW, hingga pemanfaatan media sosial.
"Langkah tersebut ditujukan agar masyarakat memahami risiko cuaca kering sekaligus mengetahui cara sederhana untuk menguranginya," pungkasnya.
