Gempa bumi yang mengguncang Pacitan pada Februari 2026 dan pesisir Malang pada 14 September 2026 kembali mengingatkan bahwa wilayah pesisir selatan Jawa Timur berada dekat dengan zona subduksi yang berpotensi menghasilkan gempa besar.
Namun, munculnya gempa di Pacitan bukan berarti gempa megathrust akan segera terjadi. BMKG menegaskan potensi gempa megathrust merupakan kajian mengenai sumber gempa, bukan prediksi waktu kejadian.
Di Jawa Timur, ada delapan kabupaten di sepanjang pesisir selatan yang berhadapan dengan zona tumbukan lempeng tersebut, yakni Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi. Lantas, mengapa wilayah-wilayah ini disebut memiliki potensi terdampak dan apa sebenarnya yang dimaksud dengan gempa megathrust?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: BMKG Minta Warga Tak Percaya Prediksi Gempa |
Asal Gempa Bumi Megathrust
Megathrust bukan nama satu jenis gempa tertentu, melainkan istilah untuk sumber gempa pada zona subduksi atau pertemuan dua lempeng tektonik. Di selatan Pulau Jawa, Lempeng Indo-Australia bergerak dan menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.
Interaksi kedua lempeng tersebut membentuk zona subduksi di lepas pantai selatan Jawa. Ketika terjadi pelepasan energi di zona tersebut, gempa bumi dapat terjadi.
BMKG menjelaskan bahwa sumber gempa megathrust merupakan zona tumbukan antarlempeng tektonik. Megathrust bisa terjadi akibat pertemuan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia di selatan Jawa.
Dengan posisi tersebut, kawasan pesisir selatan Jawa Timur menjadi salah satu wilayah yang perlu memperhatikan potensi bahaya gempa dan tsunami. Kajian mengenai wilayah selatan Jawa Timur juga menunjukkan keberadaan kawasan yang aktif secara tektonik karena berada di sekitar zona subduksi.
8 Wilayah Jatim yang Berhadapan dengan Megathrust
Di Jawa Timur, ada delapan kabupaten di pesisir selatan yang masuk dalam wilayah yang berpotensi terdampak gempa megathrust. Daerah tersebut membentang dari barat ke timur, mulai dari Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember hingga Banyuwangi.
Kedelapan wilayah itu berada di sepanjang pesisir selatan Jawa yang berhadapan dengan zona subduksi. Posisi tersebut membuat kawasan selatan Jatim menjadi bagian dari wilayah yang perlu memperhatikan potensi gempa yang bersumber dari aktivitas tektonik di selatan Jawa.
Gempa di Zona Megathrust Tidak Selalu Besar
Ada anggapan bahwa setiap gempa yang terjadi di zona megathrust pasti berkekuatan besar. Faktanya, tidak demikian. BMKG menjelaskan aktivitas gempa di zona megathrust sangat bervariasi. Gempa dapat berkekuatan kecil, sedang, hingga besar. Bahkan, sebagian besar gempa yang terjadi memiliki magnitudo di bawah 5.
Meski begitu, zona megathrust tetap memiliki potensi menghasilkan gempa dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Dalam kajian megathrust selatan Jawa, angka magnitudo maksimum merupakan hasil perhitungan dan kajian ilmiah berdasarkan kondisi tektonik wilayah tersebut.
Angka tersebut tidak menunjukkan gempa dengan kekuatan itu akan terjadi dalam waktu tertentu. BMKG menegaskan potensi magnitudo maksimum bukanlah prediksi waktu terjadinya gempa.
Baca juga: Gempa M 5,2 Guncang Tenggara Malang |
Apakah Gempa Megathrust Bisa Diprediksi?
BMKG menyatakan belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara tepat kapan, di mana, dan berapa kekuatan gempa bumi yang akan terjadi. Karena itu, informasi mengenai potensi megathrust tidak bisa diterjemahkan sebagai pemberitahuan gempa besar akan terjadi dalam hitungan hari, bulan, atau tahun tertentu.
BMKG juga menjelaskan bahwa gempa megathrust tidak dapat diprediksi waktu kejadiannya. Namun, aktivitas kegempaan tetap dipantau melalui jaringan pemantauan BMKG.
Adanya gempa-gempa kecil bukan berarti otomatis menjadi tanda pasti bahwa gempa megathrust besar akan terjadi. Yang dapat dilakukan adalah memantau aktivitas kegempaan dan memperkuat kesiapsiagaan.
Warga Pesisir Perlu Waspada
Potensi bencana tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar magnitudo gempa, tetapi juga lokasi sumber gempa, kedalaman, kondisi wilayah, kepadatan penduduk, kualitas bangunan, serta kemungkinan munculnya tsunami.
Karena itu, masyarakat di wilayah pesisir selatan Jatim perlu memahami apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi. Kesiapsiagaan menjadi penting terutama bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas dekat pantai.
Dalam skenario kebencanaan Jawa Timur, delapan kabupaten di pesisir selatan memang menjadi wilayah yang diperhitungkan dalam penanganan risiko tsunami akibat gempa megathrust.
Dokumen rencana kontingensi Jatim juga memasukkan Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, dan Pacitan dalam skenario penanganan bencana tersebut.
Karena itu, yang perlu dilakukan bukan menunggu kepastian kapan gempa besar terjadi, melainkan memastikan masyarakat sudah mengetahui jalur evakuasi, titik kumpul, tempat aman, serta informasi resmi kebencanaan.
Memahami potensi gempa megathrust bukan berarti harus hidup dalam ketakutan. Justru, informasi mengenai zona subduksi dan wilayah yang berpotensi terdampak dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
