Musibah KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Jawa Timur, menyisakan sejumlah pertanyaan mengenai penyebab kapal jenis Ro-Ro itu bisa terbalik hingga akhirnya tenggelam.
Pakar Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof I Ketut Aria Pria Utama mengungkap sejumlah kemungkinan berdasarkan analisis akademis, mulai dari air yang diduga masuk melalui pintu rampa hingga potensi pergeseran muatan.
KM Virgo Transport 8 sebelumnya berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin dengan membawa 243 orang dan 89 unit kendaraan. Data terbaru, sebanyak 129 penumpang dinyatakan masih hilang, lalu 114 sudah ditemukan dengan 6 di antaranya meninggal dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapal ini kehilangan kontak di Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026), kemudian terbalik. Hingga kini, proses pencarian terhadap korban masih dilakukan, sementara penyebab pasti kecelakaan masih menunggu hasil investigasi resmi.
Musibah tersebut terjadi di kawasan perairan Masalembo yang kembali menjadi lokasi kecelakaan kapal. Setelah kehilangan kontak, KM Virgo Transport 8 ditemukan dalam kondisi terbalik.
Pakar Perkapalan ITS Prof I Ketut Aria Pria Utama memberikan analisis mengenai sejumlah kemungkinan yang dapat menyebabkan KM Virgo terbalik dan tenggelam. Berdasarkan laporan awal kru dan saksi yang diterimanya, tidak terdapat informasi mengenai kebocoran pada badan kapal sehingga salah satu kemungkinan yang disoroti adalah masuknya air melalui bagian kapal yang tidak tertutup rapat.
"Mungkin lewat jendela, mungkin lewat pintu rampah yang tidak kedap atau ada sebagian terbuka begitu. Karena massa air yang masuk itu besar. Nah, kemudian ada bagian lain di kapal itu seperti masuk ke ruang mesin, kemungkinan terbuka air lalu masuk ke sana. Sehingga makin mempercepat (kapal tenggelam)," jelas Prof Ketut kepada wartawan di Departemen Teknik Perkapalan ITS, Selasa (15/9/2026).
Menurut Prof Ketut, kondisi pintu kapal menjadi bagian penting dalam keselamatan pelayaran karena seluruh akses yang berpotensi menjadi jalan masuk air harus dipastikan tertutup rapat. Terlebih, ketika kapal menghadapi gelombang tinggi, celah pada pintu rampa maupun pintu kedap dapat memungkinkan air masuk dalam jumlah besar dan memengaruhi kestabilan kapal.
Selain kemungkinan masuknya air, Prof Ketut menyoroti potensi pergeseran muatan atau cargo shift sebagai salah satu faktor yang perlu diperiksa dalam investigasi kecelakaan KM Virgo.
Pergeseran muatan dapat terjadi apabila kendaraan atau barang yang diangkut tidak diikat dengan sistem pengamanan yang memadai sehingga pergerakan muatan dapat memengaruhi keseimbangan kapal.
"Dan itu bisa juga terjadi, pergeseran muatan karena kapal tidak diikat atau di-lashing. Dan juga bisa juga tadi kenapa tidak di-lashing. Lashing-nya tidak cukup karena jumlah yang dimuat lebih besar dari yang seharusnya boleh dimuat di kapal," katanya.
Menurutnya, kondisi muatan harus diperiksa secara menyeluruh, termasuk bagaimana kendaraan ditempatkan dan diikat selama pelayaran. Hal tersebut menjadi penting karena perubahan posisi muatan di dalam kapal dapat berdampak terhadap stabilitas, terutama ketika kapal menghadapi kondisi laut yang tidak bersahabat.
Prof Ketut juga menyoroti usia KM Virgo Transport 8 yang disebut berasal dari Jepang dan telah berusia sekitar 39 tahun. Ia menjelaskan karakteristik perairan dan kebutuhan desain kapal di Jepang dapat berbeda dengan kondisi pelayaran di Indonesia sehingga penggunaan kapal untuk rute yang berbeda perlu disertai pemeriksaan kesesuaian.
"Jadi, yang saya pahami jadi kalau kapal untuk perairan dekat dibawa ke jauh itu harus dicek kembali. Kemungkinan tidak cocok begitu. Jadi, ini dipaksakan," ujarnya.
Menurut Prof Ketut, aspek tersebut perlu diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui apakah kapal yang awalnya digunakan untuk karakteristik pelayaran tertentu tetap memenuhi persyaratan ketika dioperasikan pada rute yang berbeda. Namun, ia menegaskan analisis tersebut masih berupa dugaan akademis dan bukan kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan.
Prof Ketut menegaskan sejumlah kemungkinan yang disampaikannya tidak dapat dijadikan kesimpulan akhir mengenai penyebab KM Virgo Transport 8 terbalik. Penentuan penyebab kecelakaan harus dilakukan melalui investigasi resmi dengan memeriksa kondisi kapal, muatan, sistem keselamatan, cuaca, kondisi perairan, hingga faktor lain yang berkaitan dengan pelayaran.
"Itu dugaan saya bukan kesimpulan, tapi itu perlu investigasi KNKT apakah dugaan itu betul ya," tegasnya.
Dengan demikian, dugaan mengenai pintu rampa yang tidak tertutup rapat, masuknya air ke bagian kapal, pergeseran muatan, hingga kesesuaian kapal dengan rute pelayaran masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan teknis. Hasil investigasi nantinya menjadi dasar untuk memastikan rangkaian kejadian yang menyebabkan kapal kehilangan stabilitas hingga terbalik.
Selain membahas kemungkinan penyebab kecelakaan, Prof Ketut mendorong penerapan International Safety Management (ISM) Code secara lebih mendalam oleh perusahaan pelayaran di Indonesia. Menurutnya, keselamatan pelayaran tidak hanya menjadi tanggung jawab kru yang bekerja di atas kapal, tetapi juga harus dipahami oleh seluruh pihak yang terlibat dalam operasional perusahaan.
"Langkah selanjutnya apa yang dilakukan. Perlu edukasi ya, jadi edukasi kepada kru bahwa kru itu mengerti mengoperasikan kapalnya termasuk kru di darat," pungkasnya.
