Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim terus melakukan proses identifikasi korban KM Virgo Transport 8. Hingga kini, 43 data ante mortem telah dikumpulkan di Posko Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Kaur DVI Biddokkes Polda Jatim dr Budi Prasetyo mengatakan, dari puluhan data tersebut, sebanyak 13 keluarga telah menyerahkan sampel DNA untuk membantu proses identifikasi korban.
"Proses pengumpulan data ante mortem di Surabaya dan Banjarmasin masih terus berjalan. Tim DVI berupaya mengintegrasikan seluruh data keluarga dengan hasil pemeriksaan post mortem, sebagai bagian dari proses identifikasi korban KMP Virgo Transport 8," kata Budi saat ditemui awak media di GSN Tanjung Perak Surabaya, Selasa (15/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, posko ante mortem di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya masih terus menghimpun data dari keluarga maupun rekan kerja penumpang dan ABK KMP Virgo Transport 8. Menurutnya, data yang dikumpulkan meliputi identitas, ciri-ciri fisik, riwayat gigi, hingga barang pribadi yang digunakan korban sebelum insiden.
"Sebanyak 43 data ante mortem telah masuk di Posko Ante Mortem Perak. Dari jumlah tersebut, 13 keluarga telah menyerahkan sampel DNA, yang diambil dari keluarga inti atau keluarga terdekat korban," ujarnya.
Data ante mortem dari Surabaya ini, imbuh Budi, selanjutnya diintegrasikan dengan data dari posko ante mortem di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sementara, di Banjarmasin, Tim telah menghimpun 38 data ante mortem.
Budi menerangkan penggabungan data dilakukan karena proses pencarian dan identifikasi korban melibatkan Tim DVI dari Jatim, Kalimantan Selatan, serta polda lainnya. Ia menyatakan pengumpulan data ante mortem ini menjadi bagian penting dalam proses identifikasi.
Sebab, data dari keluarga akan dibandingkan dengan data post mortem, yaitu hasil pemeriksaan langsung terhadap korban yang ditemukan. Dalam metode DVI, identifikasi dilakukan melalui sejumlah data primer, yaitu sidik jari, gigi, dan DNA. Sementara untuk sidik jari, tim bekerja sama dengan inafis dan informasi gigi dikumpulkan dari keluarga atau rekan korban.
Selain itu, sampel DNA diambil dari keluarga inti melalui swab bagian dalam pipi atau swab buccal. Budi menerangkan metode ini digunakan untuk membantu mencocokkan identitas korban dengan data yang diperoleh dari jenazah.
"Selain data primer, kami juga mengumpulkan data sekunder, keluarga dimintai informasi mengenai ciri fisik yang menonjol, seperti tanda lahir, bekas luka operasi, maupun ciri khusus lainnya," imbuhnya.
Tak hanya itu, untuk barang pribadi korban juga ditanyakan, mulai dari gelang, jam tangan, hingga pakaian terakhir yang digunakan sebelum kapal tenggelam. Seluruh data tersebut dikumpulkan untuk membantu Tim DVI mempersempit pencarian dan memastikan identitas para korban.
