Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) semakin meluas dan sulit dikendalikan. Kobaran api yang tertiup angin kencang bergerak meluas hingga memasuki wilayah Malang dan mengepung area wisata.
Api pertama kali membakar vegetasi kering di kawasan Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo pada Sabtu (12/9/2026) sore. Tiupan angin kencang membuat api cepat merembet turun membakar savana Lembah Watangan (Bukit Teletubbies) dan bergerak ke wilayah Pos Jemplang, Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Bahkan kencangnya tiupan angin memicu munculnya pusaran debu berasap (dust devil) di area yang terbakar. Kebakaran di kawasan Jemplang kian mengkhawatirkan karena kobaran api sudah nyaris menyentuh akses jalan utama Ngadas-Ranupani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, pergerakan api juga menjalar mendekati tempat wisata populer Bromo Hillside. Guna mengantisipasi bahaya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang melalukan evakuasi darurat terhadap seluruh pengunjung dan pekerja kafe.
Petugas gabungan dan relawan sebenarnya sempat berhasil memadamkan titik api di kawasan Pengol pada Jumat (11/9/2026) sekitar pukul 20.00 WIB. Namun, pemadaman tersebut tidak bertahan lama.
"Begitu kita tinggal, kita bergeser, ternyata api muncul lagi karena memang pada saat malam itu ada sedikit angin yang kencang, sehingga membantu percepatan untuk munculnya api," terang Kapolsek Sukapura, Probolinggo, Iptu Djuwantoro Setyowadi, Minggu (13/9/2026).
Menanggapi situasi yang kian membahayakan, Balai Besar TNBTS resmi menutup total seluruh akses pintu masuk kawasan wisata Bromo mulai Sabtu, 12 September 2026, melalui Surat Pengumuman Nomor PG.23/T.8/TU/HMS.01.07/B/09/2026.
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengimbau wisatawan yang sudah membeli tiket untuk mengajukan mekanisme reschedule atau refund. Meski Bromo ditutup total hingga batas waktu yang belum ditentukan, akses menuju Ranu Regulo dilaporkan masih dibuka sesuai ketentuan.
Upaya pemadaman dari udara menggunakan metode water bombing dan pemadaman darat menemui kendala berat. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem dan kabut tebal menghalangi mobilitas petugas.
"Medan yang sulit serta kabut tebal menjadi kendala utama, termasuk untuk operasi water bombing," jelas Oemar.
Mengingat peristiwa kebakaran berulang di kawasan konservasi ini, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Ditjen Gakkum membentuk tim khusus untuk menyelidiki penyebab kebakaran dan mengusut dugaan tindak pidana.
Untuk pembuktian ilmiah, Kemenhut menerjunkan dua ahli papan atas, yakni ahli karhutla Prof. Bambang Hero Saharjo dan ahli kerusakan tanah/lingkungan Prof. Basuki Wasis.
"Kami masih melakukan penyelidikan untuk membangun konstruksi perkara secara menyeluruh dengan mengacu pada fakta lapangan dan bukti ilmiah," tegas Kepala Balai Gakkum LHK Wilayah Jabali Nusra, Aswin Bangun.
