Hasil Lab MBG Bikin Keracunan Santri di Sidoarjo: Terkontaminasi Bakteri

Hasil Lab MBG Bikin Keracunan Santri di Sidoarjo: Terkontaminasi Bakteri

Suparno - detikJatim
Jumat, 11 Sep 2026 07:40 WIB
Bertambah Lagi Santri Manbaul Hikam Sidoarjo yang Keracunan MBG
Foto dokumen saat santri Manbaul Hikam Sidoarjo Keracunan MBG. (Foto: Suparno/detikJatim)
Sidoarjo -

Hasil pemeriksaan laboratorium sampel makanan dalam kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo telah keluar. Dari belasan parameter yang diperiksa, ditemukan satu sampel yang positif terkontaminasi bakteri.

Hal itu disampaikan Plh Sekda Sidoarjo sekaligus Ketua Satgas MBG Sidoarjo, M Ainur Rahman. Dia membenarkan adanya temuan positif dalam pemeriksaan laboratorium tersebut.

"Hasil lab sudah keluar dan sudah dilaporkan kepada Bupati. Dari beberapa sampel yang diperiksa, ada yang negatif dan ada satu yang positif terkontaminasi," kata Ainur kepada wartawan, Jumat (11/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, Ainur belum mengungkap jenis bakteri maupun sampel makanan yang dinyatakan positif. Menurutnya, rincian teknis hasil pemeriksaan akan disampaikan oleh pihak yang berwenang, termasuk Dinas Kesehatan.

Dia menegaskan temuan bakteri tersebut belum serta-merta memastikan penyebab keracunan berasal dari makanan. Pemerintah masih melakukan investigasi untuk mengetahui sumber kontaminasi.

ADVERTISEMENT

"Belum bisa dipastikan apakah murni dari faktor makanan. Bisa banyak faktor, bisa dari air, bahan baku makanan, maupun kebersihan lingkungan," ujarnya.

Hasil laboratorium tersebut, lanjut Ainur, juga telah diserahkan kepada kepolisian sebagai bahan pendukung penyelidikan. Polres Sidoarjo nantinya akan menyandingkan hasil uji laboratorium Pemkab dengan pemeriksaan forensik yang dilakukan kepolisian.

"Ini sudah diserahkan ke Polres untuk disandingkan dengan hasil pemeriksaan forensik. Kita lihat nanti apakah ini karena kelalaian, ketidakpatuhan terhadap prosedur, atau ada unsur lainnya," jelasnya.

Sementara itu, kondisi para santri yang menjadi korban keracunan menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data tim medis Pemkab Sidoarjo hingga Kamis pukul 05.30 WIB, total 117 santri telah mendapat penanganan di enam rumah sakit.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 110 santri telah dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang. Sedangkan tujuh santri lainnya masih menjalani perawatan.

Ainur mengatakan munculnya kembali gejala pada sebagian korban dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya kondisi daya tahan tubuh masing-masing pasien hingga kepatuhan mengonsumsi obat yang diberikan.

"Setiap orang daya tahan tubuhnya berbeda. Ada juga yang tidak patuh mengonsumsi obat yang diberikan," terangnya.

Dapur MBG Kalitengah Disetop

Pasca kejadian keracunan, dapur SPPG Kalitengah yang menyuplai makanan untuk para santri telah dihentikan dan tidak lagi beroperasi.

Para santri untuk sementara mendapatkan makanan dari dapur pondok sendiri. Sementara penyaluran MBG untuk 18 sekolah terdampak ditahan sementara.

Badan Gizi Nasional (BGN) telah menawarkan pengalihan penyaluran makanan ke SPPG lain. Namun, Pemkab Sidoarjo masih membahas tawaran tersebut.

Ainur menegaskan Pemkab Sidoarjo tidak mengambil langkah untuk menghentikan program MBG secara keseluruhan. Pemerintah daerah tetap mendukung program tersebut, tetapi meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola, sanitasi, dan pengawasan di lapangan.

Pemkab Sidoarjo juga mencatat masih ada 21 SPPG yang belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian serius dalam evaluasi pelaksanaan MBG.

Menurut Ainur, SLHS merupakan kewenangan pemerintah daerah. Namun, izin operasional SPPG berada di bawah kewenangan BGN.

"Daerah hanya bisa mengusulkan, izin operasi ada di BGN. Ada 21 SPPG yang belum punya sertifikat higienis tetapi masih berjalan karena izin operasionalnya dari BGN," katanya.

Pemkab Sidoarjo telah mengusulkan agar SPPG yang belum memenuhi persyaratan SLHS dihentikan sementara hingga persyaratan terpenuhi. Selain itu, pengawasan juga akan diperkuat dengan melibatkan kepala puskesmas, camat, dan kepala desa.

"Yang belum layak jangan dioperasikan. Kita tetap mendukung program MBG, tetapi protokol dan pengawasannya harus diperbaiki. SOP jangan hanya ada di atas kertas, tapi harus benar-benar dijalankan di lapangan," pungkas Ainur.

Pemkab Sidoarjo kini masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dari kepolisian untuk memastikan penyebab kasus keracunan massal tersebut.

Simak juga Video 'Usai Santap MBG, Siswi di Karo Mengeluh Pusing-Gatal Sebelum Gangguan Ingatan':

(auh/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads