Kota Surabaya memiliki sesar atau patahan aktif. Berdasarkan Buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PusGen) tahun 2024, jalur patahan di Jawa Timur terdapat sesar yang melewati wilayah Surabaya dengan nama Sesar Java Back-arc thrust Surabaya, terdapat potensi magnitudo maksimumnya M 6.7.
Pakar Geologi ITS Prof Dr Ir Amien Widodo MSi menyarankan kepada Pemkot Surabaya untuk monitor patahan yang ada. Sehingga dapat diketahui jika ada pergerakan.
"Kan gempa itu kan tidak ujug-ujug, ada proses. Jadi misalnya ada ada getaran 1, 2, 3, 4, 5 baru brol. Nah, untuk menangkap getaran satu awal-awal tadi itu kan harus pakai alat. Mestinya dia memasang alat-alat di beberapa untuk melihat keaktifan pergerakan sesar," kata Prof Amien saat dihubungi detikJatim, Kamis (10/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harusnya usul kita sih dari masyarakat ya mestinya pemerintah kota ini memasang alat-alat untuk memonitoring pergerakan dari sesar tadi. Jadi, 'Oh ini masih skalanya 1, 2, 1, 2.' Enggak apa-apa, tapi itu kan menunjukkan kalau dia bergerak," tambahnya.
Meski demikian, Prof Amien menegaskan keberadaan alat monitoring bukan berarti gempa bisa diprediksi secara pasti. Namun, pemantauan dapat menjadi langkah mitigasi untuk meningkatkan kewaspadaan.
"Kalau ada monitoring tadi mungkin kita bisa jadi lebih waspadalah. 'Wih, ini sudah bergerak ini ya,' misalnya gitu," ujarnya.
Sebelumnya, Plt Kepala BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan, Suwarto, tidak menampik bahwa keberadaan sesar aktif tersebut membawa potensi kegempaan bagi wilayah Surabaya dan sekitarnya. Berdasarkan data pemetaan, Sesar Waru memiliki potensi gempa maksimum hingga M 6,7, sementara Sesar Surabaya berpotensi hingga M 6,8.
"Ada, justru dengan adanya sesar itu, itu ada potensi kegempaannya. Maksimum kalau yang di Sesar Waru itu kan 6,7, dan di Surabaya itu potensi maksimumnya magnitudo 6,8. Jadi itu potensi yang tersimpan di dalam sesar itu ketika pada suatu saat gempa bisa maksimum seputar itu," kata Suwarto.
Meski begitu, Suwarto mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Ia menegaskan angka magnitudo tersebut adalah batasan potensi energi terburuk yang tersimpan secara ilmiah, bukan ramalan gempa yang pasti terjadi dalam waktu dekat.
"Tapi kan kita enggak tahu ya, wallahu a'lam apakah akan terjadi. Kapan-kapannya kita enggak tahu, kemudian apakah besar magnitudonya itu sampai maksimum atau hanya kecil. Patahnya juga tidak patah semua bisa jadi, mungkin hanya sebagian. Potensi-potensi itu kita hanya bisa memperkirakan," pungkasnya.
