Keberadaan zona sesar atau patahan aktif di wilayah Jawa Timur kembali menjadi perhatian publik belakangan ini. Lalu, ada berapa sesar aktif di Kota Surabaya?
BMKG Stasiun Geofisila menjelaskan, untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya, tidak ada sesar yang berdiri sendiri, melainkan terbagi menjadi beberapa segmen yang merupakan bagian dari jalur sesar besar.
Plt Kepala BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan, Suwarto mengatakan, keberadaan sesar di wilayah Surabaya pada dasarnya menginduk pada Sesar Kendeng. Yakni zona patahan aktif berukuran panjang yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Surabaya itu ada Sesar Waru dan Sesar Surabaya. Jadi itu masuk di bagian Sesar Kendeng sebenarnya, segmen dari Sesar Kendeng," kata Suwarto saat dihubungi detikJatim, Rabu (9/9/2026).
Saat ditegaskan apakah ada sesar yang berdiri sendiri di luar Sesar Kendeng di wilayah Surabaya, Suwarto memastikan sesar-sesar tersebut merupakan satu kesatuan dari jalur Kendeng.
"Enggak, maksudnya Sesar Kendengnya itu kan panjang. Nah, itu terbagi menjadi beberapa bagian itu tadi," ujarnya.
Suwarto menjelaskan, peta keberadaan Sesar Kendeng di Surabaya sebenarnya sudah sejak lama dipetakan oleh Badan Geologi bersama para ahli geologi.
"Itu dari peta geologi sudah ada, dibuat oleh para ahli geologi awalnya. Sudah lama sih itu, adanya di peta geologi dari Badan Geologi," jelasnya.
Namun, pengenalan dan pelepasan data peta sumber bahaya gempa secara resmi kepada publik dan pemda baru dilakukan sejak 2017 untuk mendukung kebijakan mitigasi serta penataan tata ruang daerah. Data tersebut rutin diperbarui berkala setiap lima tahun sekali.
"Sebenarnya mungkin sebelumnya sudah ada, cuma secara resmi dirilis keperluan untuk tata ruang itu 2017 itu. Dan terus diperbarui (terakhir) 2024, lima tahun sekali," ucapnya.
Berdasarkan Buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PusGen) tahun 2024, jalur patahan di Jawa Timur terdapat sesar yang melewati wilayah Surabaya dengan nama Sesar Java Back-arc thrust Surabaya, potensi magnitudo maksimumnya M 6.7.
Kemudian, sesar yang melewati wilayah Pasuruan dengan nama sesar Pasuruan, potensi magnitudo maksimumnya M 6.4. Dan sesar yang melewati wilayah Bangkalan yaitu sesar RMKS-Baliga danRMKS-Somorkoneng dengan potensi magnitudo maksimumnya M 6.7 dan M 6.5.
Suwarto tidak menampik bahwa keberadaan sesar aktif tersebut membawa potensi kegempaan bagi wilayah Surabaya dan sekitarnya. Berdasarkan data pemetaan, Sesar Waru memiliki potensi gempa maksimum hingga M 6,7, sementara Sesar Surabaya berpotensi hingga M 6,8.
"Ada, justru dengan adanya sesar itu, itu ada potensi kegempaannya. Maksimum kalau yang di Sesar Waru itu kan 6,7, dan di Surabaya itu potensi maksimumnya magnitudo 6,8. Jadi itu potensi yang tersimpan di dalam sesar itu ketika pada suatu saat gempa bisa maksimum seputar itu," urainya.
Meski begitu, Suwarto mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Ia menegaskan angka magnitudo tersebut adalah batasan potensi energi terburuk yang tersimpan secara ilmiah, bukan ramalan gempa yang pasti terjadi dalam waktu dekat.
"Tapi kan kita enggak tahu ya, wallahu a'lam apakah akan terjadi. Kapan-kapannya kita enggak tahu, kemudian apakah besar magnitudonya itu sampai maksimum atau hanya kecil. Patahnya juga tidak patah semua bisa jadi, mungkin hanya sebagian. Potensi-potensi itu kita hanya bisa memperkirakan," pungkasnya.
