Delapan pendaki nekat menerobos kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) melalui jalur ilegal saat pendakian masih ditutup resmi. Selain aksi nekat tersebut, satu pendaki dari rombongan sempat tersesat dan hilang.
Berikut deretan fakta terkait aksi nekat delapan pendaki yang menerobos penutupan Gunung Semeru:
1. Berasal dari Berbagai Daerah di Jawa Timur
Rombongan pendaki ilegal ini terdiri dari delapan orang yang berasal dari beberapa wilayah di Jawa Timur, antara lain Surabaya, Tuban, dan Kediri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka asal Jawa Timur, ada yang dari Tuban, Surabaya, Kediri, dan lain-lain," ujar Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) Balai Besar TNBTS Bambang Suriyono, Rabu (9/9/2026).
2. Menerobos Lewat Jalur Ilegal Candi Jawar
Aksi mendaki secara ilegal tersebut dimulai pada Senin (7/9/2026). Rombongan memilih masuk kawasan TNBTS melalui jalur Candi Jawar yang berada di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.
Bambang menegaskan bahwa area yang dilintasi rombongan tersebut sepenuhnya masuk dalam kawasan konservasi TNBTS yang saat ini masih ditutup untuk umum akibat kebakaran hutan dan erupsi.
3. Satu Pendaki Tertinggal dan Tersesat
Dari delapan orang dalam rombongan, tujuh pendaki berhasil diamankan petugas lebih awal. Namun, satu pendaki bernama Muhammad Isa Daus Wasa (20), warga Dusun Tunge, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, tertinggal dari rombongan dan dilaporkan hilang terpisah sejak Senin (7/9/2026) di sekitar Puncak Limpak.
4. Ditemukan Selamat Setelah Pencarian Hampir 7 Jam
Menerima laporan pendaki hilang, Kantor SAR Kelas A Surabaya menerjunkan tim rescue Unit Siaga SAR Malang Raya untuk bergabung bersama BPBD Kabupaten Malang, TNBTS, Bolang Rescue, Gimbal Alas, dan warga setempat.
Setelah melakukan pencarian selama 6 jam 45 menit menggunakan dua Search and Rescue Unit (SRU), tim SAR gabungan berhasil menemukan Isa dalam kondisi selamat. Isa sempat diberikan asupan makanan dan minuman untuk memulihkan kondisinya sebelum dievakuasi turun.
5. Evakuasi Menembus Medan Ekstrem Malam Hari
Proses evakuasi Isa menuju posko SAR gabungan dimulai pukul 14.30 WIB. Koordinator Unit Siaga SAR Malang Raya Imam Nahrowi menyebutkan bahwa perjalanan evakuasi membutuhkan kehati-hatian ekstra karena medan yang ekstrem serta keterbatasan penerangan saat malam.
"Sekitar pukul 19.00 WIB, tim SAR gabungan dan Isa tiba di posko," jelas Imam, Rabu (9/9/2026).
6. Berhadapan dengan Hukum
Tujuh pendaki yang diamankan lebih awal telah dipulangkan sementara, namun tetap dipanggil untuk pemeriksaan lanjutan. Pihak Balai Besar TNBTS menegaskan tidak akan tinggal diam dan berkoordinasi dengan pihak berwajib atas pelanggaran ini.
"Sementara kami berkoordinasi dengan pihak penegak hukum Kementerian Kehutanan dan Kepolisian," kata Bambang.
7. TNBTS Bakal Perketat Pengawasan 24 Jam
Kasus penerobosan pada hari kerja (weekday) ini memicu evaluasi sistem keamanan TNBTS. Sebelumnya, penjagaan ketat fokus dilakukan pada akhir pekan (weekend) sesuai pola tren pendaki ilegal.
Atas kejadian ini, Balai Besar TNBTS memutuskan untuk mengubah pola pengamanan menjadi 24 jam penuh setiap hari guna mencegah aksi serupa selama status pendakian masih ditutup.
