Budidaya melon dengan sistem hidroponik kini tak hanya menjadi pilihan usaha pertanian, tetapi juga mulai dikembangkan sebagai wisata edukasi. Di Kota Probolinggo, pengunjung bisa melihat langsung proses budidaya melon premium sekaligus memetik dan menikmati buahnya dari dalam green house.
Konsep tersebut hadir di Green House 'Buah Karya Kebunku', Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.
Memasuki green house berukuran 10 x 30 meter, pengunjung akan disuguhi deretan tanaman melon yang tumbuh subur dan menggantung rapi. Berbeda dengan membeli melon yang sudah dipanen di pasar, wisatawan dapat memilih sendiri buah yang diinginkan berdasarkan ukuran dan bentuknya, kemudian memetik langsung dari tangkainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melon yang telah dipetik bisa dibawa pulang maupun langsung dinikmati di lokasi.
Pengelola membudidayakan melon menggunakan sistem hidroponik Nutrient Film Technique (NFT). Sistem ini mengalirkan larutan nutrisi secara terus-menerus menuju akar tanaman sehingga pertumbuhan tanaman dapat dikontrol dan buah yang dihasilkan lebih optimal.
Dua varietas menjadi andalan di tempat ini, yakni Sweet Net 9 dan The Blues.
Sweet Net 9 merupakan varietas melon asal Thailand yang memiliki ciri khas kulit buah berjaring atau net. Kadar gulanya berada di kisaran 14 hingga 16 Brix, dengan tekstur daging buah yang renyah dan rasa manis.
Sementara itu, The Blues yang disebut berasal dari Cina memiliki tingkat kemanisan lebih tinggi. Tekstur daging buahnya juga renyah, dengan kandungan air yang lebih banyak sehingga memberikan sensasi berbeda saat disantap.
Salah seorang pengunjung, Ernawati, mengaku menikmati pengalaman memetik melon bersama anak dan cucunya. Ia juga berkesempatan mencoba kedua varietas melon yang tersedia.
"Rasanya memang mantap, manis semua. Tapi yang ini lebih berair, kalau yang itu lebih crunchy, suaranya kalau dimakan kres," ujar Ernawati, Selasa (8/9).
Menurutnya, budidaya melon di dalam green house juga memberikan kesan lebih bersih dan steril dibandingkan budidaya melon di lahan terbuka.
Selain menawarkan pengalaman memetik buah, wisata ini juga menjadi sarana edukasi bagi pengunjung, khususnya anak-anak, untuk mengenal lebih dekat proses budidaya melon premium menggunakan teknologi hidroponik.
Pengelola wisata petik buah melon, Bagas Satriya, mengatakan satu green house berukuran 10 x 30 meter idealnya mampu menampung sekitar 1.000 tanaman melon.
Untuk The Blues, tingkat kemanisannya dapat mencapai sekitar 17 Brix. Sementara dari sisi budidaya, sistem hidroponik di dalam green house dinilai relatif lebih mudah dikendalikan dibandingkan penanaman di lahan terbuka.
Meski demikian, hama tetap menjadi salah satu kendala yang harus diantisipasi. Namun, keberadaan hama tersebut masih dapat dikendalikan oleh pengelola.
"Kalau kesulitannya lebih ringan daripada kita tanam di luar green house atau di hamparan. Kendala ada di hama di dalam green house, tetapi bisa dikendalikan," jelas Bagas.
Menariknya, minat masyarakat terhadap wisata petik melon ini disebut sudah terlihat bahkan sebelum pembukaan. Sejumlah pengunjung telah datang untuk melihat sekaligus mencoba langsung melon yang dibudidayakan.
Dalam satu siklus tanam, melon dapat dipanen sekitar 60 hingga 65 hari sejak dari benih, tergantung kondisi dan varietas tanaman.
Dengan menyasar pasar melon premium, harga buah yang ditawarkan juga relatif lebih tinggi. Melon hasil budidaya di green house ini dibanderol sekitar Rp 30 ribu per kilogram.
Konsep wisata tersebut menunjukkan bahwa komoditas pertanian dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang menarik. Pengunjung tidak hanya mendapatkan buah segar, tetapi juga pengetahuan mengenai teknologi pertanian modern dan pengalaman memetik melon langsung dari tanaman.
Dari sebuah green house, melon pun tak sekadar menjadi komoditas pertanian, melainkan dikemas menjadi wisata edukasi dan pengalaman kuliner yang menawarkan sensasi berbeda bagi masyarakat.
