Lahan terbatas di kawasan Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) Juanda, Sidoarjo, disulap menjadi kawasan pertanian modern berbasis hidroponik. Sekitar 1,5 ton melon premium bisa dipanen dari lahan seluas 400 meter persegi.
Panen raya tersebut dipimpin langsung oleh Komandan Puspenerbal, Laksamana Muda TNI Bayu Alisyahbana, serta dihadiri sejumlah tamu undangan dari berbagai instansi, pelaku usaha, hingga masyarakat umum.
Green house tersebut menampung sekitar 1.200 tanaman melon yang terdiri atas empat varietas unggulan, yakni Sweet Lavender, Hamikua, Golden Aroma, dan Sanny White.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komandan Puspenerbal Laksamana Muda TNI Bayu Alisyahbana mengatakan pemanfaatan lahan sempit itu merupakan bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.
"Lahan terbatas bukan alasan untuk tidak produktif. Ini adalah komitmen Puspenerbal dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Kami memilih melon hidroponik premium karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan saat ini sedang menjadi tren di masyarakat," kata Bayu dalam sambutannya, Jumat (30/7/2026).
Menurutnya, ke depan kawasan tersebut tidak hanya difungsikan sebagai area produksi, tetapi juga akan dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi bagi warga Sidoarjo dan Surabaya.
"Kami ingin memperkenalkan bahwa pertanian modern dengan sistem hidroponik dapat dilakukan secara efektif, bersih, dan menghasilkan produk berkualitas tinggi. Anak-anak sekolah juga dapat belajar langsung di sini," ujarnya.
Bayu menjelaskan, kondisi cuaca panas di wilayah Juanda justru menjadi tantangan yang berhasil diubah menjadi peluang melalui penerapan teknologi pertanian modern dan pendampingan dari Ar Farm Pandaan.
"Dengan pengaturan kualitas air, nutrisi, dan pengawasan yang tepat, hasilnya sangat memuaskan. Tingkat kemanisan melon mencapai 14 hingga 16 brix dengan tekstur yang renyah. Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan melon konvensional yang rata-rata berada pada kisaran 8 hingga 9 brix," jelasnya.
Ia menambahkan, masa tanam hingga panen berlangsung sekitar 70 hari. Pada tahap awal ini, tingkat keberhasilan budidaya mencapai 80 persen.
"Ini merupakan pencapaian yang baik untuk tahap percobaan pertama. Kami akan terus melakukan evaluasi agar tingkat keberhasilan pada masa tanam berikutnya dapat meningkat hingga 95 persen," ungkapnya.
Selain menjadi bagian dari program ketahanan pangan, keberadaan green house tersebut juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Melon premium hasil panen dijual dengan harga sekitar Rp 35 ribu per kilogram.
Bayu berharap inovasi tersebut dapat menjadi contoh pemanfaatan lahan yang efisien sekaligus mendorong lahirnya berbagai inovasi pertanian modern lainnya.
"Kami berharap program ini dapat menjadi role model, baik bagi institusi lainnya maupun masyarakat, dalam mewujudkan kemandirian pangan yang berkelanjutan," pungkasnya.
