Ini Dugaan Asal Busa di Sungai Surabaya yang Bikin Ikan Mabuk

Ini Dugaan Asal Busa di Sungai Surabaya yang Bikin Ikan Mabuk

Aprilia Devi - detikJatim
Senin, 07 Sep 2026 15:15 WIB
Gumpalan busa di Sungai Surabaya
Gumpalan busa di Sungai Surabaya (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Busa putih muncul di Sungai Surabaya. Hal tersebut diduga berkaitan dengan penggunaan foam atau bahan pemadam berbusa saat kebakaran gudang penyimpanan bahan baku di kawasan industri Driyorejo, Jumat (4/9).

Busa tersebut muncul pada Minggu (6/9/2026) di Sungai Rolak. Namun pada Senin (7/9/2026) siang ini, busa sudah tidak terlihat.

"Berdasarkan informasi awal yang dihimpun dari lapangan dan pemberitaan terkait kejadian tersebut, penurunan kualitas air Kali Surabaya diduga berkaitan dengan dampak kegiatan pemadaman kebakaran yang terjadi di salah satu gudang penyimpanan bahan baku di kawasan industri Driyorejo pada Jumat (4/9)," ujar Kepala Sub Divisi Pengelolaan SDA WS Brantas 3 Perum Jasa Tirta I, Agung Wicaksono, Senin (7/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam proses pemadaman kebakaran tersebut diketahui digunakan foam atau bahan pemadam berbusa.

"Mengingat lokasi kejadian berada di sekitar aliran Kali Tengah yang bermuara ke Kali Surabaya, PJT I melakukan pemantauan dan pengambilan sampel kualitas air untuk memastikan keterkaitan serta perkembangan kondisi kualitas air," tuturnya.

ADVERTISEMENT

PJT I kemudian mengambil sampel kualitas air di lima titik untuk memantau kondisi sekaligus memastikan keterkaitan dugaan tersebut. Lima titik itu yakni Hulu Kali Tengah, Muara Kali Tengah, intake Karangpilang, Gunungsari, dan intake Ngagel.

Selain mengambil sampel, PJT I melakukan sejumlah langkah untuk membantu mempercepat pemulihan kualitas air Kali Surabaya. Salah satunya dengan meningkatkan debit air dari Bendung Mlirip.

Debit yang sebelumnya sekitar 20 m³/detik ditambah menjadi 25 m³/detik sejak Sabtu (5/9) malam pukul 21.00 WIB. Penambahan debit dilakukan untuk membantu proses penggelontoran.

"Sejak menerima informasi adanya penurunan kualitas air di Kali Surabaya, kami langsung sigap melakukan sejumlah langkah operasional sebagai bagian dari upaya pengelolaan sumber daya air. Debit dari Mlirip ditingkatkan dari 20 m³/detik menjadi 25 m³/detik untuk membantu penggelontoran. Di saat yang sama, tim kami melakukan pengambilan sampel dan pemantauan kualitas air pada lima titik," beber Agung.

Untuk menjaga kecukupan air sekaligus mendukung pemulihan kualitas air, PJT I juga melakukan pengaturan tambahan pasokan air dari hulu WS Brantas melalui sistem Waduk Sutami.

Pengaturan aliran juga dilakukan melalui Pintu Air (PA) Wonokromo. Pintu air tersebut ditutup sementara agar aliran yang terdampak tidak masuk ke Kali Mas dan diarahkan melalui Kali Wonokromo.

PJT I menyebut, pemantauan kondisi air masih dilakukan secara intensif. Hasil pengambilan sampel di lima titik nantinya menjadi bagian dari pemantauan perkembangan kualitas air Kali Surabaya.

"PJT I akan terus melakukan koordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait serta mengoptimalkan pengaturan tata air guna mendukung percepatan pemulihan kualitas air Kali Surabaya dan menjaga keberlangsungan pemanfaatan air baku bagi masyarakat," pungkasnya.

Sebelumnya, gumpalan busa putih dilaporkan muncul di pintu air Rolak Karah, Surabaya, sejak Minggu (6/9/2026). Fenomena tersebut juga diikuti banyaknya ikan yang mengapung di Sungai Jagir hingga membuat ratusan warga berdatangan untuk menangkap ikan yang disebut 'mabuk'.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads