Karhutla 3.834 Ha dan Kekeringan di Jatim, Pemprov Upayakan OMC

Karhutla 3.834 Ha dan Kekeringan di Jatim, Pemprov Upayakan OMC

Faiq Azmi - detikJatim
Minggu, 06 Sep 2026 20:20 WIB
Tangkapan layar video munculnya titik api baru di Gunung Buthak.
Tangkapan layar video munculnya titik api baru di Gunung Buthak.(Foto: Istimewa)
Surabaya -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menghanguskan 3.834,35 Hektare (Ha) lahan di Jawa Timur (Jatim) selama musim kemarau 2026 ini. Sebanyak 24 kabupaten/kota di Jatim juga telah dilanda kekeringan.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, Pemprov Jatim telah melakukan koordinasi terkait kemungkinan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya untuk membantu mengatasi kondisi kekeringan.

"Jadi OMC saat musim hujan itu, kita ketemu awan lalu kita lakukan operasi modifikasi cuaca sehingga hujannya di laut, kalau awan sudah terlanjur awannya ke darat, OMC itu memecah konsentrasi awan tidak terkonsentrasi di satu titik," kata Khofifah dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khofifah menyebut upaya OMC sebenarnya hendak dilakukan sejak bulan Juli lalu. Namun, kondisi awan belum bisa untuk dilakukan OMC.

Pada awal September ini, Khofifah mengaku telah mendapat informasi bahwa ada potensi awan yang bisa dilakukan OMC untuk turun hujan.

ADVERTISEMENT

"Hari ini sebaliknya, beberapa hari lalu, kita mendapatkan informasi kemungkinan sudah ada yang bergerak, jadi bisa lakukan OMC, maka awan yang masuk ke daratan itu bisa turun menjadi hujan," jelasnya.

Khofifah juga mengajak masyarakat untuk memperbanyak ikhtiar, termasuk melalui pelaksanaan salat istisqa, yakni salat sunnah yang dilakukan untuk memohon kepada Allah SWT agar diturunkan hujan.

"Oleh karenanya, kalau komunitas yang memungkinkan untuk bisa menyegerakan salat istisqa' akan menjadi sangat baik, karena salat istisqa' adalah ibadah untuk memohon pada Allah agar segera menurunkan hujan," terangnya.

Khofifah menyampaikan Pemprov Jatim melalui BPBD terus melakukan berbagai langkah untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses air bersih sebagai salah satu kebutuhan dasar di tengah kondisi kekeringan.

"Kita memberikan substitusi support supply air karena memang kekeringan yang terjadi pada musim kemarau yang cukup ekstrim dan panjang berdampak pada pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat," terangnya.

"Oleh karena itu, BPBD Provinsi Jatim sudah menyiapkan berbagai format penjangkauan untuk bisa memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat," tandasnya.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads