Nelangsa Ibu Muda di Batu Tegur Tetangga Bakar Sampah Berujung Panjang

Round Up

Nelangsa Ibu Muda di Batu Tegur Tetangga Bakar Sampah Berujung Panjang

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Minggu, 06 Sep 2026 08:00 WIB
Tangkapan layar video viral konflik tetangga gegara bakar-bakar sampah di Kota Batu. Perekam video menegur tetangganya mematikan api bakaran karena punya bayi yang sempat infeksi paru-paru.
Cekcok tetangga/Foto: tangkapan layar/dok. Instagram @alfiandiyyy)
Kota Batu -

Video cekcok antar-tetangga gegara pembakaran sampah di Jalan Lesti, RT 05/RW 03, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, viral di media sosial. Persoalan tersebut bermula ketika asap pembakaran sampah masuk ke rumah seorang warga yang memiliki bayi berusia sekitar satu bulan.

Perempuan bernama Novrinia Indraswari itu kemudian menegur tetangganya yang sedang membakar sampah di lahan kosong di belakang rumahnya. Teguran yang awalnya disampaikan secara baik-baik tersebut berujung cekcok hingga videonya ramai diperbincangkan di media sosial.

Video tersebut pertama kali diunggah akun @alfiandiyyy. Pemilik akun telah mengizinkan unggahannya dikutip. Hingga Jumat (4/9/2026) pukul 15.07 WIB, video yang diunggah dua hari sebelumnya itu telah mendapatkan 60,8 ribu tanda suka dan 10,6 ribu komentar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam video, terlihat seorang pria mengenakan kaus hitam sedang membakar sampah di sebuah lahan. Novrinia kemudian menegur pria tersebut karena asap pembakaran masuk ke rumahnya.

ADVERTISEMENT

Novrinia mengaku memiliki bayi berusia sekitar satu bulan yang sebelumnya sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Karena khawatir asap pembakaran mengganggu kondisi bayinya, dia meminta tetangganya memadamkan api.

Menurut Novrinia, pembakaran sampah di lahan tersebut sebenarnya sudah berlangsung hampir setiap hari. Waktu pembakaran tidak menentu, mulai pagi, sore, hingga malam.

"Emang setiap hari orangnya bakar-bakar sampah ya, enggak tahu waktu. Cuman kan biasanya aku diam aja enggak pernah tak tegur. Terus kemarin itu kok baunya kayak bau ban dibakar dan menyengat pol," ujar Novrinia kepada detikJatim, Sabtu (5/9/2026).

Saat pertama kali menegur, Novrinia mengaku menyampaikan permintaannya dengan baik-baik karena memahami lahan tersebut merupakan milik tetangganya.

"Saya bilang pelan-pelan, 'Mas, boleh dimatikan ta? Soalnya saya punya bayi.' Saya tahu diri itu tanah milik dia, takutnya tersinggung. Tapi pas dilihat dari pintu kamar, kok belum dimatikan," tutur Novrinia.

Karena api belum dipadamkan, Novrinia kembali keluar untuk meminta agar pembakaran dihentikan. Namun, menurut dia, respons tetangganya justru membuat suasana memanas.

"Pas ditegur kedua kali, orangnya malah jawab 'Alah wong sampah plastik ae, mari ngene mari Mbak' dan enggak mau mematikan," lanjutnya.

Teguran tersebut kemudian berkembang menjadi cekcok. Dalam video yang beredar, tetangga Novrinia terlihat sempat menyiram api menggunakan selang. Namun, perdebatan kedua pihak tetap berlanjut.

Novrinia mengaku perdebatan tersebut kemudian merembet pada persoalan dirinya yang disebut sebagai pendatang hingga komentar mengenai fisik.

"Dia bilang 'Wong kon pendatang ae! Kon sing ngalih o'. Karena kalah argumen, dia malah ngata-ngatain 'raimu kayak ngono ae' membawa fisik. Terus istrinya juga datang bukannya meredakan malah bilang 'Wis ojok dipateni! Ojok dipateni!'," jelasnya.

Novrinia mengatakan saat kejadian dirinya hanya berada di rumah bersama bayi, sementara suaminya sedang bekerja. Dia mengakui sempat terpancing emosi hingga mengeluarkan kata-kata kasar.

Dalam unggahan yang viral, Novrinia juga menjelaskan dirinya sebenarnya memahami bahwa lahan tempat pembakaran merupakan hak milik tetangganya. Namun, dia berharap persoalan asap yang masuk ke rumah dapat diselesaikan dengan komunikasi.

Persoalan tersebut kemudian berkembang setelah video cekcok tersebar luas di media sosial. Pada Jumat (4/9), Novrinia mengaku dihubungi pihak Kelurahan Ngaglik untuk menghadiri mediasi.

Namun, menurut Novrinia, dirinya diminta datang sendiri tanpa didampingi suami. Dia juga menyebut pihak kelurahan meminta video yang diunggahnya dihapus.

"Pihak kelurahan telepon bilang Pak Lurah minta mediasi sekarang dan suruh take down video. Saya bilang enggak bisa sekarang karena di rumah sendiri jaga bayi, suami lagi kerja. Tapi dijawab harus sendiri, enggak boleh sama suami," tutur Novrinia.

Novrinia mengaku keberatan dengan permintaan tersebut. Terlebih, menurut dia, pihak tetangganya disebut akan datang bersama pengacara.

"Orangnya bilang di sana ada pengacara, terus tanya 'Berarti sudah siap untuk menerima konsekuensinya laporan?'. Saya kan ngerasa lho kok responnya gini, harusnya membela saya sebagai korban kok malah menekan begitu. Tapi saya tegaskan, saya siap maju demi anak saya," tegasnya.

Hingga Sabtu (5/9) pagi, Novrinia mengatakan belum ada mediasi yang menghasilkan kesepakatan. Dia juga menyebut belum ada permintaan maaf secara langsung dari tetangganya.

"Enggak ada itu (informasi damai), belum ada sama sekali. Sampai sekarang belum ada mediasi yang ketemu titik terang atau permintaan maaf secara langsung dari pihak yang bersangkutan," ujar Novrinia saat dihubungi detikJatim, Sabtu (5/9/2026).

Dia kembali menjelaskan bahwa pihak kelurahan sempat memintanya datang ke kantor untuk mediasi. Namun, Novrinia meminta proses tersebut ditunda agar dapat didampingi suaminya.

"Saya diminta ke kelurahan saat itu juga dan harus sendiri, tidak boleh sama suami. Lah saya di rumah menjaga bayi dan suami lagi kerja. Begitu saya minta ditunda besok biar ada pendamping, malah ditakut-takuti soal konsekuensi hukum," ungkapnya.

Novrinia juga menyayangkan adanya permintaan untuk menghapus video sebelum persoalan tersebut mendapatkan penyelesaian.

"Pak Lurah juga minta videonya di-take down. Jujur saya berat hati kalau main hapus gitu aja. Orang yang membakar sampah sampai sekarang belum ke rumah minta maaf, kalau cuma selesai begitu saja ya saya yang rugi," tegas Novrinia.

Di sisi lain, Novrinia mengatakan persoalan pembakaran sampah tersebut bukan baru sekali terjadi. Menurut dia, pembakaran dilakukan hampir setiap hari dan baru kali itu dirinya menegur karena asap yang masuk ke rumah berbau menyengat.

Dia mengaku semakin khawatir karena bayinya baru berusia sekitar satu bulan dan sebelumnya memiliki riwayat infeksi paru-paru.

"Saya siap maju demi anak saya," tegasnya.

Setelah video tersebut viral, persoalan itu juga mulai mendapat perhatian kepolisian. Novrinia mengatakan Kanit Polsek Batu telah menghubunginya melalui WhatsApp untuk menggali informasi mengenai kejadian tersebut.

"Kanit Polsek Batu sudah komunikasi via WhatsApp. Rencananya polisi mau sowan ke rumah untuk minta keterangan lebih lanjut. Saya berharap ada penanganan yang adil dan memberikan efek jera," tandasnya.

Novrinia berharap persoalan tersebut dapat ditangani secara adil. Dia juga meminta adanya tindakan terhadap pembakaran sampah yang menurutnya telah berulang kali dilakukan dan mengganggu lingkungan sekitar.

"Harapannya semoga pelakunya dikasih efek jera. Biar diproses sama polisi dan ada tindakan tegas," tandasnya.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads