Pengunggah video viral cekcok antar-tetangga gegara pembakaran sampah di Jalan Lesti, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, buka suara. Perempuan bernama Novrinia Indraswari menceritakan kronologi pada saat kejadian.
Novrinia mengungkapkan, aksi pembakaran sampah di lahan kosong belakang rumahnya tersebut sejatinya sudah berlangsung hampir setiap hari dan dilakukan oleh orang yang sama. Waktu pembakaran sampah tidak menentu antara pagi, sore, atau malam hari.
"Emang setiap hari orangnya bakar-bakar sampah ya, enggak tahu waktu. Cuman kan biasanya aku diam aja enggak pernah tak tegur. Terus kemarin itu kok baunya kayak bau ban dibakar dan menyengat pol," ujar Novrinia kepada detikJatim, Sabtu (5/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merasa khawatir dengan kondisi bayinya yang pernah memiliki riwayat infeksi paru-paru dan baru pulang dari rumah sakit, Novrinia lantas memberanikan diri untuk menegur tetangganya tersebut secara baik-baik.
"Saya bilang pelan-pelan, 'Mas, boleh dimatikan ta? Soalnya saya punya bayi'. Saya tahu diri itu tanah milik dia, takutnya tersinggung. Tapi pas dilihat dari pintu kamar, kok belum dimatikan," tutur Novrinia.
"Pas ditegur kedua kali, orangnya malah jawab 'Alah wong sampah plastik ae, mari ngene mari mbak', dan enggak mau mematikan," lanjutnya.
Teguran tersebut berujung cekcok mulut setelah tetangganya membalas dengan nada tinggi dan membawa status keberadaan Novrinia sebagai pendatang, hingga merembet ke serangan fisik secara verbal.
"Dia bilang 'Wong kon pendatang ae! Kon sing ngalih o'. Karena kalah argumen, dia malah ngata-ngatain 'raimu kayak ngono ae' membawa fisik. Terus istrinya juga datang bukannya meredakan malah bilang 'Wis ojok dipateni! Ojok dipateni!'," jelasnya.
Pasca kejadian yang berujung viral di media sosial tersebut, Novrinia mengaku dihubungi pihak Kelurahan Ngaglik untuk melakukan mediasi. Namun, ia merasa janggal dan terintimidasi dengan respons perwakilan kelurahan yang meminta dirinya hadir sendirian tanpa didampingi suami.
"Pihak kelurahan telepon bilang pak lurah minta mediasi sekarang dan suruh take down video. Saya bilang enggak bisa sekarang karena di rumah sendiri jaga bayi, suami lagi kerja. Tapi dijawab harus sendiri, enggak boleh sama suami," tutur Novrinia.
Bahkan, kata Novrinia, perwakilan pihak kelurahan tersebut sempat menakut-nakutinya dengan ancaman konsekuensi hukum karena pihak lawan diklaim membawa pengacara.
"Orangnya bilang di sana ada pengacara, terus tanya 'Berarti sudah siap untuk menerima konsekuensinya laporan?'. Saya kan ngerasa, lho kok responnya gini, harusnya membela saya sebagai korban kok malah menekan begitu. Tapi saya tegaskan, saya siap maju demi anak saya," tegasnya.
Hingga saat ini, Novrinia menegaskan belum ada mediasi resmi maupun permintaan maaf secara langsung dari pihak tetangganya. "Harapannya semoga pelakunya dikasih efek jera. Biar diproses sama polisi dan ada tindakan tegas," tandasnya.
