Usai Keracunan Massal, Ponpes Manbaul Hikam Usul MBG Dikelola Pondok

Usai Keracunan Massal, Ponpes Manbaul Hikam Usul MBG Dikelola Pondok

Suparno - detikJatim
Jumat, 04 Sep 2026 12:45 WIB
Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam Sidoarjo, KH Abdul Wahib Harun mengusulkan MBG dikelola internal pondok.
Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam Sidoarjo, KH Abdul Wahib Harun mengusulkan MBG dikelola internal pondok. (Foto: Suparno/detikJatim)
Sidoarjo -

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, KH Abdul Wahid Harun mengusulkan perubahan sistem pengelolaan penyaluran makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ke depan, ia berharap penyediaan makan bergizi gratis dikelola oleh pihak internal pondok pesantren.

Usulan tersebut disampaikan KH Abdul Wahid Harun setelah menerima kunjungan staf khusus kepresidenan ke Ponpes Manbaul Hikam. Menurutnya, kunjungan itu menunjukkan perhatian pemerintah pusat terhadap kondisi para santri setelah terjadinya dugaan keracunan makanan.

"Kami sangat berterima kasih atas perhatian dari pemerintah pusat. Harapan kami kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Program yang sebenarnya baik jangan sampai ternoda karena kelalaian dalam proses," kata KH Abdul Wahid Harun di Ponpes Manba'ul Hikam, Jumat (4/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, pihak pondok sebelumnya telah berdiskusi dengan staf Wakil Presiden. Dari pembahasan itu muncul gagasan agar sistem penyaluran makanan di pondok diubah sehingga pengelolaannya dapat dilakukan secara mandiri oleh lembaga.

Menurut KH Abdul Wahid Harun, konsep tersebut terinspirasi sistem yang diterapkan di Malaysia dan Singapura. Dana program nanti disalurkan kepada lembaga, sedangkan pengelolaan makanan dilakukan langsung oleh pihak pondok.

ADVERTISEMENT

"Jadi bukan lagi makanan datang dari luar. Dana disalurkan ke lembaga, kemudian pondok sendiri yang mengelola. Ini sudah kami diskusikan dengan staf Wapres dan mendapat respons positif," ujarnya.

KH Abdul Wahid Harun mengatakan salah satu pertimbangan perubahan sistem itu adalah persoalan waktu antara proses memasak hingga makanan dikonsumsi santri. Dengan jumlah penerima yang ribuan, menurutnya, jeda waktu menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Jika makanan dimasak dan langsung disajikan di lingkungan pondok, pengawasan terhadap kualitas dan keamanan makanan dinilai lebih mudah dilakukan.

"Kalau jumlahnya 2.500 sampai 2.830 porsi, tentu kalau masak dari jauh kemudian dikirim, ada jeda waktu. Kalau kami kelola sendiri, porsinya terukur, masak langsung, konsumsi langsung. Risikonya bisa diminimalkan," jelasnya.

Ia menegaskan perubahan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap program MBG. Sebaliknya, pihak pondok tetap mendukung program tersebut, tetapi menginginkan sistem penyaluran dan pengelolaannya diperbaiki.

"Programnya tetap kami dukung. Yang kami harapkan adalah sistemnya disempurnakan supaya lebih aman dan berkelanjutan," imbuhnya.

Konsep ini nantinya dikelola langsung oleh pondok dengan melibatkan warga sekitar dan alumni. Warga di sekitar pondok diharapkan dapat ikut terlibat sehingga program tersebut sekaligus memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat.

Sementara pengelolaan teknis makanan akan melibatkan alumni pondok. Dengan demikian, KH Abdul Wahid Harun berharap dirinya dapat tetap fokus pada kegiatan pendidikan, pembinaan santri, serta komunikasi dengan para wali santri.

"Yang mengelola nanti alumni. Warga sekitar juga bisa diberdayakan. Jadi selain kontrol kualitas lebih dekat, masyarakat sekitar juga mendapatkan manfaat," terangnya.

Ia menambahkan, prinsip utama sistem baru itu adalah pengelolaan secara lokal, porsi disesuaikan dengan kebutuhan, serta makanan dimasak dan disajikan dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Santri Mulai Kembali ke Pondok

Sementara itu, proses pemulihan santri yang sebelumnya menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit terus dilakukan. KH Abdul Wahid Harun menyebut masih ada 22 santri yang menjalani perawatan di sembilan rumah sakit.

Para santri yang masih dirawat nantinya akan diantar pulang setelah kondisinya memungkinkan dan tetap dipantau oleh pihak pondok.

"Yang masih dirawat ada 22 santri di sembilan rumah sakit. Nanti kami antar pulang dan terus kami pantau kondisinya," katanya.

KH Abdul Wahid Harun berharap kejadian yang terjadi menjadi bahan evaluasi sekaligus momentum bagi Ponpes Manbaul Hikam untuk melakukan pembenahan.

"Kami melihat ini sebagai ujian. Mudah-mudahan dari ujian ini pondok justru bisa lebih dikenal dan naik kelas. Yang penting kejadian seperti ini jangan sampai terulang," pungkasnya.



(ihc/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads