Dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di wilayah Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Selain 500 santri di pondok pesantren Manbaul Hikam, puluhan siswa SMP dan SMA Tri Bakti juga mengalami keluhan kesehatan.
Total sementara terdapat 27 orang yang mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan MBG yang disuplai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah. Rinciannya, 14 santri di pondok pesantren Roisus Shobur Desa Ngaban Tanggulangin dan 7 siswa SMA Tri Bakti, dan 6 siswa SMP Tri Bakti.
Seluruh korban sempat dibawa ke RSUD Sidoarjo untuk mendapatkan pemeriksaan. Namun tidak ada yang harus menjalani rawat inap. Seluruhnya telah diperbolehkan pulang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala SMA Tri Bakti, Tutik Masriah mengatakan, terdapat tujuh siswanya dari kelas X hingga XII yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG.
"Makanan datang sekitar pukul 08.00 WIB. Kemudian dimakan anak-anak sekitar pukul 09.30 WIB saat jam istirahat," kata Tutik kepada detikJatim di sekolahnya, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, keluhan yang dialami para siswa antara lain mual dan diare. Para siswa kemudian mendapatkan penanganan medis di RSUD Sidoarjo.
Tutik mengatakan, dirinya juga ikut mengonsumsi makanan tersebut sebagai bentuk uji coba sebelum diberikan kepada siswa. Saat itu dia tidak langsung mengalami keluhan.
"Selama ini sebenarnya tidak pernah ada masalah. Menu dari SPPG juga selama ini bagus," ujarnya.
Sementara itu, Kepala SMP Tri Bakti, Indah Wahyuni mengatakan, dari total 42 siswa yang menerima makanan MBG, enam siswa kelas VII mengalami keluhan kesehatan.
"Jumlah siswa kami 42, semuanya mendapatkan MBG. Tapi yang terdampak enam anak, kelas VII," kata Indah.
Indah menjelaskan, makanan MBG tiba di sekolah sekitar pukul 08.10 WIB. Makanan kemudian disantap siswa sekitar pukul 09.40 WIB saat jam istirahat.
"Jadi ada jeda sekitar satu setengah jam dari makanan datang sampai dimakan anak-anak," jelasnya.
Setelah mengonsumsi makanan, sejumlah siswa mulai mengalami mual, muntah, diare hingga pusing. Keluhan tersebut mulai muncul beberapa jam setelah mereka makan.
Enam siswa tersebut kemudian dibawa ke RSUD Sidoarjo. Seluruhnya telah diperbolehkan pulang, dengan siswa terakhir meninggalkan rumah sakit sekitar pukul 03.30 WIB.
Indah menambahkan, pihak sekolah meminta agar pengiriman MBG dihentikan sementara hingga penyebab kejadian tersebut diketahui dan ada kepastian mengenai keamanan makanan.
"Kami sementara meminta ditunda dulu. Anak-anak dan orang tua juga masih trauma dengan kejadian ini," ungkapnya.
Dugaan kejadian serupa juga dialami 14 santri di sebuah pondok pesantren di wilayah Kalitengah. Para santri mengalami keluhan seperti nyeri perut, mual, muntah, diare, lemas hingga sesak napas.
Makanan yang diduga dikonsumsi para korban berasal dari SPPG Kalitengah. Berdasarkan informasi sementara, makanan berupa sayur, kuah dan roti dikirim pada pagi hari, kemudian sebagian baru dikonsumsi saat siang.
Meski demikian, penyebab pasti keluhan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan. Diperlukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan serta pemeriksaan terhadap proses pengolahan, penyimpanan dan distribusi makanan.
Faktor waktu antara makanan tiba dan dikonsumsi juga perlu diperiksa. Makanan yang berada terlalu lama pada kondisi penyimpanan yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko pertumbuhan mikroorganisme tertentu.
