Tanaman lumut kerap dianggap mengganggu dan tidak berharga. Namun, lewat tangan kreatif Tendra Lucky Kurniawan, lumut justru disulap menjadi dekorasi bernilai seni tinggi yang disebut Moss Art atau Moss Wall Art.
Karya seni berbasis estetika alam ini tengah naik daun sebagai pemanis dekorasi interior rumah pribadi, perkantoran hingga fasilitas publik. Tendra menceritakan, ide pembuatan Moss Wall Art bermula dari ketertarikannya menjelajahi media sosial.
"Jadi dulu itu saya sering lihat-lihat di sosial media, terutama di Pinterest itu melihat kok bagus dan pada saat itu belum banyak di Indonesia. Akhirnya saya kulik-kulik dan kebetulan saya adalah suplier tanaman anggrek dan memiliki banyak lumut," terang Tendra saat ditemui detikJatim di Workshopnya 'Lucky Garden' Desa Sidomulyo, Kota Batu, Jumat (28/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situasi pandemi COVID-19 yang membuat usaha anggrek turun drastis, memaksanya untuk berpikir kreatif. Ia mulai memberanikan diri untuk mencoba secara otodidak membuat Moss Wall Art.
"Kebetulan di Indonesia kan belum terlalu banyak yang bikin. Saya ulik dan cari-cari caranya. Memang butuh trial and error berulang kali sampai kurang lebih 4-6 bulan," kata Tendra.
Proses panjang dia lalui untuk mendapatkan formula yang pas agar lumut bisa memiliki daya tahan lama dan tidak cepat mengering atau berubah warna. Uji coba berulangkali ia lakukan hingga akhirnya menemukan formula tepat agar lumut awet.
Tendra menyampaikan, keunikan karyanya terletak pada proses pengawetan lumut yang membutuhkan penanganan khusus. Pengawetan ini memakan waktu sekitar 1 hingga 2 minggu sebelum lumut siap dirangkai dan didesain di atas media bingkai atau dekorasi taman.
"Lumut ini bisa bertahan lama. Bahkan, kalau perawatan dilakukan secara rutin dan tepat, bisa bertahan sampai 5-7 tahun. Perawatannya juga cukup mudah dan nggak begitu sering. Cuma satu tahun mungkin 1 sampai 2 kali saja untuk pembersihan dan penyemprotan detailing-nya," ujarnya.
Untuk varian lumut natural yang telah diawetkan, penempatannya disarankan di dalam ruangan. Sementara untuk kebutuhan luar ruangan, Tendra menyediakan opsi material sintetis yang tahan terhadap cuaca ekstrim.
"Memang lumut ini khusus untuk indoor ya. Jadi gak bisa kena air atau panas berlebihan," imbuhnya.
Hasil karyanya yang indah dan kualitasnya yang tidak diragukan lagi, jangkauan Moss Wall Art buatan Tendra ini sudah tembus ke berbagai kota besar di Indonesia. Ia mengaku paling banyak mendapat permintaan dari daerah Surabaya.
"Di Malang Raya ada permintaan tapi tidak begitu banyak, paling banyak itu di Surabaya. Saya yang sudah mulai memasarkan ini selama dua tahun terakhir, juga pernah menerima pesanan dari Bali, Jakarta, Bandung, Kalimantan hingga menghiasi interior Bandara di Labuan Bajo," ungkapnya.
Soal patokan harga, Tendra membanderol karya seni dinding lumut ini berdasarkan tingkat kesulitan desain, jenis material, serta ukurannya. Rata-rata Moss Wall Art ini dipasarkan dengan kisaran harga Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per meter persegi.
(auh/hil)
