Menko Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) menekankan pentingnya teknologi pertanian dan peternakan di halaqah kebangsaan di Universitas Darul Ulum (Undar), Jombang. Sebab pengaplikasian teknologi mampu menekan biaya produksi secara signifikan.
Zulhas menjelaskan, ongkos produksi untuk menghasilkan 1 Kg beras dan 1 Kg gula pasir di Indonesia mencapai Rp 12.000 dan Rp 14.000. Sedangkan di Tiongkok, India, Thailand dan Vietnam, ongkos produksi beras dan gula pasir hanya Rp 3.800/Kg dan Rp 3.700-3.800/Kg.
"Orang lebih kaya mengeluarkan lebih sedikit (biaya produksi), kita lebih susah mengeluarkan lebih banyak. Zalim sebetulnya kita ini. Ini hukuman kalau kita enggak bersyukur, hukuman karena kita enggak belajar. Itu ada ilmunya semua yang harus kita pelajari," jelasnya saat Halaqah Kebangsaan Ekonomi Bisnis Pesantren 2026 digelar di Aula Undar, Jombang, Kamis (27/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zulhas lantas membandingkan jauhnya kecepatan penanaman padi secara tradisional dibandingkan menggunakan teknologi. Semasa kecilnya, butuh 24 orang untuk menanam padi seluas 1 hektare. Sedangkan dengan mesin tanam padi, 1 hari bisa menanam di lahan 24 hektare.
"Jadi memang kita harus belajar. Big business-nya, teknologinya harus. Kampus harus mau belajar, pondok juga harus mau belajar. Kalau kita tidak belajar ini, kita akan tertinggal terus," ujarnya.
Ayam kampung di tanah air, menurut Zulhas, juga kalah jauh produktivitas telurnya dibandingkan ayam hasil rekayasa genetika dari luar negeri. Ayam kampung hanya menghasilkan sekitar 1 Kg telur per tahun sebab hanya bertelur sekitar 2 bulan. Sedangkan ayam hasil rekayasa genetika mampu bertelur selama 320 hari.
"Ayam broiler 30 hari sudah bisa 1,5 Kg, 38 hari 2 Kg ayam itu. Kita setahun sekilo belum tentu, kurus. Jadi ini memang ada ilmunya, sunatullahnya istilahnya yang harus kita pelajari," terangnya.
"Untuk urusan dunia, Allah SWT Maha Pengasih, Maha Penyayang, siapa pun diberi. Yang tidak percaya Tuhan pun diberi, asal punya hukumnya, punya ilmunya. Termasuk Tiongkok, termasuk Vietnam. Urusan dunia ya, surga, neraka soal lain lagi. Tapi urusan dunia semua diberi," imbuhnya.
Tidak hanya itu, tambah Zulhas, pendidikan di Indonesia juga harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, saat ini sudah banyak pondok pesantren dan kampus yang berkualitas. Salah satunya karena mengadopsi Kurikulum Cambridge.
"Kurikulum Cambridge, tapi malam belajar belajar fiqih, belajar hadis, belajar dan lain-lain. Kampusnya disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang ada," tandasnya.
