Luas kawasan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Trenggalek mencapai 54,25 hektare. Sebaran kebakaran terjadi di lima kecamatan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, mengatakan selama musim kemarau terjadi 23 kali karhutla. Peristiwa tersebut terjadi di 13 desa yang tersebar di lima kecamatan, meliputi Panggul, Karangan, Trenggalek, Pogalan, dan Gandusari.
"Rinciannya kejadiannya di Desa Gayam, Besuki dan Nglebeng, Kecamatan Panggul, kemudian Desa Desa Jatiprahu, Sumberingin dan Kedungsigit, Kecamatan Karangan," kata Triadi, Senin (24/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Kecamatan Trenggalek kebakaran hutan terjadi di Desa Desa Karangsoko, Ngantru dan Tamanan. Di Kecamatan Gandusari di Desa Karanganyar dan Wonoanti, sedangkan Kecamatan Pogalan meliputi Desa Ngetal dan Ngulankulon.
"Kawasan yang terbakar ini ada dua, yaitu wilayah hutan di bawah pengelolaan Perhutani dan lahan milik warga," jelasnya.
Menurutnya seluruh insiden karhutla langsung mendapatkan penanganan dari tim gabungan untuk dilakukan proses pemadaman. Upaya pemadaman dilakukan secara manual maupun menggunakan mobil pemadam.
"Biasanya untuk wilayah hutan susah dijangkau dengan mobil damkar, sehingga harus dipadamkan secara manual dengan menggunakan ranting atau alat pemukul," ujarnya.
Triadi memastikan saat ini titik kebakaran hutan dan lahan tersebut telah berhasil dipadamkan dan tidak ada yang merembet ke kawasan permukiman warga.
"Karakter karhutla di Trenggalek hanya spot-spot dan bisa langsung dipadamkan," imbuhnya.
Dijelaskan kebakaran hutan dan lahan di wilayahnya sebagian terjadi akibat ulah warga yang melakukan pembakaran sampah di sekitar kawasan hutan.
"Biasanya percikan api itu mengenai area yang ada di sekitarnya dan akhirnya merembet ke kawasan hutan," katanya.
Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran di sekitar kawasan hutan maupun kegiatan lain yang dapat memicu terjadinya kebakaran.
"Perlu kita ketahui saat ini sedang musim kemarau, sehingga mudah terjadi kebakaran," jelasnya.
