SDN Setono di Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan, Ponorogo, resmi ditutup mulai tahun ajaran 2026/2027. Sekolah tersebut ditutup setelah tiga tahun berturut-turut tidak mendapatkan siswa baru.
Plt Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Ponorogo Rakhma Noor Meyta mengatakan, penutupan bukan semata keputusan pemerintah. Langkah tersebut merupakan hasil pengajuan dan kesepakatan wali murid, komite sekolah, serta masyarakat setempat.
"Penutupan sekolah tersebut merupakan hasil pengajuan dan kesepakatan bersama wali murid, komite sekolah, serta masyarakat," kata Meyta, Sabtu (22/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Meyta, SDN Setono memang sudah tidak mendapatkan murid baru selama tiga tahun terakhir. Kondisi itu membuat jumlah siswa terus menyusut hingga tersisa enam anak.
"Alasan pertama memang peminat tidak ada. Tiga tahun tak ada siswa," ujarnya.
Selain minim peminat, enam wali murid yang anaknya masih bersekolah di SDN Setono juga sepakat dengan rencana penutupan. Kesepakatan tersebut turut diketahui lurah, camat, komite, dan pengawas sekolah.
"Jadi memang pengusulan untuk permohonan penutupan itu dari kesediaan dari mereka," jelas Meyta.
Pengajuan penutupan SDN Setono telah dilakukan sejak 2025. Dindik Ponorogo kemudian melakukan pembahasan melalui sejumlah rapat hingga akhirnya sekolah tersebut ditutup pada tahun ajaran ini.
"Memang karena dari prosesnya itu sudah dari dua tahun terakhir, yang pertama tidak dapat murid, kedua kesepakatan," ungkapnya.
Meyta memastikan, untuk tahun ajaran 2026/2027 baru SDN Setono yang mengajukan proposal penutupan. Belum ada SD negeri lain di Ponorogo yang mengajukan proposal serupa.
Enam siswa terakhir SDN Setono kini telah dipindahkan ke sekolah terdekat. Dua siswa pindah ke SDN 1 Japan, sedangkan empat siswa lainnya pindah ke SDN 1 Singosaren.
"Ada yang di SDN 1 Japan dan SDN 1 Singosaren. Dua siswa di SDN 1 Japan, sisanya di SDN 1 Singosaren," paparnya.
Kondisi SDN Setono kini tampak sepi. Tidak terlihat aktivitas belajar mengajar di sekolah yang berada di Jalan Niken Gandini tersebut.
Sejumlah ruang kelas bahkan sudah tidak memiliki meja dan kursi. Ruang kelas I dan II juga telah ditutup menggunakan seng. Meski demikian, kondisi bangunan sekolah secara umum masih terlihat kokoh.
Sementara itu, Plt Lurah Setono Handry Reza Pratama mengatakan, sekolah sudah tidak digunakan sejak awal tahun ajaran baru.
"Mulai bulan Juli kemarin, saat MPLS sudah ditutup. Bisa dilihat sendiri kosong," kata Handry.
Handry menyebut, minimnya siswa sudah berlangsung selama beberapa tahun. Bahkan, kelas I, II, dan III sempat tidak memiliki siswa.
"Dari dulu kelas 1, 2, 3 itu tidak ada siswanya. Kadang ada yang daftar tapi cuma satu atau dua anak. Lalu karena nggak ada teman akhirnya pindah," tuturnya.
Handry mengaku menyayangkan penutupan SDN Setono karena sekolah tersebut merupakan satu-satunya SD negeri di wilayah Kelurahan Setono.
Pihak kelurahan, kata dia, sebelumnya telah melakukan sosialisasi kepada warga agar menyekolahkan anaknya di SDN Setono. Namun, pilihan sekolah tetap berada di tangan masing-masing orang tua.
"Sebenarnya sih banyak sosialisasi ke warga untuk bisa menyekolahkan anaknya di SD Setono. Tapi keputusan terakhir ada di orang tua. Mungkin mereka memilih SD-SD yang lebih favorit," ujarnya.
Handry juga menduga lokasi sekolah yang berada di pinggir jalan raya menjadi salah satu pertimbangan orang tua. Tingginya volume kendaraan membuat sebagian orang tua khawatir dengan keselamatan anak saat keluar-masuk sekolah.
"Mungkin intensitas kendaraan yang sekarang banyak. Takutnya kalau mau menyeberang, anak-anak itu juga risiko. Orang tuanya juga mungkin waswas, misalnya ditinggal pulang atau beli jajan harus menyeberang," pungkasnya.
(irb/hil)
