Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggelar skrining tuberkulosis (TBC) terhadap 2.481 santri dan 197 guru Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Jombang 3 hari ke depan. Skrining perdana hari ini, mereka menemukan 26 santri yang terjangkit TBC.
Skrining TBC perdana menyasar SMA A Wahid Hasyim PP Tebuireng. Setiap santri dan guru diperiksa menggunakan rontgen (X Ray) portabel. Mereka cukup berdiri di depan alat ini. Skrining disaksikan langsung Menkes, Budi Gunadi Sadikin.
Budi menjelaskan, kasus TBC di tanah air tergolong buruk karena Indonesia rangking paling bawah dunia setelah India. Angka kematian karena TBC mencapai 120-140 ribu per tahun mengalahkan COVID-19. Artinya, setiap 5 menit terjadi 2 kematian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Padahal obatnya ada. Kenapa obatnya ada meninggalnya banyak? Karena memang skriningnya, ketahuannya sering sangat terlambat," jelasnya kepada wartawan di lokasi, Kamis (20/8/2026).
Oleh sebab itu, lanjut Budi, Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia bebas dari TBC. Pihaknya pun melakukan optimalisasi skrining. Salah satunya dengan pengadaan rontgen portabel untuk semua puskesmas di Indonesia.
"Kemenkes akan membeli X-ray yang banyak, ribuan, bagi ke seluruh puskesmas untuk bisa melakukan skrining atau X-ray rontgen ke sekolah-sekolah, ke pesantren-pesantren, terutama ke lapas-lapas, terutama yang memang tidurnya rapat-rapat, banyak aja kayak berasrama seperti ini," terangnya.
Seperti yang diterapkan di PP Tebuireng. Menurut Budi, skrining hari pertama, ditemukan 26 santri yang terjangkit TBC. Ia meminta santri lainnya tak perlu khawatir. Sebab penularan dari santri yang terjangkit bakal terhenti setelah diobati selama satu bulan.
"Jadi banyak orang bilang kalau ada TBC, Wah, sekolah kita jelek, sekolah kita kelihatan jelek, enggak. Justru kalau ketemu TBC itu bagus karena bisa diobatin dan tidak menular. Jadi saya terima kasih ke pengurus Pondok Pesantren Tebuireng yang sudah mau memulai. Mudah-mudahan nanti bisa ke 42.000 pesantren lainnya," ujarnya.
Perwakilan Pengasuh PP Tebuireng, Lelly Lailliya menyampaikan terima kasih kepada Kemenkes yang membantu memutus penularan TBC melalui skrining gratis. Terkait 26 santri yang terdeteksi mengidap TBC, ia mengimbau santri lainnya tak khawatir tertular. Sebab para santri yang terjangkit TBC bakal diberi obat gratis selama 1-3 bulan.
"Jadi, tidak boleh teman-temannya itu diisolasi atau dijauhi, tetapi sama-sama cuma teman-temannya nanti pakai masker. Jadi itu harap dimaklumi, karena kita sudah mengalami itu pada saat kemarin kita semua pada pakai masker yaitu pada saat pandemi," tandasnya.
