HIV masih menjadi salah satu penyakit yang sering disalahpahami. Tidak sedikit yang menganggap HIV sama dengan AIDS, padahal keduanya kondisi yang berbeda.
Kesalahan memahami HIV juga dapat memicu stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV), sehingga mereka enggan melakukan pemeriksaan maupun pengobatan.
Lantas, HIV penyakit apa? Simak penjelasan mengenai pengertian HIV, gejala, cara penularan, pengobatan, hingga langkah pencegahannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
HIV Penyakit Apa?
Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama sel CD4 atau sel T yang berfungsi melawan infeksi. Ketika virus ini merusak sel-sel tersebut, kemampuan tubuh untuk melindungi diri dari berbagai penyakit akan menurun.
Apabila tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, HIV dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh telah melemah sehingga penderita lebih rentan mengalami infeksi oportunistik maupun penyakit serius lainnya.
Sementara itu, World Health Organization (WHO) menjelaskan hingga saat ini HIV memang belum dapat disembuhkan. Namun, infeksi ini dapat dikendalikan melalui terapi antiretroviral (ARV), sehingga orang dengan HIV tetap dapat hidup sehat, produktif, dan memiliki harapan hidup yang panjang.
Baca juga: Benarkah Ada Jam Terbaik Minum Air? |
Apa Perbedaan HIV dan AIDS?
HIV dan AIDS bukanlah kondisi yang sama. HIV merupakan virus penyebab infeksi, sedangkan AIDS adalah stadium paling lanjut dari infeksi HIV yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh mengalami kerusakan berat. Agar lebih mudah dipahami, berikut perbedaan HIV dan AIDS.
Perbedaan HIV
- HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus.
- HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama sel CD4.
- Infeksi HIV dapat dikendalikan dengan terapi antiretroviral (ARV).
- Orang dengan HIV tidak selalu berkembang menjadi AIDS apabila rutin menjalani pengobatan.
Perbedaan AIDS
- AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome.
- AIDS adalah stadium paling lanjut dari infeksi HIV.
- Pada tahap ini, sistem kekebalan tubuh telah melemah secara signifikan sehingga penderita rentan mengalami infeksi oportunistik dan penyakit serius.
- AIDS umumnya terjadi apabila infeksi HIV tidak didiagnosis atau tidak mendapatkan pengobatan yang tepat.
Dengan diagnosis dini dan kepatuhan menjalani terapi ARV, banyak orang dengan HIV dapat hidup sehat dan tidak berkembang menjadi AIDS.
Apa Saja Gejala HIV?
Gejala HIV dapat berbeda pada setiap orang. Bahkan, sebagian penderita tidak mengalami keluhan selama bertahun-tahun sehingga infeksi baru diketahui setelah menjalani pemeriksaan. Meski demikian, terdapat sejumlah gejala yang dapat muncul pada tahap awal maupun ketika penyakit telah berkembang.
Gejala Awal HIV
Sebagian orang dapat mengalami gejala pada tahap awal infeksi HIV, meski ada pula yang tidak merasakan keluhan apa pun. Gejala ini umumnya muncul beberapa minggu setelah terinfeksi dan sering kali menyerupai flu sehingga kerap tidak disadari.
- Sariawan
- Sakit kepala
- Kelelahan
- Radang tenggorokan
- Hilang nafsu makan
- Nyeri otot
- Ruam kulit
- Pembengkakan kelenjar getah bening
- Berkeringat pada malam hari
Karena gejalanya sering menyerupai flu atau penyakit umum lainnya, HIV tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan keluhan. Pemeriksaan atau tes HIV di fasilitas kesehatan tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Gejala Stadium Lanjut
Apabila tidak mendapatkan pengobatan, HIV dapat berkembang menjadi AIDS. Pada tahap ini, sistem kekebalan tubuh melemah secara signifikan sehingga penderita lebih rentan mengalami infeksi oportunistik. Beberapa penyakit yang sering muncul antara lain sebagai berikut.
- Tuberkulosis (TBC)
- Kandidiasis
- Pneumonia
- Herpes zoster
- Infeksi sitomegalovirus (CMV)
Cara Penularan HIV
HIV ditularkan melalui cairan tubuh tertentu, terutama darah, cairan kelamin, dan air susu ibu (ASI). Penularan tidak terjadi melalui kontak biasa, melainkan melalui paparan cairan tubuh yang mengandung virus. Beberapa cara penularan HIV meliputi berikut.
- Hubungan seksual tanpa kondom dengan orang yang mengidap HIV.
- Penggunaan jarum suntik secara bergantian.
- Penularan dari ibu dengan HIV kepada bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui apabila tidak mendapatkan terapi.
- Transfusi darah atau tindakan medis yang tidak memenuhi standar keamanan, meski risikonya kini sangat rendah karena adanya proses skrining darah.
WHO dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menegaskan HIV tidak menyebar melalui kontak sosial sehari-hari. Karena itu, masyarakat tidak perlu takut berinteraksi atau memberikan dukungan kepada penyintas. HIV tidak menular melalui:
- Berjabat tangan
- Berpelukan
- Berbagi makanan atau minuman
- Menggunakan toilet bersama
- Berenang bersama
- Batuk atau bersin
- Gigitan nyamuk
Siapa yang Berisiko Terkena HIV?
Setiap orang dapat terinfeksi HIV. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan, antara lain sebagai berikut.
- Berganti-ganti pasangan seksual
- Melakukan hubungan seksual tanpa kondom
- Menggunakan jarum suntik secara bergantian
- Menerima tindakan medis dengan alat yang tidak steril
Memiliki faktor risiko bukan berarti pasti terinfeksi HIV. Pemeriksaan atau tes HIV tetap menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui status infeksi secara pasti.
Bagaimana HIV Didiagnosis?
Memiliki faktor risiko bukan berarti seseorang pasti terinfeksi HIV. Untuk mengetahui status HIV, seseorang perlu menjalani tes di fasilitas kesehatan. Infeksi HIV juga tidak dapat dipastikan hanya dari gejalanya.
Pemeriksaan atau tes HIV merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi virus tersebut. Semakin cepat HIV terdeteksi, semakin cepat pula terapi dapat dimulai sehingga risiko berkembang menjadi AIDS dapat ditekan.
Apakah HIV Bisa Disembuhkan?
WHO menyatakan hingga kini belum ada obat yang dapat menghilangkan HIV dari dalam tubuh. Meski demikian, terapi antiretroviral (ARV) mampu menekan jumlah virus hingga berada pada tingkat yang sangat rendah, sehingga sistem kekebalan tubuh tetap terjaga.
Dengan pengobatan yang dijalani secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan, orang dengan HIV dapat menjalani hidup sehat, bekerja, beraktivitas, dan memiliki harapan hidup yang mendekati orang tanpa HIV.
Pengobatan HIV
Pengobatan utama HIV adalah terapi antiretroviral (ARV). Obat ini bekerja dengan menghambat perkembangan virus sehingga kerusakan sistem kekebalan tubuh dapat diperlambat.
Selain rutin mengonsumsi ARV, penderita juga dianjurkan menjalani pola hidup sehat, memenuhi kebutuhan gizi, melakukan kontrol secara berkala, serta memperoleh dukungan dari keluarga maupun komunitas agar kualitas hidup tetap terjaga.
Cara Mencegah HIV
Penularan HIV dapat dicegah melalui perubahan perilaku dan peningkatan kesadaran masyarakat. Upaya pencegahan juga menjadi langkah penting untuk menekan angka kasus HIV. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut.
- Setia kepada satu pasangan.
- Menggunakan kondom secara benar dan konsisten.
- Tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian.
- Menghindari penyalahgunaan narkotika suntik.
- Melakukan tes HIV apabila memiliki faktor risiko.
- Ibu hamil menjalani pemeriksaan HIV untuk mencegah penularan kepada bayi.
- Meningkatkan edukasi mengenai HIV agar masyarakat memahami cara penularan, pencegahan, dan pentingnya pengobatan.
Masyarakat harus segera melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala mengarah HIV, memiliki faktor risiko penularan, atau mengetahui pasangan terdiagnosis HIV. Deteksi dini memungkinkan pengobatan dimulai lebih cepat sehingga kualitas hidup tetap terjaga dan risiko penularan dapat ditekan.
