Bencana kekeringan di Trenggalek semakin meluas dari sebelumnya berdampak di 10 desa menjadi 15desa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menggelontorkan bantuan air bersih.
"Betul wilayah yang terdampak yang semula 10 desa, sekarang manjadi 15 desa," kata Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, Selasa (4/8/2026).
Triadi mengatakan bahwa 15 desa desa yang mengalami krisis air itu tersebar di 8 kecamatan. Kondisi terparah desa terdampak kekeringan menurutnya terjadi di Kecamatan Panggul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
DataPusdalops BPBD Trenggalek menyebutkan 15 desa itu yakni Desa Banjar, Nglebeng, Besuki, Karangtengah, Panggul, Kertosono, dan Ngrencak yang berada di Kecamatan Panggul.
Selanjutnya ada Desa Prambon di Kecamatan Tugu, Desa Pandean dan Cakul di Kecamatan Dongko, Desa Wonoanti di Kecamatan Gandusari, Desa Slawe di Kecamatan Watulimo, Desa Timahan di Kecamatan Kampak, Desa Wonocoyo di Kecamatan Pogalan, serta Desa Karangsoko di Kecamatan Trenggalek.
"Rata-rata kondisi mata air atau sumur warga sudah menyusut drastis, sehingga tidak mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti MCK maupun memasak," ujarnya.
Menurutnya untuk menanggulangi dampak krisis air bersih, masing-masing pemerintah desa terdampak telah mengajukan permohonan bantuan air bersih ke BPBD.
"Kami penuhi permintaan warga secara bergilir, harapannya kebutuhan utama masyarakat bisa terpenuhi," jelasnya.
Menurutnya pemenuhan kebutuhan air bersih dilakukan melalui beberapa posko, salah satunya di Kecamatan Panggul. Keberadaan pos di pesisir selatan tersebut cukup membantu untuk mempercepat distribusi bantuan air bersih.
"Bantuan air bersih tidak hanya dari pemerintah daerah saja, ada beberapa instansi vertikal dan pihak swasta uang yang turut serta membantu masyarakat," kata Triadi.
Pj Sekda Trenggalek ini menambhakan pada musim kemarau, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam memanfaatkan air bersih di rumah. Jangan sampai stok air terbuang sia-sia untuk hal yang tidak penting.
Bencana kekeringan di Trenggalek rutin terjadi pada saat musim kemarau panjang. Wilayah yang menjadi langganan krisis air tersebar secara sporadis di kawasan pegunungan hingga dataran rendah.
"Kesiapan anggaran tentu menjadi prioritas kami agar dapat membantu masyarakat dalam penanggulangan kekeringan," jelasnya.
