Berada tepat di depan Balai Kota Malang, Monumen Tugu Malang berdiri megah sebagai saksi bisu perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan. Tugu berarsitektur bambu runcing ini bukan sekadar ikon kota, melainkan mencatatkan sejarah penting sebagai monumen pertama yang dibangun di Indonesia setelah kemerdekaan diproklamasikan.
Berdasarkan data Sistem Informasi Data Pariwisata (Sidita) Disbudpar Jawa Timur, kawasan Alun-Alun Tugu Malang mulanya merupakan sebuah taman lingkaran sederhana bernama JP Coen Plein. Taman tersebut dibangun pada era kolonial Belanda tahun 1920 menggunakan rancangan arsitek Thomas Karsten, dengan tujuan untuk menghormati Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoen Coen sebagai pendiri Kota Batavia (Jakarta).
Tak hanya sebagai ruang publik kolonial, lanskap di sekitar alun-alun tersebut ternyata menyimpan rekam jejak militer. Pakar Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), Reza Hudiyanto, mengungkapkan bahwa kawasan lapangan ini dulunya kerap dimanfaatkan oleh pihak Belanda sebagai lokasi latihan pertahanan gas beracun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Zaman Belanda dulu sering buat latihan, misalnya waktu Perang Dunia I kan ada penggunaan gas mustard atau gas beracun. Nah, latihan penggunaan gas itu dilaksanakan di lapangan itu oleh anak-anak HBS," terang Reza saat dihubungi detikJatim, Senin (17/8/2026).
Setahun pascakemerdekaan Indonesia, muncul inisiatif dari para tokoh lokal untuk mengubah fungsi kawasan tersebut. Mereka ingin membangun sebuah tugu di tengah taman sebagai simbol perjuangan rakyat. Peletakan batu pertama pembangunan tugu pun resmi dilakukan pada tahun 1946 oleh Gubernur Doel Arnowo bersama Wali Kota Malang M. Sardjono.
Namun, perjalanan berdirinya monumen ini tak lantas berjalan mulus. Berdasarkan catatan Direktorat Pengembangan Kawasan Permukiman Kementerian PUPR, Militer Belanda berhasil menguasai kembali Kota Malang saat Agresi Militer I pada tahun 1947. Pihak Belanda kemudian mengalihfungsikan monumen tersebut menjadi Tugu Kolonialisme dengan meletakkan mahkota kerajaan dan bendera Belanda di puncaknya.
Puncaknya, pada 23 Desember 1948, militer Belanda menghancurkan bangunan tugu tersebut.
Setelah situasi politik dan keamanan mereda, Pemerintah Indonesia kembali merekonstruksi tugu tersebut. Usaha pembangunan ulang ini berbuah manis hingga akhirnya diresmikan secara langsung oleh Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno, pada tahun 1953.
Reza menambahkan, keberadaan Tugu Malang dibangun dengan filosofi kuat dalam konteks dekolonisasi dan peringatan perjuangan bangsa.
"Tujuannya memang untuk memperingati perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Makna tujuannya bisa dilihat dari bentuknya, ada bambu runcing, ada Pancasila, hingga relief kepulauan lima pulau besar Indonesia," kata dia.
Hal senada juga dijelaskan oleh Helmi Muzaki dalam buku BIPA tingkat 3 Berbasis Budaya Lokal Malang, yang menyebutkan bahwa tiap lekuk arsitektur monumen ini memuat arti mendalam. Bentuk bambu tajam di puncak tugu melambangkan bambu runcing sebagai senjata utama mengusir penjajah.
Ukiran rantai yang melingkar menggambarkan persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia yang tak goyah. Selain itu, terdapat pula simbol Pancasila serta relief kepulauan yang merepresentasikan lima pulau besar di Indonesia.
Pesan sejarah kemerdekaan juga tersirat secara matematis pada struktur bangunan Tugu Malang. Bintang dengan 17 fondasi, bangunan 8 tingkat, serta tangga yang dibentuk dari 4 dan 5 sudut, secara padu melambangkan tanggal keramat kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945.
Sementara itu, hamparan bunga teratai merah dan putih yang mengelilingi kolam di sekitar tugu melambangkan keberanian dan kesucian, searas dengan warna bendera Sang Saka Merah Putih.
