Jejak Pramuka di Malang dari Raimuna hingga Perkemahan Dunia

Jejak Pramuka di Malang dari Raimuna hingga Perkemahan Dunia

Mira Rachmalia - detikJatim
Kamis, 13 Agu 2026 13:00 WIB
Ilustrasi Pramuka
Ilustrasi Pramuka. Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Malang -

Malang ternyata menyimpan jejak penting dalam perjalanan Gerakan Pramuka Indonesia. Bukan hanya pernah menjadi lokasi perkemahan tingkat nasional, kawasan ini juga menjadi tempat lahirnya istilah "Raimuna", yang kemudian digunakan untuk pertemuan besar Pramuka Penegak dan Pandega hingga sekarang.

Jejak itu bahkan berlanjut ke Desa Lebakharjo, Kabupaten Malang, yang menjadi lokasi perkemahan Pramuka berskala Asia-Pasifik hingga perkemahan pengembangan masyarakat tingkat dunia.

Rangkaian sejarah tersebut berlangsung dalam rentang waktu yang berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama, yaitu Pramuka tidak hanya berkemah, tetapi juga hadir untuk membangun masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari Karangkates pada 1978 hingga Lebakharjo pada 1993, Malang menjadi bagian dari perjalanan Pramuka Indonesia dari panggung nasional menuju forum internasional.

Peran Malang dalam Sejarah Pramuka

Jawa Timur memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan Gerakan Pramuka. Menurut Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Jawa Timur Arum Sabil, seperti dikutip dari detikJatim yang merujuk laman pramukarek.or.id, setidaknya terdapat tiga tonggak penting yang berlangsung di wilayah Jawa Timur.

ADVERTISEMENT

Pertama adalah penggunaan istilah Raimuna dalam Raimuna Nasional III di Karangkates, Malang, pada September 1978. Kedua, penyelenggaraan Perkemahan Wirakarya dan Perkemahan Wirakarya Asia-Pasifik pertama di Desa Lebakharjo, Malang, pada 1978. Ketiga, Indonesia menjadi tuan rumah Community Development Camp (Comdeca) pertama di dunia di Lebakharjo pada 1993.

Ketiganya membuat Malang memiliki cerita yang lebih panjang daripada sekadar menjadi lokasi kegiatan Pramuka. Kawasan ini menjadi ruang bagi perkembangan gagasan tentang pertemuan, pengabdian, pembangunan desa, dan kerja sama kepramukaan lintas negara.

1978, Saat Istilah "Raimuna" Mulai Digunakan

Salah satu jejak paling menarik bermula dari Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Raimuna merupakan pertemuan besar bagi Pramuka Penegak dan Pandega yang dikemas dalam kegiatan kreatif, rekreatif, produktif, dan edukatif.

Istilah tersebut berasal dari bahasa Ambai di Yapen Timur, Papua. Kata itu tersusun dari unsur yang bermakna kelompok orang atau kepala suku serta kekuatan positif.

Sebelum istilah Raimuna digunakan, kegiatan sejenis dikenal sebagai Pertemuan Pramuka Penegak Pandega Putra Putri (Perppanitera/Perppanitra). Kemudian, Gerakan Pramuka menyatukan penyebutan kegiatan tersebut dengan nama Raimuna.

Momen penting itu terjadi dalam Raimuna Nasional III di Karangkates, Malang, pada 14-23 September 1978. Dokumentasi Pramuka DIY menegaskan bahwa kegiatan tersebut berlangsung pada 1978, bukan 1976 seperti yang masih muncul dalam sejumlah dokumen atau hasil pencarian lama.

Arsip Pemprov DIY juga mencatat Raimuna Nasional III di Karangkates, Malang, pada tanggal tersebut. Kisah di balik nama Raimuna juga masih tersimpan melalui kesaksian peserta dan penggiat Pramuka.

Dalam dokumentasi Webinar Nasional Sejarah Raimuna yang dipublikasikan Pramuka DIY, Prijo Mustiko mengingat sosok Kak Sinery dari Irian Jaya atau Papua sebagai pengusul nama tersebut.

Raimuna Nasional III juga berlangsung pada masa ketika komunikasi dan kondisi sosial-politik belum semudah sekarang. Salah satu narasumber dalam dokumentasi tersebut, Kak Paulus Tjakrawan, mengingat bahwa komunikasi ketika itu tidak mudah.

Karena itu, Raimuna Nasional III bukan sekadar kegiatan perkemahan. Karangkates menjadi titik penting dalam sejarah penamaan salah satu kegiatan besar Pramuka yang terus digunakan hingga kini.

PW ASPAC di Lebakharjo, Dari Perkemahan ke Pengabdian:

Masih pada 1978, jejak Pramuka berlanjut ke Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Berbeda dengan Raimuna yang menitikberatkan pertemuan Pramuka Penegak dan Pandega, Perkemahan Wirakarya membawa gagasan yang lebih dekat dengan pengabdian kepada masyarakat.

Gagasan Perkemahan Wirakarya tidak terlepas dari pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dalam Kongres Kepanduan Dunia di Tokyo pada 1971, gagasan yang ditekankan adalah bahwa anggota Pramuka tidak cukup hanya dipersiapkan menjadi warga negara yang baik, tetapi juga menjadi manusia pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Konsep tersebut kemudian diwujudkan melalui kegiatan perkemahan yang disertai pekerjaan nyata di tengah masyarakat. Pramuka tidak hanya mendirikan tenda, tetapi ikut mengerjakan pembangunan fasilitas, penghijauan, dan berbagai kegiatan yang dibutuhkan warga.

Perkemahan Wirakarya tingkat nasional sebelumnya telah dilaksanakan pada 1968 di Desa Cihideung, Bogor. Dalam kegiatan tersebut, Pramuka terlibat dalam pembangunan bendungan dan saluran irigasi untuk mendukung lahan persawahan.

Enam tahun kemudian, gagasan tersebut berkembang di Jawa Timur. Pada 1978, Lebakharjo dipercaya menjadi lokasi Perkemahan Wirakarya Asia-Pasifik (PW ASPAC) pertama.

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat adanya naskah amanat Presiden pada pembukaan Perkemahan Wirakarya Penegak dan Pandega Putra Putri kawasan Asia Pasifik ke-I di Desa Lebak Harjo, Malang, pada 18 Juni 1978.

Menurut kajian mengenai sejarah pembangunan Desa Lebakharjo melalui Perkemahan Wirakarya, kegiatan PW ASPAC I berlangsung pada 18 Juni-29 Juli 1978. Programnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diarahkan untuk membuka keterisolasian desa dan membangun fasilitas yang dibutuhkan masyarakat.

Apa yang Dilakukan Pramuka di Lebakharjo?

Kehadiran Pramuka di Lebakharjo meninggalkan jejak yang lebih konkret dibanding sekadar dokumentasi perkemahan. Dalam kegiatan tersebut, peserta terlibat dalam pembangunan jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, rumah ibadah, sanggar, pos keamanan, hingga pasar.

Pekerjaan tersebut menjadi bentuk nyata dari gagasan bahwa kegiatan kepramukaan dapat sekaligus menjadi pengabdian kepada masyarakat. Jejak itu kemudian ikut membentuk identitas Lebakharjo.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang menyebut desa tersebut sebagai Desa Wisata "Pramuka" Lebakharjo karena sejarahnya sebagai lokasi PW ASPAC 1978 dan Comdeca 1993.

Dengan kata lain, predikat Desa Pramuka tidak muncul begitu saja. Ada sejarah panjang yang membuat Lebakharjo memiliki hubungan erat dengan kegiatan kepramukaan, terutama kegiatan yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari program.

Dari Malang ke Panggung Dunia World COMDECA 1993

Jejak tersebut tidak berhenti pada 1978. Sekitar 15 tahun kemudian, Lebakharjo kembali menjadi bagian dari sejarah kepramukaan internasional. Pada 1993, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Community Development Camp (Comdeca) pertama di dunia.

Keputusan penyelenggaraan kegiatan tersebut disebut berkaitan dengan hasil Konferensi Kepramukaan Sedunia di Paris pada 1990. Lebakharjo di Kabupaten Malang kemudian dipilih sebagai lokasi kegiatan yang membawa konsep pengembangan masyarakat melalui gerakan Pramuka.

Menurut data yang dikutip detikJatim, Comdeca berlangsung pada 26 Juli-8 Agustus 1993, dengan melibatkan 175 peserta dari 21 negara dan 2.169 anggota Pramuka Indonesia. Kegiatan tersebut membawa konsep "Pramuka masuk desa" dengan penekanan pada pembangunan masyarakat dan semangat gotong royong.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Malang juga mencatat bahwa suasana kepramukaan kembali hadir di Lebakharjo pada 1993 ketika desa tersebut menjadi tuan rumah Comdeca tingkat dunia.

Mengapa Lebakharjo Disebut Desa Pramuka?

Rentetan kegiatan pada 1978 dan 1993 membuat hubungan Lebakharjo dengan sejarah Pramuka menjadi sangat kuat. Jika PW ASPAC 1978 menunjukkan bagaimana Pramuka dapat bekerja langsung bersama masyarakat dalam pembangunan desa, maka Comdeca 1993 membawa gagasan tersebut ke tingkat internasional.

Lebakharjo kemudian bukan hanya dikenang sebagai tempat berlangsungnya perkemahan. Desa ini menjadi contoh bagaimana kegiatan kepramukaan dapat meninggalkan warisan fisik sekaligus sosial bagi masyarakat.

Sejarah tersebut juga menjelaskan mengapa Malang memiliki posisi khusus dalam perjalanan Pramuka. Di Karangkates, lahir penggunaan istilah Raimuna. Di Lebakharjo, kegiatan Pramuka berkembang menjadi pengabdian masyarakat berskala Asia-Pasifik dan kemudian dunia.

Jejak Malang dalam Sejarah Pramuka

Jika disusun secara kronologis, perjalanan tersebut memperlihatkan perkembangan yang cukup jelas. Pada 1978, Karangkates menjadi lokasi Raimuna Nasional III dan menjadi tonggak penggunaan istilah Raimuna.

Pada tahun yang sama, Lebakharjo menjadi lokasi PW ASPAC I yang menggabungkan kegiatan kepramukaan dengan pembangunan masyarakat. 15 tahun kemudian, pada 1993, Lebakharjo kembali menjadi sorotan ketika menjadi tuan rumah Comdeca pertama di dunia.

Rangkaian tersebut menunjukkan perubahan skala kegiatan. Pramuka yang semula berangkat dari kegiatan perkemahan dan pertemuan berkembang menjadi gerakan pengabdian yang menyentuh kebutuhan masyarakat, kemudian dibawa ke forum kerja sama internasional.

Warisan yang Masih Relevan hingga Sekarang

Nilai penting dari sejarah Pramuka di Malang bukan hanya terletak pada siapa yang hadir atau berapa banyak peserta yang mengikuti perkemahan. Yang lebih penting adalah gagasan yang ditinggalkan.

Raimuna memperlihatkan pentingnya pertemuan, kreativitas, persaudaraan, dan pendidikan bagi Pramuka Penegak dan Pandega. Sementara Perkemahan Wirakarya dan Comdeca menunjukkan bahwa Pramuka dapat hadir langsung untuk membantu masyarakat melalui kerja nyata.

Jejak tersebut masih relevan ketika Pramuka menghadapi tantangan zaman yang berbeda. Semangat gotong royong, kepedulian terhadap masyarakat, kemampuan bekerja lintas kelompok, dan pengabdian tetap menjadi nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.



(ihc/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads