Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) sempat memicu peringatan dini tsunami, namun kemudian akhirnya diakhiri oleh pihak BMKG.
Pakar Geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Ir Amien Widodo MSi, memberikan analisisnya mengenai potensi dampak gelombang tsunami yang disebut akan melanda Jawa Timur hingga Bali.
Prof Amien menjelaskan bahwa gempa di Laut Flores dipicu oleh pergerakan sesar naik (back-arc thrust fault) yang mendorong massa air laut ke atas. Meski simulasi menunjukkan penyebaran gelombang dapat mencapai Bali utara, Lombok utara, hingga Jawa Timur bagian timur seperti Situbondo, risiko benturan di pesisir Jawa Timur tergolong sangat kecil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Labuan Bajo yang dekat saja mungkin di bawah 30 cm, maka yang jauh menjadi sangat berkurang," kata Prof Amien kepada detikJatim, Minggu (17/8/2026).
Selain mengurai dampak gempa NTT, Prof Amien menyinggung kemiripan karakter geologi Laut Flores dengan Sesar Kendeng di Jawa yang sama-sama merupakan sesar naik.
Ia lalu meluruskan pemahaman publik terkait struktur patahan di Jawa Timur. Wilayah Tuban dan Madura memiliki sistem patahan tersendiri, yaitu Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS).
"Surabaya, Madura, Tuban itu jauh, beda lagi sebetulnya. Kalau Tuban itu sendiri ada patahan sendiri di sana, patahan RMKS. Yang mengangkat Madura menjadi pulau itu karena ada sesar RMKS di sebelah utara dan selatan persis Madura," jelasnya.
Meski peluang tsunami akibat gempa NTT di Jawa Timur kecil, Prof Amien menegaskan masyarakat pesisir Jatim harus tetap waspada terhadap potensi gempa lokal. Ia mengingatkan rekam jejak aktivitas seismik seperti gempa M 6,4 di Selat Madura pada 2011 silam yang melibatkan pergeseran vertikal dasar laut.
"Tapi ingat, tahun 2011 pernah terjadi gempa di laut Selat Madura, antara Sumenep sampai Situbondo. Itu gempanya sekitar M6,4 atau M6,5 dan terjadi pergeseran vertikal. Kalau dorongannya besar juga bisa menimbulkan tsunami, terutama di daerah Sumenep yang paling dekat. Kalau (skala magnitudo) besar, bisa tsunami," jelasnya.
BMKG sendiri menempatkan kawasan pesisir mulai dari Sumenep dalam pemetaan potensi tsunami skala rendah. Menurut Prof Amien, kewaspadaan tinggi wajib diterapkan apabila terjadi gempa laut berkapasitas di atas M 6,5, baik di perairan Selat Madura maupun Laut Jawa seperti di utara Bawean.
Menurutnya, meski tsunami dengan skala kecil sekalipun, namun tetap menyimpan daya rusak yang membahayakan keselamatan warga pesisir.
"Tsunami itu walaupun kecil, kalau 30 cm gitu ya, kecepatannya kan 100 km/jam. Mobil-mobil kecil bisa keuntir, anak kecil bisa bablas," pungkasnya.
