Pakar Geologi Sebut Jatim Harus Tetap Waspada Usai NTT Diguncang Gempa

Pakar Geologi Sebut Jatim Harus Tetap Waspada Usai NTT Diguncang Gempa

Esti Widiyana - detikJatim
Minggu, 16 Agu 2026 20:00 WIB
Pakar Geologi ITS, Prof Dr Ir Amien Widodo MSi
Pakar Geologi ITS, Prof Dr Ir Amien Widodo MSi (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Ir Amien Widodo mengatakan meski dampak gempa berkekuatan M 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) tergolong kecil, namun Jawa Timur harus tetap waspada.

Kecilnya dampak peluang ini, setelah BMKG telah mengakhiri peringatan dini tsunami pada Sabtu (15/8) pukul 07.30 WIB. Peringatan ini seempat dikeluarkan sesaat setelah gempa bumi yang mengguncang Flores, NTT pukul 04.58 WIB.

"Kalau di Jawa Timur kemungkinan terjadi tsunami itu kecil," kata Prof Amien saat dihubungi detikJatim, Minggu (16/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prof Amien mengingatkan, kawasan perairan di sekitar Jawa Timur, seperti Selat Madura hingga pantai utara, memiliki rekam jejak aktivitas seismik yang berpotensi memicu gelombang tinggi jika terjadi gempa signifikan.

ADVERTISEMENT

"Tapi ingat, tahun 2011 pernah terjadi gempa di laut Selat Madura, antara Sumenep sampai Situbondo. Itu gempanya sekitar M6,4 atau M6,5 dan terjadi pergeseran vertikal. Kalau dorongannya besar juga bisa menimbulkan tsunami, terutama di daerah Sumenep yang paling dekat. Kalau (skala magnitudo) besar, bisa tsunami," jelasnya.

Ia mengatakan, pada peta BMKG memang menempatkan kawasan pesisir mulai dari Sumenep berpotensi tsunami dengan tingkat risiko rendah. Meski begitu, potensi tersebut tetap menjadi waspada, apalagi ketika ada terjadi gempa di laut.

"Waspada begitu ada gempa di laut skalanya lebih dari M6,5. Terlebih di laut utara seperti kemarin yang terjadi di Bawean, atau di Selat Madura, ya harus tetap waspada karena M6,5 kalau dekat ya bisa juga memicu tsunami," urainya.

Prof Amien menekankan, meski skala tsunami yang diprediksi relatif kecil, daya rusaknya tetap berbahaya bagi keselamatan warga di pesisir pantai.

"Tsunami itu walaupun kecil, kalau 30 cm gitu ya, kecepatannya kan 100 km/jam. Mobil-mobil kecil bisa keuntir, anak kecil bisa bablas," pungkasnya.



(esw/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads