Keruntuhan Kerajaan Majapahit selama ini lebih banyak dikaitkan dengan konflik politik, perang saudara, dan peralihan kekuasaan. Namun, kajian terbaru di bidang arkeoseismologi mengungkap kemungkinan adanya peran bencana alam besar yang turut mempercepat keruntuhan kerajaan tersebut.
Dosen Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr. Ir. Firman Syaifuddin, S.Si., M.T. menjelaskan, kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Majapahit, menyimpan banyak bukti geologi yang mengarah pada terjadinya gempa bumi purba, likuifaksi, hingga banjir lahar.
"Selama berabad-abad, keruntuhan Imperium Majapahit pada akhir abad ke-15 kerap dibingkai dalam narasi tunggal: intrik politik, perang saudara, dan transisi kekuasaan. Namun, di bawah hamparan tanah Trowulan tersimpan narasi lain yang jauh lebih purba dan mematikan. Majapahit tidak hanya runtuh oleh pedang, tetapi juga oleh amukan alam," kata Firman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Firman menjelaskan, Trowulan kini menjadi salah satu lokasi penting dalam kajian arkeoseismologi, yakni disiplin ilmu yang menggabungkan arkeologi dan geologi untuk menelusuri jejak gempa bumi purba melalui tinggalan sejarah.
Menurutnya, secara geologi Trowulan berada di kawasan yang sangat aktif karena berdiri di atas cekungan sedimen aluvial yang diapit zona subduksi lempeng Indo-Australia, kompleks gunung api Arjuno-Kelud, serta dilintasi Sistem Sesar Watukosek dan dipengaruhi Sesar Naik Kendeng.
"Trowulan berdiri anggun di atas cekungan sedimen aluvial yang diapit oleh mesin-mesin tektonik paling aktif di Pulau Jawa. Di sebelah selatan, zona subduksi lempeng Indo-Australia terus menekan. Di sekitarnya, menjulang kompleks vulkanik raksasa Arjuno-Kelud. Secara struktural, kota kuno ini diiris oleh sistem Sesar Watukosek dan terjepit oleh kompresi Sesar Naik Kendeng (Kendeng Thrust)," ujarnya.
Firman mengatakan, karakter bangunan Majapahit yang didominasi bata merah tanpa semen modern justru menjadi keunggulan dalam penelitian arkeoseismologi karena mampu merekam dampak gempa secara jelas.
"Arsitektur Majapahit yang didominasi oleh susunan bata merah tanpa semen modern sangat rentan terhadap guncangan. Ketika gempa purba terjadi, struktur ini merekam jejak deformasi secara presisi-seperti pilar yang terpuntir, dinding yang runtuh terarah, hingga retakan tembus. Dalam dunia arkeoseismologi, fenomena ini disebut Earthquake Archaeological Effects (EAE)," jelasnya.
Gempa dan Lahar Diduga Melanda Trowulan
Berdasarkan hasil penelitian multidisiplin, Firman menyebut terdapat sedikitnya dua bencana besar yang diduga pernah melanda kawasan Trowulan.
"Melalui analisis stratigrafi dan granulometri sedimen tanah, para ilmuwan menemukan bahwa situs-situs penting seperti Kumitir, Kedaton, dan Minakjinggo telah disapu oleh setidaknya dua jenis bencana raksasa yang datang silih berganti," katanya.
Bencana pertama berupa gempa bumi yang memicu likuifaksi atau pencairan tanah akibat getaran kuat. Kondisi tersebut menyebabkan tanah kehilangan daya dukung sehingga bangunan mengalami kerusakan parah.
"Saat gempa dahsyat mengguncang Trowulan, sedimen aluvial yang belum padat kehilangan kekuatannya-sebuah fenomena mematikan yang disebut likuifaksi. Analisis geologi menemukan struktur tanah grain-supported di bawah reruntuhan. Temuan ini selaras dengan kondisi bangunan candi yang ditemukan hancur dan terpuntir parah," ujarnya.
Selain gempa, kawasan Trowulan juga diduga diterjang banjir bandang yang membawa material vulkanik dari kompleks Gunung Arjuno hingga Gunung Kelud.
"Di bawah mikroskop geologi, lapisan tanah Trowulan menunjukkan endapan matrix-supported, pola saluran (channeling), serta fragmen bata yang tersusun miring searah arus air (imbrication). Pelacakan menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS) memastikan material ini adalah muntahan dari Kompleks Vulkanik Arjuno dan letusan epik Gunung Kelud yang mengalir deras menghantam pusat kota," ungkapnya.
Selaras dengan Catatan Naskah Kuno
Firman mengatakan, bukti geologi tersebut memiliki keterkaitan dengan berbagai naskah Jawa Kuno, seperti Kakawin Nagarakretagama dan Kitab Pararaton, yang mencatat sejumlah peristiwa bencana.
"Sinkronisasi antara lapisan sedimen dan catatan dalam naskah kuno seperti Kakawin Nagarakretagama dan Kitab Pararaton membuat riset Trowulan menjadi sangat komprehensif," ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam naskah kuno dikenal istilah lindu, bumi ketug, hingga Pralaya sebagai bentuk pencatatan bencana besar pada masa itu.
Menurut Firman, catatan tersebut menunjukkan adanya peristiwa gempa dan banjir besar pada 1334 M, gempa hebat atau Palindu pada 1450 M, hingga Guntur Pawatugunung pada 1481 M yang diduga berkaitan dengan banjir bandang dan aktivitas vulkanik.
Firman menjelaskan, penelitian arkeoseismologi modern kini memanfaatkan berbagai teknologi mutakhir, seperti LiDAR, Ambient Noise Tomography (ANT), kecerdasan buatan berbasis Bayesian PINN, hingga citra satelit Google Earth Engine dan radar Sentinel-1.
"Untuk mengungkap siklus gempa purba yang usianya ratusan tahun, palu geologi dan sikat arkeolog tidak lagi cukup. Kini, para ilmuwan mengarahkan teknologi komputasi mutakhir ke jantung Trowulan," katanya.
Menurut Firman, pemanfaatan teknologi tersebut memungkinkan para peneliti merekonstruksi skenario gempa purba dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi tanpa merusak situs cagar budaya.
Firman menegaskan, kajian arkeoseismologi tidak hanya menjelaskan sejarah keruntuhan Majapahit, tetapi juga menjadi pengingat penting bagi pembangunan wilayah modern di Jawa Timur.
"Arkeoseismologi Trowulan tidak hanya menceritakan bagaimana leluhur kita tumbang oleh alam, tetapi juga mengajarkan bagaimana kita hari ini harus merancang tata ruang yang tangguh terhadap gempa. Karena pada akhirnya, sejarah peradaban dan geologi di Pulau Jawa akan selalu mengulang siklusnya," pungkasnya.
