Karnaval HUT ke-81 RI di Sidoarjo Ini Dimeriahkan Sound Horeg-Dancer

Karnaval HUT ke-81 RI di Sidoarjo Ini Dimeriahkan Sound Horeg-Dancer

Suparno - detikJatim
Sabtu, 15 Agu 2026 19:40 WIB
Karnaval HUT ke-81 RI di Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo dimeriahkan sound horeg dan dancer
Karnaval HUT ke-81 RI di Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo dimeriahkan sound horeg dan dancer (Foto: Suparno/detikJatim)
Sidoarjo -

Suasana perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, berlangsung meriah. Karnaval warga dimeriahkan belasan unit sound horeg yang berpadu dengan penampilan dancer dari masing-masing RT.

Sebanyak 13 unit sound horeg mengikuti karnaval tersebut. Masing-masing unit mewakili RT 1 hingga RT 13 dengan konsep dan penampilan dancer yang berbeda-beda.

Dentuman suara sound horeg mengiringi rombongan warga yang mengikuti karnaval. Sejumlah sound bahkan didatangkan dari luar daerah, di antaranya Jember, Blitar, Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Mojokerto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua BPD Kalidawir, Imam Syafi'i, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari tradisi warga dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI. Menurutnya, kegiatan serupa hampir setiap tahun digelar oleh masyarakat.

ADVERTISEMENT

"Ini untuk memeriahkan HUT RI ke-81. Kegiatan seperti ini hampir setiap tahun dilaksanakan," kata Imam kepada wartawan di lokasi, Sabtu (15/8/2026).

Imam menjelaskan, biaya sewa sound horeg berbeda-beda dan pengaturannya diserahkan kepada masing-masing RT. Karena itu, pihaknya tidak dapat memastikan secara rinci besaran biaya yang dikeluarkan setiap RT.

"Untuk biaya sound masing-masing RT berbeda, panitia lapangan yang mengatur. Ada sound dari dalam desa, ada juga yang dari luar seperti Jember, Blitar, Malang dan Pasuruan," jelasnya.

Menurut Imam, kegiatan tersebut tetap diarahkan agar berlangsung tertib, aman, dan tidak mengganggu ketertiban umum. Ia menyebut tidak ada kerusakan rumah, kaca pecah, maupun korban selama pelaksanaan kegiatan.

"Selama tertib, aman, tidak mengganggu ketertiban umum dan tidak melanggar aturan daerah, kami persilakan. Kalau sampai ada kerusakan, panitia bertanggung jawab untuk memperbaikinya," ujarnya.

Imam juga mengungkapkan adanya pro dan kontra di tengah masyarakat terkait kegiatan sound horeg. Karena itu, untuk ke depan kegiatan serupa sementara akan ditiadakan sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman pandangan warga.

"Kami menghormati kehendak masyarakat. Yang penting tetap tertib, aman, nyaman dan berpedoman pada aturan yang ada," katanya.

Sementara itu, Anita (28), warga Desa Kalidawir, mengatakan penggunaan sound horeg dalam karnaval tersebut telah menjadi kesepakatan warga di masing-masing RT. Untuk mendatangkan satu unit sound, warga melakukan patungan.

"Ini sebelumnya sudah kesepakatan warga. Kami patungan untuk mendatangkan sound horeg dari daerah lain," kata Anita.

Anita menyebut biaya yang dikeluarkan untuk satu unit sound horeg berkisar Rp 45 juta hingga Rp 65 juta. Dana tersebut dikumpulkan secara sukarela dari warga.

"Setiap kepala keluarga patungan sekitar Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta. Memang cukup besar, tapi warga senang. Yang penting bisa sukses memeriahkan HUT RI," pungkasnya.



(ihc/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads