Lesunya Penjualan Bendera Merah Putih di Malang Jelang Agustusan

Lesunya Penjualan Bendera Merah Putih di Malang Jelang Agustusan

M Bagus Ibrahim - detikJatim
Sabtu, 15 Agu 2026 11:45 WIB
Penjual bendera di Jalan Letjend S Parman, Kota Malang.
Penjual bendera di Jalan Letjend S Parman, Kota Malang. (Foto: M Bagus Ibrahim/detikJatim)
Malang -

Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, biasanya menjadi momen yang dinanti-nanti pedagang bendera musiman untuk meraup cuan. Namun, kondisi tersebut tidak lagi terlihat pada momen Agustus 2026 di Kota Malang.

Penjual bendera yang biasanya menjamur di jalan-jalan membentangkan barang dagangan kini jarang terlihat. Adapun yang berjualan, barang mereka nampak masih banyak berjejer-jejer.

Memasuki H-3 Kemerdekaan RI, transaksi jual beli bendera Merah Putih maupun pernak-pernik dekorasi kian sepi. Para pedagang yang masih bertahan mengaku pembeli sudah jauh berkurang dibanding puncak penjualan di awal bulan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sama, salah satu penjual bendera di kawasan Jalan Letjend S Parman, Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, mengungkapkan bahwa masa ramai pembeli justru terjadi pada akhir Juli hingga awal Agustus.

"Tanggal gini (14 Agustus) itu sudah jarang yang beli. Ramainya pembelian kemarin itu tanggal 30 (Juli) sampai awal Agustus. Kalau sudah mendekati (17 Agustus) itu sudah sepi," ujar Sama saat ditemui detikJatim di lapaknya, Jumat (14/8/2026).

ADVERTISEMENT

Ia mengaku omzet penjualannya tahun ini anjlok cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunannya bahkan diperkirakan mencapai separuh dari hasil tahun lalu.

"Tahun ini penjualan lumayan, meski ada penurunan dibanding tahun-tahun lalu. Kalau dibanding tahun lalu turun sekitar 50%," terangnya.

Menurut Sama, tren merosotnya daya beli masyarakat terhadap pernak-pernik kemerdekaan sebenarnya sudah terasa dalam beberapa tahun terakhir. Gejala penurunan yang cukup drastis mulai ia rasakan sejak 2024.

"Penurunan penjualan sudah terasa sejak tahun-tahun lalu. Seingat saya yang cukup terasa sejak tahun 2024 lalu penurunannya," ungkapnya.

Sama menilai, kurang semaraknya antusiasme masyarakat tak lepas dari faktor kondisi ekonomi yang sedang lesu. Selain itu, banyak warga yang memilih memanfaatkan kembali bendera stok lama ketimbang membeli baru. Tradisi menghias kampung pun dinilainya tak semeriah dulu.

"Kalau kita lihat saat ini itu kemungkinan masih banyak warga yang menggunakan bendera-bendera lama, kemudian jarang yang menghias kampung kayak jaman dulu, semaraknya tidak ramai seperti dulu, belum lagi ekonomi sedang lesu," jelas Sama.

Meski secara keseluruhan angka penjualan lesu, Sama menyebut masih ada jenis dekorasi yang tetap diburu warga. Dari bermacam pernak-pernik yang ia jajakan, bendera jenis umbul-umbul menjadi barang yang paling diminati.

"Sejauh ini paling laris dan banyak yang beli itu umbul-umbul," tandasnya.



(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads