Kunjungi Lokasi Kebakaran Bromo, Menko Pratikno Beber Tinggal 2 Titik Api

Kunjungi Lokasi Kebakaran Bromo, Menko Pratikno Beber Tinggal 2 Titik Api

M Rofiq - detikJatim
Selasa, 11 Agu 2026 19:15 WIB
Menko PMK Pratikno meninjau penanganan kebakaran di kawasan Gunung Bromo
Menko PMK Pratikno meninjau penanganan kebakaran di kawasan Gunung Bromo (Foto: M Rofiq/detikJatim)
Probolinggo -

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk mengecek kondisi terkini penanganan kebakaran sekaligus memastikan strategi pemadaman dan pencegahan titik api baru berjalan efektif.

Pratikno menyebut, dari sebelumnya tercatat sebanyak 34 titik api, saat ini tersisa dua titik api yang masih harus segera dipadamkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi hari ini kami datang ke lokasi, ada Pak Sekda Pemrov Jatim, Pak Bupati, Pak Danrem, dan lain-lain. Kita ingin mengecek lagi tentang kondisi yang terakhir. Ini memang masih ada dua titik api yang harus segera dipadamkan, tapi yang sebelumnya sudah mencapai 34 titik api, sekarang masih ada dua titik api," ujar Pratikno. Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, Presiden Prabowo memberikan perhatian serius terhadap penanganan kebakaran Gunung Bromo. Karena itu, seluruh unsur pemerintah diminta bekerja keras agar api dapat dipadamkan secepat mungkin.

ADVERTISEMENT

"Kita semuanya bekerja keras di target waktunya secepat-cepatnya," katanya.

Pratikno mengingatkan bahwa kebakaran Gunung Bromo bukan satu-satunya bencana yang sedang ditangani pemerintah. Kebakaran juga terjadi di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan, sementara bencana banjir masih terjadi di sejumlah daerah, termasuk Aceh dan Sumatera Barat.

"Kita itu setiap pagi dibuat deg-degan karena selalu memperoleh update bencana. Setiap pagi kita ada kolom kejadian baru, kemudian sebelahnya ada kolom pembaruan data," ujar Pratikno.

Ia mengaku yang paling mengkhawatirkan adalah ketika pembaruan data bencana tidak kunjung selesai, sementara kejadian baru terus bertambah. "Jadi energi nasional kita ini sudah tersebar ke mana-mana untuk mengurusi bencana ini," ujarnya.

Karena itu, Pratikno menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menangani bencana di wilayah masing-masing. Pemerintah pusat, kata dia, akan tetap memberikan dukungan, namun daerah harus bergerak cepat dan mandiri sesuai kondisi di lapangan.

"Intinya itu justru kami harapkan Bapak-Ibu yang di daerah karena memang energi nasional harus menyebar ke mana-mana," katanya.

Ia juga mengapresiasi kerja Sekretaris Daerah Pemrov Jatim, Bupati, Danrem, Kapolres, BNPB, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan kebakaran Bromo.

Pratikno, meminta seluruh unsur penanganan bencana terus mencari metode baru yang lebih efektif dan efisien. Hal tersebut penting mengingat lokasi bencana yang harus ditangani pemerintah tersebar di berbagai daerah.

Ia mencontohkan perlunya pengaturan pos penanganan, termasuk lokasi pengisian bahan bakar dan air, sehingga mobilisasi personel maupun peralatan pemadaman dapat dilakukan lebih cepat.

"Jadi terus berinovasi untuk mencari cara yang lebih efisien," tegasnya.

Selain pemadaman, pemerintah juga diminta melakukan upaya pencegahan secara bersamaan. Pratikno mengingatkan kondisi kekeringan masih berpotensi meningkat akibat fenomena El Nino.

"El Nino masih lanjut, ini belum puncaknya. Kekeringan itu sekarang ini belum puncaknya. El Nino masih diperkirakan minimal 1,5 bulan lagi," ujarnya.

Menurut Pratikno, kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya kebakaran di berbagai wilayah. Karena itu, antisipasi tidak boleh hanya dilakukan di kawasan Gunung Bromo, tetapi juga di daerah lain yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

"Kalau sekarang saja sudah kering, ditambah kekeringan berlanjut 1,5 bulan lagi, bagaimana kondisinya? Risikonya pasti lebih besar lagi," katanya.

Pratikno menekankan penanganan kebakaran tidak boleh berhenti pada pemadaman api. Area yang rawan terbakar juga harus dibasahi untuk mencegah munculnya titik api baru.

Saya meminta pemerintah daerah melibatkan masyarakat dan wisatawan dalam upaya pencegahan kebakaran, khususnya terkait penggunaan api di kawasan rawan.

"Bukan hanya memadamkan api, tetapi juga membuat yang sudah rawan-rawan itu untuk dibasahi," ujarnya.

Pratikno juga mengingatkan wisatawan agar berhati-hati dengan api dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran lebih luas.

"Penting, Pak Bupati, terutama untuk mengajak peran serta masyarakat. Hati-hati, termasuk wisatawan. Hati-hati dengan api jangan sampai kemudian memunculkan kebakaran yang lebih luas," katanya.

Selain pemadaman dan pencegahan, pemerintah juga diminta segera melakukan mitigasi serta pemulihan terhadap dampak kebakaran.

Pratikno menyoroti kerusakan infrastruktur akibat kebakaran, salah satunya pipa air. Infrastruktur yang rusak, kata dia, harus segera diperbaiki agar kebutuhan dasar masyarakat dapat kembali terpenuhi.

"Kita harus memulihkan kondisi warga. Ini bukan hanya memadamkan api, tapi membuat warga, masyarakat hidup normal kembali," ujarnya.

Pemulihan juga mencakup pemenuhan fasilitas kebutuhan sehari-hari hingga menggerakkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat. Menurutnya, perhatian tidak boleh hanya diarahkan pada sektor pariwisata, tetapi juga kebutuhan dasar seperti ketersediaan air dan kemungkinan pemberian bantuan sosial bagi masyarakat terdampak.

Untuk mencegah munculnya titik api baru, pemerintah juga mempertimbangkan operasi modifikasi cuaca. Pratikno mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan BNPB dan BMKG untuk memantau potensi awan yang dapat dimanfaatkan dalam beberapa hari ke depan.

Jika kondisi awan mencukupi, BMKG akan melakukan operasi modifikasi cuaca guna membantu membasahi wilayah yang rawan kebakaran.

"Kita ini bukan hanya memadamkan, tapi juga mencegah kebakaran berikutnya dengan cara memadamkan," jelasnya.

Untuk jangka pendek, pemerintah akan fokus menuntaskan dua titik api yang tersisa sekaligus melakukan langkah pencegahan agar tidak muncul titik api baru.

Pratikno kembali meminta seluruh kepala daerah dan pimpinan daerah bergerak cepat menghadapi potensi bencana, mengingat pemerintah pusat saat ini juga harus membagi sumber daya untuk menangani berbagai bencana di sejumlah wilayah Indonesia.

"Saya harapkan para kepala daerah, pimpinan daerah semuanya bergerak cepat untuk memadamkan potensi kebakaran, potensi bencana, dan sekaligus mencegah kebakaran baru lagi," pungkasnya.



(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads