Hukum Sholat Rebo Wekasan Menurut Ulama, Bolehkah Diamalkan?

Hukum Sholat Rebo Wekasan Menurut Ulama, Bolehkah Diamalkan?

Irma Budiarti - detikJatim
Senin, 10 Agu 2026 21:00 WIB
Ilustrasi sholat Rebo Wekasan.
Ilustrasi sholat Rebo Wekasan. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Rebo Wekasan merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut Rabu terakhir pada bulan Safar dalam kalender Hijriah. Tradisi ini masih dikenal di sejumlah daerah dan kerap diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti doa bersama, sedekah, zikir hingga sholat yang secara khusus dikaitkan dengan Rebo Wekasan.

Namun, bagaimana sebenarnya hukum sholat Rebo Wekasan menurut ulama? Apakah sholat tersebut boleh diamalkan atau justru tidak dianjurkan dalam Islam?

Pembahasan mengenai hukum sholat Rebo Wekasan ternyata memunculkan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada ulama yang melarang pelaksanaannya apabila diniatkan secara khusus sebagai sholat Rebo Wekasan. Di sisi lain, ada pula ulama yang membolehkan pelaksanaannya dengan niat sholat sunnah mutlak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hukum Sholat Rebo Wekasan

Pada dasarnya, tidak terdapat nash sharih yang menjelaskan adanya anjuran khusus untuk melaksanakan sholat Rebo Wekasan. Karena itu, menurut pandangan yang melarang, sholat tersebut tidak boleh diniatkan sebagai ibadah khusus untuk Rebo Wekasan.

ADVERTISEMENT

NU Online Jabar menjelaskan, apabila sholat Rebo Wekasan diniatkan secara khusus, misalnya dengan niat "aku niat sholat Shafar" atau "aku niat sholat Rebo wekasan", maka sholat tersebut dinilai tidak sah dan haram. Hal ini didasarkan pada kaidah fikih:

الأصل في العبادة أنها إذا لم تطلب لم تصح

Artinya: Hukum asal dalam ibadah apabila tidak dianjurkan, maka tidak sah. (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib Hasyiyah 'ala al-Iqna', juz 2, halaman 60).

Pandangan tersebut juga berkaitan dengan sejumlah sholat yang dinilai tidak memiliki dasar hadis yang kuat. Dalam kitab I'anatut Tholibiin ditegaskan bahwa:

قال المؤلف في إرشاد العباد ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الأمر منع فاعلها صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر وصلاة الأسبوع أما أحاديثها فموضوعة باطلة ولا تغتر بمن ذكرها اه

Artinya: Sang pengarang (syekh Zainuddin al-Malibari) berkata dalam kitab Irsyad al-'Ibad, termasuk bid'ah yang tercela, pelakunya berdosa dan wajib bagi pemerintah mencegahnya, adalah shalat Raghaib, 12 Rakaat di antara maghrib dan Isya' di malam Jumat pertama bulan Rajab, shalat nisfu Sya'ban sebanyak 100 rakaat, shalat di akhir Jumat bulan Ramadhan sebanyak 17 rakaat dengan niat mengganti shalat lima waktu yang ditinggalkan, shalat hari Asyura sebanyak 4 rakaat atau lebih dan shalat ushbu'. Adapun hadits-hadits shalat tersebut adalah palsu dan batal, jangan terbujuk oleh orang yang menyebutkannya. (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I'anah al-Thalibin, juz 1, halaman 270).

Salah satu ulama yang juga berpandangan bahwa sholat Rebo Wekasan tidak boleh dilakukan secara khusus adalah Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. Menurutnya, anjuran melaksanakan sholat sunah mutlak yang didasarkan pada hadis sahih tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan sholat Rebo Wekasan.

Sebab, sholat sunah mutlak yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah sholat yang memang telah disyariatkan. Dalam himpunan fatwanya, Rais Akbar NU tersebut mengatakan dalam tulisan bahasa Jawa pegon.

اورا ويناع فيتواه اجاء اجاء لن علاكوني صلاة رابو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سؤال كارنا صلاة لورو ايكو ماهو اورا انا اصلى في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كايا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين ، التحرير لن سافندوكور كايا كتاب النهاية المهذب لن احياء علوم الدين، كابيه ماهو أورا انا كاع نوتور صلاة كاع كاسبوت. الى ان قال وليس لأحد أن يستدل بما صح عن رسول الله انه قال الصلاة خير موضوع فمن شاء فليستكثر ومن شاء فليستقلل، فإن ذلك مختص بصلاة مشروعة

Artinya: Tidak boleh berfatwa, mengajak dan melakukan sholat Rebo Wekasan dan sholat hadiah yang disebutkan dalam pertanyaan, karena dua sholat tersebut tidak ada dasarnya dalam syariat. Tendensinya adalah bahwa kitab-kitab yang bisa dibuat pijakan tidak menyebutkannya, seperti kitab al-Taqrib, al-Minhaj al-Qawim, Fath al-Mu'in, al-Tahrir dan kitab seatasnya seperti al-Nihayah, al-Muhadzab dan Ihya' Ulum al-Din. Semua kitab-kitab tersebut tidak ada yang menyebutkannya.

Bagi siapapun tidak boleh berdalih kebolehan melakukan kedua shalat tersebut dengan hadits shahih bahwa Nabi bersabda, shalat adalah sebaik-baiknya tempat, perbanyaklah atau sedikitkanlah, karena sesungguhnya hadits tersebut hanya mengarah kepada shalat-shalat yang disyariatkan. (KH Hasyim Asy'ari sebagaimana dikutip kumpulan Hasil Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur).

Dengan demikian, dalam pandangan KH Hasyim Asy'ari, sholat Rebo Wekasan tidak dapat dilakukan dengan menjadikan Rebo Wekasan sebagai sebab atau waktu khusus yang melatarbelakangi pelaksanaan sholat tersebut.

Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki berpendapat bahwa sholat pada waktu Rebo Wekasan dapat dilakukan, asalkan ibadah itu dikerjakan dengan niat sholat sunah mutlak.

Menurutnya, seseorang yang ingin melaksanakan sholat pada waktu tersebut tidak perlu menjadikannya sebagai sholat khusus Rebo Wekasan. Sholat dilakukan sendiri-sendiri dan tidak ditentukan jumlah rakaat tertentu. Ia menegaskan:

قلت ومثله صلاة صفر فمن أراد الصلاة فى وقت هذه الأوقات فلينو النفل المطلق فرادى من غير عدد معين وهو ما لا يتقيد بوقت ولا سبب ولا حصر له . انتهى

Artinya: Aku berpendapat, termasuk yang diharamkan adalah sholat Shafar (Rebo wekasan), maka barang siapa menghendaki sholat di waktu-waktu terlarang tersebut, maka hendaknya diniati sholat sunah mutlak dengan sendirian tanpa bilangan rakaat tertentu. Shalat sunah mutlak adalah shalat yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab tertentu dan tidak ada batas rakaatnya. (Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki, Kanz al-Najah wa al-Surur, hal. 22).

Pandangan ini menjadi dasar bagi pendapat yang membolehkan seseorang melakukan sholat pada waktu Rebo Wekasan, selama niatnya adalah sholat sunah mutlak dan bukan sholat yang secara khusus disyariatkan untuk Rebo Wekasan.

Adakah Dalil tentang Rebo Wekasan?

Pembahasan mengenai Rebo Wekasan juga tidak terlepas dari kepercayaan sebagian masyarakat yang mengaitkan Rabu terakhir bulan Safar dengan datangnya bala, musibah atau kesialan. Dalam hal ini, NU Online Jatim mengutip hadis berikut.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ. رواه البخاري ومسلم

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Safar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati itu rohnya menjadi burung yang terbang. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Menurut al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, hadis tersebut merupakan respons Nabi Muhammad SAW terhadap kepercayaan masyarakat jahiliyah yang menganggap bulan Safar sebagai bulan yang membawa kesialan. Selain itu, terdapat hadis yang membicarakan Rabu terakhir setiap bulan.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ. رواه وكيع في الغرر، وابن مردويه في التفسير، والخطيب البغدادي

Artinya: Dari Ibn Abbas, Nabi SAW bersabda: Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari terjadinya naas yang terus-menerus. (HR. Waki' dalam Al-Ghurar, Ibn Mardawaih dalam At-Tafsir, dan al-Khathib al-Baghdadi. (dikutip dari Al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Jami' al-Shaghir, juz 1, halaman: 4, dan al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari, Al-Mudawi li-'Ilal al-Jami' al-Shaghir wa Syarhai al-Munawi, juz 1, halaman: 23).

Hadis tersebut berstatus dhaif. Hadis itu juga tidak secara khusus membicarakan bulan Safar maupun menetapkan hukum seperti wajib, halal atau haram. Karena itu, hadis tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk meyakini bahwa bulan Safar atau Rabu terakhir bulan Safar merupakan waktu datangnya musibah.

Jadi, Bolehkah Sholat Rebo Wekasan?

Jawabannya bergantung pada niat dan cara pelaksanaannya. Jika seseorang meyakini terdapat sholat khusus yang disyariatkan untuk Rebo Wekasan, lalu melaksanakannya dengan niat sholat Rebo Wekasan, maka terdapat ulama yang menilai hal tersebut tidak dibenarkan karena tidak terdapat dasar syariat yang jelas.

Sementara itu, menurut pendapat Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki, seseorang tetap dapat melaksanakan sholat pada waktu tersebut dengan niat sholat sunah mutlak, tanpa mengkhususkan Rebo Wekasan sebagai sebab pelaksanaan dan tanpa menetapkan jumlah rakaat tertentu.

Sejumlah amalan yang dilakukan masyarakat saat hari Rebo Wekasan, seperti berdoa, berzikir dan bersedekah, pada dasarnya memiliki nilai keislaman apabila dilakukan sesuai tuntunan syariat.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai amalan tersebut disertai keyakinan bahwa bulan atau hari tertentu memiliki kekuatan sendiri untuk mendatangkan musibah atau mengubah nasib manusia.

Perbedaan pendapat mengenai sholat Rebo Wekasan merupakan bagian dari ikhtilaf dalam persoalan fikih. Karena itu, perbedaan pandangan tersebut sebaiknya tidak menjadi alasan untuk saling menyalahkan atau mencela.

Yang terpenting, setiap ibadah tetap dilakukan dengan niat yang benar dan tidak meyakini sesuatu yang bertentangan dengan prinsip tauhid. Rebo Wekasan pun dapat diisi dengan berbagai amalan yang jelas dianjurkan dalam Islam, seperti berdoa, berdzikir, bersedekah dan berbuat baik kepada sesama.

Walhasil, bulan tidak memiliki kehendak sendiri, tidak mampu mengubah nasib makhluk lain. Semuanya berjalan sesuai kehendak Allah. Sudah seharusnya semua waktu, baik Rabu di bulan lain maupun Rabu akhir di bulan Safar diisi beberapa kegiatan yang bersifat taqarrub kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama.



(irb/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads