4 Hari Sisir Laut, Basarnas Akhiri Monitoring KM Mutiara Sentosa 2

4 Hari Sisir Laut, Basarnas Akhiri Monitoring KM Mutiara Sentosa 2

Aprilia Devi - detikJatim
Minggu, 09 Agu 2026 19:45 WIB
Penyisiran oleh petugas
Penyisiran oleh petugas (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Basarnas Surabaya mengakhiri kegiatan monitoring aktif terhadap KM Mutiara Sentosa II. Penghentian dilakukan setelah empat hari penyisiran dan pemantauan di perairan utara Madura.

Berdasar hasil monitoring, petugas tidak menemukan indikasi keberadaan kapal maupun korban yang mungkin belum ditemukan.

Kegiatan monitoring aktif tersebut dihentikan pada hari ketujuh sejak insiden terbakarnya KM Mutiara Sentosa II. Keputusan itu disampaikan Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya Nanang Sigit saat menyambut kedatangan Helikopter BASARNAS yang digunakan untuk melakukan pemantauan udara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan tidak adanya tanda-tanda korban yang mungkin belum ditemukan, maka kami mengakhiri kegiatan monitoring aktif," ujar Nanang, Minggu (9/8/2026).

Monitoring aktif sendiri sebelumnya dilakukan setelah status operasi SAR dialihkan menjadi kegiatan pemantauan. Kegiatan tersebut dimulai pada Rabu (5/8/2026) dengan mengerahkan personel dan sejumlah alat utama sistem (Alut) SAR untuk menyisir perairan utara Madura.

ADVERTISEMENT

Penyisiran melalui jalur laut dilakukan menggunakan KN SAR 249 Permadi dan satu unit RIB Pos SAR Sumenep. Sementara pemantauan dari udara dilakukan dengan mengerahkan Helikopter BASARNAS AW139 HR1301.

Pengerahan sejumlah sarana tersebut dilakukan untuk memperluas cakupan pemantauan sekaligus mencari tanda-tanda keberadaan KM Mutiara Sentosa II maupun korban yang mungkin belum ditemukan.

Nanang menegaskan bahwa keputusan mengakhiri monitoring aktif diambil setelah tim tidak menemukan indikasi keberadaan KM Mutiara Sentosa II maupun korban yang mungkin belum ditemukan.

Kini usai penghentian monitoring tersebut, Kantor SAR Kelas A Surabaya kembali menempatkan personelnya dalam posisi siaga. Personel tetap disiapkan untuk menghadapi potensi kejadian kedaruratan maupun operasi SAR lainnya.

"Selanjutnya, beralih posisi standby untuk kondisi kedaruratan yang lain," pungkas Nanang.



(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads