Musibah kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 tak hanya menyisakan trauma bagi para korban selamat. Sebagian dari mereka juga harus kehilangan seluruh harta benda yang dibawa dalam pelayaran, bahkan mengalami kerugian hingga miliaran rupiah.
Salah satunya dialami Jadang. Pria berusia 50 tahun itu mengaku baru saja menjual rumah dan seluruh harta bendanya di Jawa untuk memulai kehidupan baru bersama sang istri, Kartini (46), di Makassar. Namun, seluruh barang yang dibawanya hangus dilalap api.
"Kami jual harta di Jawa untuk pindah ke Makassar. Rumah, uang, barang-barang semua dipindahkan. Tahu-tahu di kapal habis terbakar, hancur. Termasuk saya sendiri, hanya celana dalam saja yang loncat. Selamat nyawa saja sudah alhamdulillah," kata Jadang saat ditemui detikJatim di depan Kantor PT ALP Surabaya, Jumat (7/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan saat insiden, Jadang dan istrinya sedang berada di area kantin untuk mengambil sarapan pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Tiba-tiba, suasana riuh dan gempar akibat kemunculan asap tebal dari bagian bawah kapal.
Di tengah kepanikan dan terbatasnya pembagian pelampung, Jadang terpaksa menerobos asap. Hal itu dilakukan demi menyelamatkan istrinya yang tidak bisa berenang.
Hal selaras disampaikan istrinya, Kartini. Ia menceritakan detik-detik menegangkan saat harus meloncat ke laut dari ketinggian puluhan meter.
"Mboten (tidak) ada instruksi, cuma suruh loncat-loncat aja. Terombang-ambing di laut itu 3 jam lebih. Bukan selawatan lagi, sudah maaf-maafan di laut, sudah pasrah kami. Berdoa terus, nyebut nama Allah terus," ujar Kartini.
Kartini menambahkan, saat berada di tengah laut, ombak diperkirakan mencapai ketinggian 4 meter. Beruntung, suaminya terus memeluk dan menggendongnya di atas air hingga akhirnya mereka dievakuasi oleh kapal Meratus.
Sementara itu, korban selamat lainnya, Aziz Isiamak menjelaskan saat berjuang menyelamatkan diri di tengah kobaran api. Pria asal Jeneponto, Sulawesi Selatan, tersebut terpaksa melompat ke laut dari ketinggian 10 meter tanpa menggunakan baju pelampung.
"Kalau saya tidak pakai pelampung. Saya tidak dapat (pelampung) karena api sudah besar, tidak bisa lewat," kata Aziz.
Demi bertahan hidup di tengah laut, Aziz memanfaatkan galon air kosong sebagai alat bantu mengapung sebelum akhirnya melompat ke air. Ia mengaku peristiwa kebakaran terjadi secara tiba-tiba usai dirinya memberi makan kuda muatan dan beristirahat pagi.
"Saya lihat tidak ada pelampung, langsung saya ambil galon air. Ada isinya, langsung saya tumpahkan. Itu yang saya pegang lalu loncat. Tiba-tiba saya kasih sudah makan, tiba-tiba itu sarapan pagi, nanti datang lagi api. Langsung saya lari," tutur pria berusia 45 tahun itu.
Aziz sempat pesimis dan mengaku tak akan selamat, lantaran terombang-ambing di tengah laut selama kurang lebih 2 jam dengan kondisi ombak tinggi. Namun, ia bersyukur lantaran dievakuasi oleh kapal tunda yang melintas di sekitar lokasi.
"Ada sekitar dua jam di laut, ombak tinggi. Ditolong sama kapal tunda yang besar itu," tambahnya.
Sebagai pengantar armada, Aziz membawa muatan sebanyak 17 ekor kuda yang diangkut dari Bandung menuju Makassar melalui pelabuhan di Surabaya. Kuda-kuda tersebut terdiri dari jenis kuda pacu dan kuda potong. Akibat insiden ini, seluruh muatan tersebut dipastikan lenyap.
"Saya bawa 17 ekor, ada kuda pacu dan kuda potong. Kerugiannya tidak tahu pasti, tapi miliaran rupiah," ungkap pria yang telah memiliki empat cucu tersebut.
Di sisi lain, Aziz menyampaikan keluhannya terkait minimnya penanganan dan bantuan dasar yang diterima para korban pasca-evakuasi. Hingga saat ini, ia belum menerima bantuan pakaian ganti maupun kepastian ganti rugi yang memadai dari pihak-pihak terkait.
"Belum dapat apa-apa ini, masih nunggu. Pakaian saja tidak dapat bantuan. Ini masih pakai pakaian renang sama baju ini dari kemarin-kemarin, tidak ganti-ganti," tutupnya.
