Proses pencarian dua pendaki yang hilang di Gunung Piramid Bondowoso disaksikan langsung oleh keluarga. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas.
Hadir langsung di base camp Operasi SAR yakni beberapa orang anggota keluarga kedua pendaki. Mereka di antaranya kerabat korban Irfan, dan sejumlah anggota keluarga Maliya Finda yang datang langsung dari Surabaya.
Begitu kabar tentang korban ditemukan dalam kondisi meninggal, jerit tangis akhirnya meledak dari mereka sejak pagi hadir di lokasi pos.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menenangkan situasi dan kondisi itu, Kapolres Bondowoso AKBP Aryo didampingi Ketua Tim SAR Gunung Piramid, Jefri, akhirnya mendatangi mereka untuk melakukan pendekatan psikis.
"Kami mencoba menenangkan psikis mereka. Kami sampaikan, jika hal itu merupakan takdir Allah," kata Aryo kepada detikJatim di lokasi, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, disampaikan pula kepada keluarga korban jika tim sebenarnya sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun takdir berkehendak lain.
"Mohon diikhlaskan. Allah mungkin sudah memiliki rencana yang lebih indah bagi almarhum," tandas Aryo.
Dari pendekatan psikologis tersebut, keluarga akhirnya menerima kondisi tersebut sebagai musibah. Dan keluarga yang hadir tersebut akhirnya berlapang dada.
Medan yang terjal membuat evakuasi terkendala pada hari ditemukan. Tim gabungan akhirnya memutuskan untuk melakukan proses pengangkatan jenazah besok pagi.
Sebelumnya, dua pendaki Gunung Piramid di Bondowoso yang sempat dikabarkan hilang kontak selama beberapa hari terakhir ditemukan meninggal.
Keduanya ditemukan pada kedalaman jurang sekitar 60-70 meter. Dugaan sementara meninggalnya korban karena jatuh dari ketinggian.
Kedua pendaki itu yakni Maliya Finda (51), warga Surabaya dan seorang pemandu lokal Irfan Nasrul Laili (35), warga Desa Traktakan, Wonosari Bondowoso.
(auh/abq)
