Ratusan massa Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang baru saja menggelar aksi damai di Mapolrestabes Surabaya telah bergeser ke Jalan Teuku Umar, Surabaya. Di lokasi tempat kantor debt collector berada massa berupaya masuk sementara petugas gabungan menutup akses ke jalan tersebut.
Ketegangan pun mulai terjadi. Aksi desakan penuntasan kasus penganiayaan dan pembacokan terhadap dua anggota PSHT oleh oknum diduga DC di kawasan Tegalsari, Surabaya yang mulanya berlangsung damai berubah mencekam.
Petugas gabungan dari TNI dan Polri memblokade akses masuk menuju Jalan Teuku Umar dari arah Jalan Kartini, Jalan Pandegiling, hingga Jalan Cokroaminoto menggunakan water barrier. Para petugas itu juga tampak mulai mengenakan tameng pengaman untuk menghalau massa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petugas mengimbau agar massa membuang niat untuk menerobos dan segera membubarkan diri secara tertib karena agenda aksi di Polrestabes telah usai.
"Kegiatan sudah selesai di Polrestabes. Ayo jalan, kita damai, kembali-kembali. Silakan kembali ke rumah masing-masing," kata petugas menyampaikan imbauan kepada massa melalui pengeras suara.
Namun, imbauan itu diabaikan. Massa yang mengenakan atribut silat dan membawa bendera serta kayu justru terus memaksa masuk sambil membleyer-bleyer suara knalpot sepeda motor.
Selama kurang lebih 10 menit, massa mencoba merangsek barikade dari arah Jalan Kartini dan Jalan Cokroaminoto. Aksi saling dorong tak terhindarkan hingga sebagian massa mulai melempar batu, botol minuman, dan kayu ke arah barisan petugas pengamanan.
Akibat pelemparan tersebut, beberapa petugas di lapangan dilaporkan terkena lemparan benda keras.
Sebelumnya, massa aksi menggelar demo di Polrestabes Surabaya sejak sekitar pukul 14.16 WIB. Mereka konvoi naik motor, mobil, dipimpin satu mobil komando. Berbusana serba hitam lengkap dengan lambang organisasi, massa sempat merapatkan barisan dan menyanyikan Hymne SH Terate di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian.
Dari atas mobil komando, orator menekankan bahwa kehadiran mereka mengusung misi damai dan menentang segala bentuk aksi premanisme di Kota Pahlawan.
"PSHT cinta damai, ini adalah aksi damai, kita buktikan gerakan arus bawah solid dan cinta damai. Kita tidak ingin ada aksi premanisme berkedok DC (debt collector) dan anarkis di Surabaya," seru orator di lokasi.
Aksi ini merupakan bagian dari rangkaian unjuk rasa yang ditujukan ke dua lokasi, yakni Mapolrestabes Surabaya dan markas kelompok debt collector Maluku 1 Rasa (M1R) di Jalan Teuku Umar, Tegalsari.
Sebelumnya, Kasatintelkam Polrestabes Surabaya Kompol Awaludin Wijaya menyampaikan pihaknya telah menerima surat pemberitahuan aksi dan siap memfasilitasi ruang dialog.
"Terkait rencana aksi tersebut, surat pemberitahuannya memang sudah masuk dan sudah kami terima. Tentu akan kami mediasi atau kami fasilitasi untuk audiensi," ujar Awaludin.
Dampak dari pergerakan massa dan penutupan jalan di sejumlah titik pusat kota membuat arus lalu lintas tersendat cukup parah. Kendaraan dari arah utara Polrestabes dialihkan menuju kawasan Kembang Jepun, sementara jalur menuju Tegalsari ditutup total.
Kasat Lantas Polrestabes Surabaya AKBP Galih Bayu Raditya meminta masyarakat pengendara untuk bersabar dan menggunakan jalur alternatif selama pengamanan berlangsung.
"Kami meminta kerja sama dari seluruh masyarakat pengendara untuk tetap tertib dan sabar di jalan. Demi kelancaran bersama, mohon ikuti petunjuk serta pengalihan arus yang diarahkan oleh petugas kami di lapangan," pungkasnya.
