Lulusan Ners Jatim Didorong Siap Kerja di Luar Negeri

Lulusan Ners Jatim Didorong Siap Kerja di Luar Negeri

Tim detikJatim - detikJatim
Rabu, 29 Jul 2026 15:32 WIB
Pelantikan pengurus baru AIPNI Jatim
Pelantikan pengurus baru AIPNI Jatim/Foto: Istimewa
Surabaya -

Perguruan tinggi di Jawa Timur didorong untuk menyiapkan lulusan ners yang siap bekerja di luar negeri, seiring masih terbukanya peluang kerja tenaga perawat di berbagai negara. Penguatan kurikulum berstandar internasional, kemampuan bahasa asing, hingga kolaborasi dengan institusi luar negeri dinilai menjadi kunci agar lulusan mampu bersaing di pasar kerja global.

Dorongan tersebut mengemuka dalam pelantikan pengurus dan rapat kerja periode 2026-2030 Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) Regional IX Jawa Timur di Surabaya, Rabu (29/7/2026). Selain meningkatkan kualitas pendidikan, forum tersebut juga menekankan pentingnya menyiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan tenaga kesehatan, baik di dalam maupun luar negeri.

Forum ini menjadi momentum memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) untuk meningkatkan mutu pendidikan ners agar mampu memenuhi kebutuhan layanan kesehatan nasional hingga pasar kerja internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengusung tema "Bersinergi dalam Harmoni, Bergerak Bersama, Berdampak Nyata bagi Kesehatan Masyarakat Indonesia", kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Dr Erwin Astha Triyono, yang mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

ADVERTISEMENT

Erwin mengapresiasi pelantikan dan rapat kerja pengurus AIPNI Regional IX Jawa Timur. Menurutnya, kepengurusan baru diharapkan mampu memperkuat kolaborasi dalam mencetak tenaga keperawatan yang berkualitas dan adaptif terhadap perkembangan teknologi kesehatan.

"Kami memberikan apresiasi atas pelantikan dan rapat kerja Pengurus AIPNI Regional IX Jawa Timur. Semoga pengurus yang baru dapat mengemban amanah dengan baik dan terus berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Tugas kita hari ini adalah bagaimana mencetak tenaga kesehatan, khususnya perawat, yang bermutu, excellent, dan mampu mengimbangi dinamika perkembangan teknologi kesehatan, termasuk yang berbasis artificial intelligence (AI)," ujarnya.

Erwin menilai tantangan penyediaan tenaga perawat saat ini tidak lagi sekadar memenuhi jumlah lulusan, melainkan memastikan kualitas pendidikan dan pemerataan distribusi tenaga kesehatan di seluruh daerah.

"Pada prinsipnya, kekurangan tenaga perawat itu sifatnya relatif. Tugas kami bersama Kementerian Kesehatan adalah menata agar produksi lulusan sesuai kebutuhan, kemudian memastikan mutunya baik dan distribusinya merata. Jangan sampai tenaga perawat hanya berkumpul di kota-kota besar, sementara daerah terpencil yang sangat membutuhkan justru kekurangan," katanya.

Ia menyebut Jawa Timur saat ini memiliki sekitar 70 ribu perawat dan secara umum jumlah tersebut relatif mencukupi. Meski demikian, peningkatan kompetensi tetap harus dilakukan secara berkelanjutan agar tenaga kesehatan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Saya tidak mengatakan perawat sekarang belum baik, justru mereka sudah baik. Namun mereka tidak boleh berhenti belajar. Baik dokter, perawat, bidan, maupun apoteker semuanya harus terusmeng-update keilmuan. Kuncinya adalah memberikan akses terhadap pendidikan berkelanjutan agarkompetensinya terus meningkat," ujarnya.

Sementara itu, Ketua LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., berharap AIPNI menjadi motor penggerak peningkatan mutu pendidikan keperawatan di Jawa Timur sekaligus memperkuat daya saing lulusan di tingkat internasional.

"Kami bersyukur AIPNI Regional IX Jawa Timur dapat menyelenggarakan pelantikan dan rapat kerja ini. Kami berharap AIPNI menjadi agen perubahan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan keperawatan yang bermutu," katanya.

Menurut Dyah, peluang kerja bagi perawat akan semakin terbuka apabila perguruan tinggi mampu membangun kolaborasi internasional dan menyusun kurikulum yang sesuai dengan standar global tanpa meninggalkan keunggulan lokal.

"Profesi keperawatan akan menjadi peluang dan kekuatan baru apabila kita mampu membangun kolaborasi internasional. Karena itu, kami berharap kurikulum disusun dengan standar internasional, namun tetap mengedepankan keunggulan dan karakter lokal," ujarnya.

Ia menambahkan, penyusunan kurikulum juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan negara tujuan penempatan lulusan, termasuk memperkuat kemampuan bahasa asing.

"Kalau tujuan kerja sama kita ke Jepang, Taiwan, China, Jerman, atau Belanda, maka kurikulum harus disesuaikan dengan kebutuhan negara tujuan, termasuk pembelajaran bahasa. Harapannya, ketika lulus mereka sudah siap bekerja di negara tujuan tanpa harus mengikuti pelatihan tambahan," tuturnya.

Selain itu, Dyah mengajak perguruan tinggi memperluas akses beasiswa bagi mahasiswa agar semakin banyak sumber daya manusia unggul yang lahir dari sektor pendidikan kesehatan.

"Kami mengajak seluruh perguruan tinggi memberikan beasiswa atau keringanan biaya pendidikan bagi mahasiswa yang membutuhkan agar semakin banyak SDM unggul yang dapat lahir," katanya.

Di sisi lain, Ketua AIPNI Regional IX Jawa Timur, Prof. Dr. M. Hasinuddin, S.Kep., Ns., M.Kep., mengatakan salah satu fokus kepengurusan periode 2026-2030 adalah mempercepat internasionalisasi pendidikan keperawatan. Saat ini, dari 62 perguruan tinggi anggota AIPNI Regional IX Jawa Timur, baru sekitar 10 persen yang menerapkan kurikulum berstandar internasional.

"Ke depan kami akan terus mendorong agar semakin banyak institusi yang mengadopsi kurikulum internasional," ujarnya.

Menurut Hasinuddin, kemampuan bahasa asing masih menjadi tantangan utama dalam menyiapkan lulusan yang mampu bersaing di pasar kerja global.

"Tantangan utama adalah kemampuan bahasa. Karena itu kami berupaya membangun budaya berbahasa di lingkungan pendidikan agar lulusan lebih siap bersaing dan lebih mudah memperoleh pekerjaan di luar negeri," katanya.

Meski demikian, ia menegaskan kompetensi perawat Indonesia telah diakui di berbagai negara sehingga peningkatan kemampuan bahasa dan kesiapan internasional menjadi fokus utama ke depan.

"Kompetensi dan keterampilan perawat Indonesia diakui dan mampu bersaing dengan lulusan dari berbagai negara. Tinggal bagaimana kemampuan bahasa dan kesiapan internasionalnya terus ditingkatkan," ujarnya.

Hasinuddin menambahkan peluang kerja lulusan ners di luar negeri masih terbuka lebar, termasuk di kawasan Timur Tengah.

"Kami terus mendorong perguruan tinggi untuk mengantarkan lulusannya bekerja di luar negeri. Peluangnya masih sangat besar, termasuk di Arab Saudi. Jumlah lulusan relatif sudah cukup, tetapi kami akan terus meningkatkan kualitasnya agar mampu memenuhi kebutuhan di dalam maupun luar negeri," tandasnya.



(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads